Pesan Mendikdasmen Abdul Mu’ti: Bela Diri Itu Menjaga Akhlakulkarimah
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Di tengah cepatnya arus digitalisasi, pesan Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan arah baru yang lugas bagi seni bela diri Islami. Prof Abdul Mu’ti memproyeksikan perguruan silat wajib bertransformasi menjadi gerakan modern yang mendunia, dengan tetap menjadikan pendidikan jasmani rohani sebagai jangkar utama pembentuk akhlak dan ketangguhan mental anak muda.
Visi mulia tersebut terlihat jelas saat ia memberikan tanggapan secara langsung atas hasil persidangan akbar organisasi ini. “Alhamdulillah muktamar sudah menghasilkan kepemimpinan yang baru dan saya yakin di bawah kepemimpinan Pak Afnan Hadikusumo Tapak Suci akan semakin maju menjadi gerakan bela diri yang modern, mendunia dan tetap mengedepankan akhlaqul karimah serta ketahanan mental spiritual dan juga kesehatan jasmani,” ungkap Abdul Mu’ti.
Ia menyampaikan pernyataan penuh harapan ini saat sesi wawancara pada Sabtu (08/08/26). Pertemuan singkat tersebut berlangsung hangat di area lapangan Simpang Lima, Kota Semarang. Melalui momentum ini, ia menegaskan urgensi perguruan silat dalam menjawab tantangan krisis moral generasi saat ini.
Menjawab Tantangan Gerakan yang Modern dan Mendunia
Menyikapi gagasan tentang kemajuan organisasi, dinamika era digital saat ini memang memaksa seni bela diri untuk beradaptasi. Gayung pun bersambut dari jajaran pengurus baru. Afnan Hadikusumo kembali terpilih memimpin kepengurusan periode 2026–2031 melalui kesepakatan sembilan tim formatur. Ia menyadari penuh pentingnya merespons perubahan zaman dengan sangat cepat.
Berbekal semangat pembaruan, pimpinan merumuskan strategi organisasi ke depan. “Tantangan teknologi informasi dan tantangan kemandirian menjadi perhatian kita ke depan,” kata Afnan memberikan penegasan. Pihaknya kini terus memacu pemanfaatan teknologi digital. Langkah strategis ini bertujuan menjadikan organisasi mandiri tanpa menghilangkan identitas aslinya.
Fokus pada Akhlakul Karimah dan Ketahanan Mental
Lebih dari urusan teknologi, pembangunan karakter menjadi hal yang jauh lebih mendesak. Sesuai dengan pesan Mendikdasmen Abdul Mu’ti, arena latihan harus berfungsi sebagai pelindung kewarasan jiwa remaja. Pembentukan kader kini tidak lagi berpusat pada seberapa kuat pukulan seseorang.
Sebaliknya, kekuatan fisik mutlak harus berjalan beriringan dengan kelembutan akhlak. Keseimbangan ini mencegah organisasi agar tidak hanya sekadar melahirkan jagoan jalanan. Pendekar masa depan wajib memiliki ketangguhan raga sekaligus kecerdasan emosional yang baik.
Sinergi untuk Pembangunan Padepokan
Tentu saja, pembinaan jasmani yang sehat memerlukan ketersediaan sarana yang layak. Menjawab tantangan tersebut, semangat gotong royong antaranggota terlihat sangat nyata. Mereka saling bahu-membahu mempercepat pembangunan padepokan sebagai pusat kegiatan kader di berbagai wilayah. Sinergi di tingkat akar rumput ini menjadi modal utama bagi pergerakan roda organisasi.
Melihat dukungan yang begitu besar, rasa syukur mengalir deras dari sang pimpinan.
“Pembangunan padepokan banyak yang membantu. Terakhir, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak,” ungkap Afnan. Sebelumnya, ia juga memberikan apresiasi serupa atas suksesnya persidangan akbar ini. “Terima kasih atas segala upaya dari berbagai pihak untuk menyukseskan Muktamar Tapak Suci ini,” tuturnya pada Ahad (09/08/26).
Pada akhirnya, perhelatan akbar di Semarang ini bukan sebatas acara pergantian pengurus biasa. Momen ini mengonfirmasi kembali arah pendidikan jasmani rohani yang dicita-citakan oleh para tokoh. Berbekal fondasi seni bela diri Islami, tekad untuk menjaga akhlak generasi muda kini melangkah makin mantap.