Lawan Nafsu di Ring Kehidupan: Strategi Ini Siapkan Mental Hadapi Bulan Puasa
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Suara lantunan tahmid dan tahlil mendadak memenuhi Sasana Boxing Sutan Rambing, Kampung Lasipin, Ahad pagi (1/2/2026). Buktinya, Dr. H. AM Jumai kembali menggebrak dengan membawa misi dakwah ke ruang yang kerap luput dari perhatian. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa iman tidak memerlukan panggung megah untuk menyentuh hati rakyat jelata.
Tokoh inovatif ini sengaja memilih lokasi yang pernah melahirkan juara dunia Chris John tersebut sebagai pusat syiar. Pasalnya, ia ingin menunjukkan bahwa dakwah harus hadir di tengah denyut kehidupan masyarakat paling bawah. Alhasil, ratusan jamaah dari berbagai lapisan sosial duduk sejajar tanpa sekat untuk menjemput datangnya bulan suci.
Ring Tinju Menjadi Saksi Persiapan Batin
Selanjutnya, pengajian komunitas ini menghadirkan Ustadz Dr. H. Iskandar Chang I Pao sebagai pembicara utama. Ternyata, sosok Ketua PITI Jawa Tengah ini memberikan pesan mendalam tentang pentingnya kesadaran menyambut tamu agung. Pria inspiratif ini mengingatkan agar Ramadhan tidak berlalu sebagai rutinitas hampa yang melelahkan fisik saja.
Mengenai persiapan mental, sang pendakwah memberikan penekanan khusus kepada jamaah yang hadir.
“Orang yang bahagia beribadah akan ditenangkan hidupnya dan dicukupkan rezekinya. Dari kegembiraan itulah ibadah menemukan nyawanya,” ujar Iskandar Chang dengan penuh ketenangan.
Selain itu, ia mengajak para jamaah untuk menata batin agar ibadah memiliki arah yang jelas. Sosok ahli ilmu ini memandang bahwa kegembiraan menyambut puasa harus bersumber dari hati yang cerah dan ikhlas.
Empat Pilar Utama Agar Puasa Tak Sekadar Lapar
Menariknya, Iskandar Chang menguraikan empat bekal strategis untuk menghadapi bulan suci mendatang. Buktinya, persiapan fisik, ilmu, finansial, dan kesehatan sosial menjadi kunci utama agar puasa berjalan berkualitas. Ia meminta jamaah untuk merencanakan keuangan dengan baik agar tidak terjebak dalam nafsu konsumsi yang berlebihan.
Terkait interaksi dengan kitab suci, narasumber ini memberikan pesan yang sangat membumi.
“Moco Qur’an sak maknane agar ayat-ayat tidak berhenti di bibir, tetapi turun ke sikap dan perilaku sehari-hari,” tambah tokoh dakwah tersebut kepada jamaah.
Dampaknya, jamaah mendapatkan perspektif baru bahwa kedermawanan harus dimulai dari keluarga terdekat. Persiapan ilmu yang matang juga akan menjadi kompas agar setiap aktivitas ibadah tetap berada pada jalur yang benar.
Filosofi Padi: Semakin Beriman Semakin Merunduk
Kemudian, acara ini juga menjadi ajang silaturahmi lintas ormas dan pejabat publik yang duduk bersama warga. Ternyata, kehadiran Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Moedal hingga perwakilan Nahdlatul Ulama menambah suasana semakin hangat. Sejauh ini, kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa empati sosial adalah wujud nyata dari puasa yang hidup.
Tokoh dakwah ini menutup ceramahnya dengan perumpamaan yang sangat menyentuh hati.
“Ibarat padi, semakin berisi iman seseorang, semakin ia merunduk dan memberi manfaat bagi sesama di sekitarnya,” pungkas Iskandar Chang menutup sesi pengajian.
Akhirnya, dakwah di sasana tinju Karangturi ini mengirim pesan kuat bahwa perubahan besar bermula dari keberanian hadir di tengah umat. Sejatinya, Ramadhan yang sukses akan membekas dan memakmurkan kehidupan bahkan setelah bulan suci itu berlalu.