Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Kisah Kursi Kosong di Masjid At Taqwa dan Jalan Sunyi Dakwah Mbah Salim

11 Agustus 2026, 10:07 WIB • 5 menit baca
Sosok KH. Salim Abdur Rozaq mengenakan peci hitam dan kemeja batik, duduk memegang tongkat di area halaman Masjid At Taqwa Ngaliyan dengan latar belakang jemaah perempuan.
ISTIKAMAH HINGGA SENJA: Potret kenangan almarhum KH. Salim Abdur Rosyid (Mbah Salim) saat menghadiri Shalat Iedul Adha tahun 2025 di Masjid At Taqwa Ngaliyan, Wates, Kota Semarang. Mantan Ketua PCM Ngaliyan periode 2000-2010 ini dikenal sebagai sosok penggerak yang konsisten mengawal dakwah persyarikatan meski dengan keterbatasan fisik di usia senjanya. (Foto: Dok. Masjid)

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Ada yang hilang di sudut Masjid At Taqwa Ngaliyan, Wates pada hari-hari mendatang. Sebuah kursi tempat seorang pria sepuh biasa duduk terdiam, mendengarkan khotbah dan rapat persyarikatan dengan saksama, kini tak lagi bertuan. Langit Tugurejo, Kota Semarang, seakan ikut menahan napas pada Sabtu (8/8/2026), mengiringi kepergian sosok panutan yang tak pernah meminta panggung.

KH. Salim Abdur Rosyid, tokoh Muhammadiyah Ngaliyan yang telah memahat sejarah panjang dakwah Islam di barat Semarang, berpulang ke Rahmatullah pada usia 74 tahun. Bagi keluarga besar Muhammadiyah Semarang, khususnya di Ngaliyan, kepergian sosok yang akrab disapa Mbah Salim ini bukan sekadar kehilangan figur tetua, melainkan berpulangnya sang “malaikat penolong” umat.

Era Transisi dan Dakwah yang Sunyi

Dedikasi Mbah Salim bagi Muhammadiyah terukir kuat sejak dekade 90-an, sebuah fase krusial saat terjadinya pemekaran Kecamatan Tugu menjadi Tugu dan Ngaliyan. Di masa-masa transisi yang penuh keterbatasan itu, ia hadir sebagai mesin penggerak persyarikatan.

Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngaliyan Periode 47 (tahun 2016-2023), H. Anas Hamzah, mengenang bagaimana almarhum selalu bergerak di garis depan, mendampingi pimpinan PCM Hifni Syadzali, adik Menteri Agama Munawir Syadzali saat itu . Ke mana pun dakwah menyeru, mereka selalu berdampingan.

Heroisme dakwah itu mengantarkan KH. Salim Abdur Rosyid mendapat amanah sebagai Ketua PCM Ngaliyan selama dua periode berturut-turut (tahun 2000-2010). Meski memegang pucuk pimpinan, gayanya tak pernah berubah: bekerja dalam senyap.

“Beliau memajukan Muhammadiyah tanpa banyak bicara. Hibahnya untuk persyarikatan luar biasa,” ungkap H. Anas Hamzah.

Bukti nyata dedikasi itu terlihat saat Masjid At Taqwa Ngaliyan, Wates pertama kali berdiri. Pada bulan puasa perdana, Mbah Salim rela tinggal di rumah wakaf PCM samping masjid yang baru direnovasi demi memastikan masjid hidup dengan kegiatan ibadah selama sebulan penuh.

Semangat perjuangan ini diamini oleh KH. Asep Jauharuddin, Sesepuh Muhammadiyah Wonosari Mangkang. “Sosok Abah Salim AR bagi kawula muda angkatan 90 sangat menjadi pemacu dan motivator. Beliau adalah motorik luar biasa, malaikat penolong dalam hal sarana. Bahasa Jawanya ‘purun torok’ atau ‘purun tombok’ (rela berkorban harta), mau mengeluarkan apa yang ada untuk kegiatan persyarikatan,” tegasnya saat muhammadiyahsemarangkota.org temui di sela-sela takziah , Sabtu (8/8/2026).

Menjaga Agama Lewat Aksi, Meneladankan Keikhlasan

Mbah Salim tidak banyak berteori, ia mendidik lewat perbuatan. Dr. Karnadi Hasan, Ketua PCM Ngaliyan saat ini, menyoroti betapa kuatnya komitmen almarhum dalam menjaga agama (lihifdiddin). Meski secara administratif tinggal di Tugurejo, detak jantung dakwah Abah Salim selalu beresonansi di Ngaliyan.

“Beliau adalah seorang aktivis pendakwah sekalipun bukan mubaligh, ditunjukkan dengan aksi sehari-hari,” tutur Dr. Karnadi.

Kedisiplinan itu tampak dari rutinitasnya menjaga salat jemaah setiap hari. “Ketika Jumat tiba, beliau selalu ‘online’. Sebelum pelaksanaan salat Jumat dihelat, beliau sudah berada di masjid.”

Lebih dari sekadar waktu dan tenaga, Abah Salim membuktikan keikhlasan puncaknya dengan mewakafkan sebidang tanah di Kecamatan Mijen kepada Muhammadiyah. “Beliau berpesan untuk dijadikan sebagai makbarah (pemakaman). Ini titipan yang akan kami tindak lanjuti bersama ahli waris agar cita-cita beliau terwujud,” tambah Dr. Karnadi.

Sementara itu, bagi Pengasuh Pondok Pesantren Darus Syukur, Prof. Dr. KH. Suparman Syukur, figur seperti KH. Salim Abdur Rosyid adalah intan permata di akar rumput. Ia menyoroti betapa mahalnya nilai keteladanan ibadah (ta’abud) dan keikhlasan di tingkat cabang dan ranting.

“Kalau di PDM, PWM, atau Pusat itu karuan, fasilitasnya ada. Tapi kalau di Cabang dan Ranting, hanya keikhlasan yang ada. Bapak almarhum Salim adalah percontohan nyata keikhlasan itu,” papar tokoh pencetus Lembaga Pengembangan Pondok Pesantren Muhammadiyah itu dengan penuh haru.

Alih-alih beristirahat di masa tua, Mbah Salim justru terus merangkul generasi penerus. “Sampai tua pun beliau tetap mengikuti, membina, dan ngayomi kader-kader yang masih muda. Kadangkala setelah tua, orang malah menghindar atau ngumpet. Tapi beliau tidak, sampai akhir hayatnya terus berjuang,” kenangnya.

Prof. Suparman pun masih mengingat jelas momen perjumpaan terakhirnya dengan almarhum tokoh Muhammadiyah Ngaliyan itu saat peresmian gedung TK ABA 31 Ngaliyan.

Puncak Keistikamahan: Mengawal Umat dengan Segala Keterbatasan

Di penghujung usianya, ketika raganya tak lagi sekuat dulu, nyala api istikamah itu justru berpendar makin terang. Prof. Dr. Ahwan Fanani, M.Ag., Ketua Takmir Masjid At Taqwa Ngaliyan, menjadi saksi keteguhan hati pria yang ia sebut memiliki kepercayaan diri tinggi, pionir, dan sangat konsisten tersebut.

Bayangkan, di usia yang telah senja dengan langkah kaki yang sudah teramat berat, Mbah Salim pantang absen pada ibadah salat Jumat dan rutinitas senam Ahad pagi di pekan pertama.

Ia terkadang datang ditemani sang istri tercinta atau diantar oleh sopirnya. Bahkan dengan keteguhan hatinya kerap ia menyetir mobilnya sendiri dari rumahnya di Tugurejo ke Wates, Ngaliyan yang berjarak lebih dari 10 kilometer.

“Meskipun tidak berbicara, tapi kehadirannya kita rasakan. Setiap Jumat ada di pojok, duduk di kursi, mendengarkan ceramah dan rapat kegiatan sampai selesai. Beliau sakit juga setelah menjalankan salat Jumat (terakhirnya),” kisah Prof. Ahwan.

Semangat luar biasa itu adalah potret cinta tanpa pamrih kepada persyarikatan. “Ini menunjukkan bahwa beliau benar-benar mengawal kita semua dengan segala keterbatasan. Mencari tokoh dengan keyakinan, istikamah, dan konsistensi semangat seperti Mbah Salim ini tidaklah mudah,” pungkasnya lirih.

Kini, tugas KH. Salim Abdur Rosyid di dunia telah purna. Tanah yang ia wakafkan, masjid yang ia makmurkan, dan kader-kader muda yang ia besarkan akan menjadi amal jariyah yang tak akan pernah putus.

Keluarga besar persyarikatan melepas kepulangan sang tokoh Muhammadiyah Ngaliyan dengan rida, berharap jejak kesunyian dakwahnya yang selalu purun tombok akan terus riuh menginspirasi generasi penerus.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu. Selamat jalan, Mbah Salim.

Kontributor: Tim MPI PDM
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: