Meneladani Kerendahan Hati Rasulullah di Tengah Budaya Pamer Status
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Langkah meneladani kerendahan hati Rasulullah hadir sebagai pengingat tajam bagi siapa saja yang terbiasa membanggakan kedudukan sosial. Nabi Muhammad SAW membuktikan bahwa wibawa sejati tidak lahir dari sekat jabatan, melainkan dari ketulusan saat menghargai sesama manusia.
Suasana hening menyelimuti saf jamaah salat Jumat di Semarang pada Jumat (21/8/2026). Dari atas mimbar, Drs. H. Nurbini, MSI mengajak para hadirin memeriksa kembali makna cinta kepada sang Nabi agar tidak berhenti sebatas seruan di lisan.
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang sekaligus Dosen Fakultas Dakwah UIN Walisongo Semarang itu menegaskan pentingnya pembuktian nyata.
“Cinta bukan hanya ucapan di bibir. Cinta harus dibuktikan dengan ketaatan dan keteladanan,” kata Nurbini di depan para jamaah yang menyimak dengan saksama.
Rangkulan Hangat bagi Jiwa yang Gentar
Nurbini lalu mengisahkan peristiwa saat seorang pria mendadak menggigil ketakutan ketika menghadap Nabi Muhammad SAW. Alih-alih menunjukkan jarak kuasa, Rasulullah justru menyambut pria tersebut dengan kelembutan yang seketika menenangkan batinnya.
Pria itu terperangah saat mendengar pengakuan sang Nabi yang begitu membumi. “Tenangkan dirimu. Aku bukan seorang raja. Aku hanyalah anak seorang wanita Quraisy yang biasa makan daging kering,” tutur Rasulullah sebagaimana dikutip Nurbini dari hadis riwayat Ibnu Majah. Dialog bersahaja ini memperlihatkan akhlak Rasulullah yang menyentuh hati bagi masyarakat biasa.
Belajar Memaafkan dan Menghidupkan Sunnah
Kelembutan sikap tersebut selaras dengan catatan kisah keteladanan Nabi Muhammad kala menghadapi penolakan keras di Thaif. Kendati tubuhnya berdarah akibat lemparan batu, sang Nabi menolak membalas perlakuan buruk tersebut dan justru mendoakan kebaikan bagi keturunan mereka.
Karena itu, Nurbini mendorong jamaah membumikan sunnah nabi sehari hari lewat langkah konkret di lingkungan masing-masing. Ia memaparkan contoh kebiasaan sederhana seperti bertutur jujur, menjaga amanah pekerjaan, menebarkan salam, hingga menyapa orang lain dengan senyum tulus.
Pertanyaan Reflektif dari Atas Mimbar
Sebelum mengakhiri khutbahnya, akademisi dakwah ini melontarkan pertanyaan tajam untuk menguji ketulusan iman para hadirin. “Jika Rasulullah SAW adalah orang yang paling kita cintai, sudahkah akhlak beliau terlihat dalam ucapan, keluarga, pekerjaan, dan kehidupan kita sehari-hari?” ucapnya lugas.
Pada akhirnya, langkah meneladani kerendahan hati Rasulullah semestinya terlihat nyata dari cara kita memperlakukan keluarga dan rekan kerja. Sikap santun serta kerelaan menanggalkan kesombongan inilah yang menjadi bukti cinta paling murni kepada sang teladan agung.