Mengenang Ahmad Suroto: Tokoh Muhammadiyah Semarang & Teladan Warga Mangkang
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Warga Mangkang Wetan baru saja kehilangan salah satu figur terbaiknya. Ahmad Suroto, seorang Tokoh Muhammadiyah Semarang, berpulang pada Jumat (31/7/2026) di usia 67 tahun. Di balik sikap disiplinnya sehari-hari, ia meninggalkan kenangan mendalam sebagai bapak yang selalu tulus mengayomi dan membantu masyarakat sekitar tanpa pandang bulu.
Di sudut wilayah Mangkang yang tenang, denyut kehidupan masyarakat sering kali berjalan dalam ritme yang sederhana. Namun, di balik kesederhanaan itu, tertanam sebuah filosofi hidup orang Jawa yang kental dan tidak lekang oleh waktu. Filosofi ini tidak sekadar menjadi pepatah usang, melainkan napas pergerakan Ahmad Suroto Mangkang. Ia menyatukan harmoni tradisi leluhur dengan ketegasan prinsip agama.
Sepintas, perawakannya menyiratkan ketegasan yang tidak mudah dibantah oleh siapa pun. Kedisiplinan membalut setiap langkahnya, sering kali memberikan kesan keras pada pandangan pertama. Namun, di balik dinding ketegasan tersebut, mengalir kepedulian sosial yang sangat dalam.
Sebagai Tokoh Muhammadiyah Semarang dan Anggota Pleno Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tugu Muktamar ke 48, amanah struktural yang diembannya sama sekali tidak membuat beliau berjarak dengan warga di akar rumput.
Merawat Kehidupan Lewat Dakwah Kultural Islam
Dr. H. AM. Jumai, S.E., M.M., Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang, merekam jelas dedikasi almarhum selama puluhan tahun. Keterlibatan Ahmad Suroto dalam persyarikatan bukanlah hal baru; jejaknya telah membekas sejak masa-masa awal pembinaan di Ikatan Remaja Muhammadiyah.
“Bagi saya, Almarhum Bapak Ahmad Suroto adalah sosok pejuang dakwah Muhammadiyah yang mengabdikan hidupnya dengan penuh keikhlasan,” kenang Dr. Jumai. Ia juga mengingat betul bagaimana almarhum selalu hadir di garda terdepan untuk memberikan dukungan kepada generasi muda, termasuk saat Pemuda Muhammadiyah menyelenggarakan Pentas Wayang di kompleks Muhammadiyah Mangkang.
Perjuangan almarhum selalu menyentuh langsung denyut nadi masyarakat luas. “Beliau bukan hanya bergerak dalam dakwah struktural melalui organisasi, tetapi juga membangun dakwah kultural Islam yang mampu diterima dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Mangkang,” tambah Dr. Jumai. Masyarakat minoritas di wilayah tersebut perlahan merasakan kehangatan dari kehadiran sang tokoh pencerah.
Tiga pilar utama secara konsisten ia jadikan pedoman hidup: ngayomi, ngayemi, dan ngugemi. Prinsip ngayomi ia terjemahkan dengan menjadi tempat perlindungan bagi jamaah. Ngayemi diwujudkannya melalui kepedulian sosial seperti pelayanan kesehatan gratis dan aksi kemanusiaan lainnya. Sementara ngugemi menuntut komitmen baja untuk teguh menjaga gerakan dakwah dan menjunjung tinggi ketaatan terhadap aturan organisasi.
Jejak Bisu Tokoh Muhammadiyah Semarang
Keteladanan sang ayah juga mengalir deras dalam caranya mendidik putra-putrinya di rumah. Ia menanamkan visi besar agar anak-anaknya tumbuh menjadi kader yang berilmu dan memiliki loyalitas tinggi pada persyarikatan. Cita-citanya untuk menyekolahkan sang putra ke Fakultas Kedokteran demi melayani umat kini diteruskan melalui ikhtiar sang anak di program studi Teknologi Laboratorium Medis.
Dedikasi nyatanya tidak berhenti pada keluarga. SMP Muhammadiyah 9 Semarang dan Masjid Fiqh Al Muhajirin Mangkang kini berdiri kokoh sebagai saksi bisu atas langkah panjangnya bersama para tokoh lain. Bangunan-bangunan itu merekam ribuan tetes keringat dan waktu yang ia korbankan demi melahirkan semangat ukhuwah bagi generasi berikutnya.
Kepergian Ahmad Suroto Mangkang bukanlah akhir dari sebuah cerita, melainkan awal dari ujian bagi generasi penerus. Warisan terbesarnya bukanlah harta benda, melainkan pengorbanan tanpa pamrih dan filosofi hidup orang Jawa yang diintegrasikan secara indah dengan dakwah kultural Islam. Kini, tugas kita adalah merawat jejak sunyi sang Tokoh Muhammadiyah Semarang ini agar terus hidup dan membuktikan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.