Tak Cuma Buat Ibadah, Begini Peran Masjid di Era Modern Untuk Jamaah
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Banyak orang masih menganggap rumah ibadah sekadar tempat rutinitas ritual semata. Namun, mematahkan anggapan usang tersebut, puluhan warga Candisari membuktikan wujud nyata peran masjid di era modern. Mereka sukses menyulap ruang sakral ini menjadi pusat interaksi dan edukasi yang hangat bagi umat.
Transformasi fungsi rumah ibadah ini terlihat jelas melalui inisiatif Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Candisari 2. Organisasi ini menggelar kegiatan Pengajian Ahad Pagi pada Ahad, 9 Agustus 2026. Acara edukatif tersebut berlangsung secara interaktif di Masjid Mujahiddin, Candisari, Semarang.
Membangun Ruang Edukasi Melalui Manajemen Masjid
Mengubah kebiasaan lama jamaah tentu membutuhkan tata kelola yang tangguh. Melalui penerapan manajemen masjid yang inklusif, pengurus berupaya menghadirkan kajian yang relevan dengan kebutuhan harian umat. Langkah cerdas ini efektif membuat sekitar 60 jamaah lintas usia betah bertahan di dalam masjid selepas sholat Subuh.
Pagi itu, pengurus mengundang Dr. Shakir Jamaluddin, M.A., seorang pakar Ilmu Hadis dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Ia mengajak para hadirin membongkar ulang tata cara ibadah harian yang sering umat lakukan secara otomatis. Sang ahli memberikan materi secara lugas sekaligus mempraktikkan langsung ragam gerakan sesuai sunnah.
Menilik kebiasaan umat selama ini, sang pakar melempar sebuah pertanyaan mendasar untuk bahan renungan bersama. “Pertanyaan penting bagi kita adalah: apakah sholat yang sudah kita laksanakan selama ini sudah benar-benar sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah?” tegas Dr. Shakir di hadapan puluhan jamaah.
Menjawab Kebutuhan Umat Lewat Dakwah Jamaah
Menyadari pentingnya keabsahan amal, ia kembali mengingatkan jamaah mengenai kedudukan ibadah tersebut kelak di akhirat. “Karena sholat adalah amalan pertama yang akan dihisab di hari kiamat, maka kita harus bersungguh-sungguh menjaganya dari sisi kualitas, kekhusyukan, dan kesesuaian dengan tuntunan,” tambahnya.
Penjelasan mendalam tersebut sontak memantik rasa ingin tahu hadirin untuk mencocokkan kebiasaan mereka sendiri. Banyak jamaah tanpa ragu menanyakan detail gerakan sujud dan rukuk mereka saat sesi diskusi terbuka mulai berjalan. Interaksi dua arah yang hidup ini membuktikan efektivitas strategi dakwah jamaah dalam merangkul masyarakat awam.
Inovasi Kegiatan PCM Muhammadiyah yang Progresif
Melihat antusiasme warga yang tinggi, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Candisari 2, Dr. Abdul Kohar Mudzakir, SPi, MSi, merasa sangat bersyukur. Ia memandang kegiatan interaktif ini sebagai tonggak penting dalam menghidupkan kembali fungsi sosial rumah ibadah. “Kami ingin menjadikan masjid bukan hanya tempat sholat, tapi juga pusat ilmu,” ujar Dr. Abdul Kohar.
Lebih jauh lagi, ia memproyeksikan kajian santai bersama pakar ini sebagai motor penggerak peradaban umat. “Dengan menghadirkan ahli di bidangnya, harapannya jamaah semakin semangat memperbaiki ibadah dan mengamalkan Islam yang berkemajuan,” imbuhnya.
Menutup rangkaian majelis ilmu tersebut, seluruh jamaah berbaur menyantap sarapan pagi bersama sambil merajut ukhuwah. Kehangatan organik seperti inilah yang memastikan kegiatan PCM Muhammadiyah tidak pernah sepi peminat. Pada akhirnya, inovasi yang menjawab keresahan umat adalah kunci utama mempertahankan relevansi tempat ibadah di tengah perubahan zaman.