Panggung MTQ Nasional Selesai, MUI Jawa Tengah Berpesan Cahaya Al-Qur’an Tak Boleh Padam
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Pembongkaran panggung utama di Simpang Lima Semarang menandai berakhirnya perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-31 di Jawa Tengah. Kendati demikian, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah menegaskan bahwa gerakan mencintai Al-Qur’an justru baru saja dimulai dari tempat ibadah hingga ke rumah-rumah.
Ketua MUI Jawa Tengah, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, M.A., menilai kepemimpinan daerah dalam mengawal ajang nasional ini berjalan sangat sukses. Oleh karena itu, masyarakat patut bersyukur atas tuntasnya kepercayaan besar setelah menunggu hampir setengah abad sejak tahun 1979.
“Jateng menjadi tuan rumah dan mampu menjalankan serta menuntaskan dengan baik dan fenomenal. Ini sangat luar biasa,” kata Noor Achmad saat memberikan keterangan resmi kepada wartawan Muhammadiyah Kota Semarang.
Bahkan, pengurus MUI Jawa Tengah melihat manfaat perhelatan ini jauh melampaui besarnya anggaran penyelenggaraan. Sebab, kehadiran ribuan peserta dari seluruh penjuru Nusantara tidak hanya menggerakkan ekonomi lokal, tetapi juga menyirami jiwa masyarakat dengan nilai-nilai suci.
“Kalau dibandingkan dengan manfaatnya, sangat besar. Ini belum sebanding jauh dengan manfaatnya, karena Al-Qur’an mampu menyinari Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, bahkan dunia,” ujar Noor Achmad menegaskan.
Bergerak Sejak Mimbar Jumat Hingga Denyut Ekonomi UMKM
Sebelum sorot lampu panggung menyala, MUI Jawa Tengah sudah menggerakkan dukungan masyarakat melalui mimbar masjid. Pengurus mengimbau para khatib agar menyelipkan pesan MTQ dalam khutbah Jumat, sehingga informasi ajang mulia ini meresap hingga ke lapisan bawah.
Alhasil, gaung keagamaan ini berubah menjadi percakapan hangat warga di sekolah, pesantren, hingga sudut kota. Pada saat bersamaan, arus kedatangan kafilah turut menggerakkan sektor perhotelan, transportasi, kuliner, serta usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Kota Semarang.
Bahkan, penambahan cabang lomba baru dalam ajang MTQ kali ini sukses melahirkan generasi penghafal dan pembaca Al-Qur’an berbakat. Selanjutnya, para juara baru ini siap membawa nama harum Indonesia di panggung keagamaan internasional.
“Dengan bertambahnya nomor-nomor yang dilombakan, telah memunculkan juara-juara baru yang akan turun di tingkat internasional,” tutur Noor Achmad penuh optimisme.
Menjaga Semangat Al-Qur’an Agar Tetap Nyala di Rumah Warga
Kini, kepulangan para kafilah ke daerah asal tidak boleh menyurutkan gairah membaca dan mengamalkan kitab suci. Oleh sebab itu, MUI Jawa Tengah mendorong pondok pesantren dan pengurus wilayah untuk terus melanjutkan pembinaan generasi Qur’ani secara konsisten.
Sejak dari tingkat kecamatan hingga provinsi, masyarakat perlu memelihara kebiasaan membuka mushaf dan mendalami isi kandungannya. Langkah ini penting agar kemenangan MTQ tidak berhenti pada lembaran piagam atau piala bergilir semata.
“Dari aspek peningkatan Al-Qur’an jelas ada dan banyak sekali. Akan terjadi pergerakan semangat mempelajari Al-Qur’an untuk menjadi yang terbaik, mulai dari tingkat kecamatan sampai provinsi,” ujar Noor Achmad.
Pada akhirnya, keberhasilan sejati dari ajang besar ini tercermin pada perubahan perilaku masyarakat sehari-hari. Cahaya Al-Qur’an akan terus menerangi Jawa Tengah dan membimbing bangsa menuju masa depan yang lebih bermartabat.