Terbang Lintas Benua demi Belajar Silat di Semarang, Tanda Tapak Suci Mendunia
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Sekfane Lahcene rela terbang jauh dari Aljazair ke Semarang demi membedah rahasia disiplin silat nusantara. Langkah berani pesilat luar negeri ini membawa pesan penting bagi bangsa kita. Kehadirannya menjadi penanda kuat bahwa Tapak Suci mendunia.
Peristiwa bersejarah ini berlangsung memukau pada Sabtu (08/08/26) di Simpang Lima, Semarang. Ribuan pesilat memadati jantung kota tersebut untuk mengikuti rangkaian Muktamar Tapak Suci Semarang. Mereka bergerak serempak menampilkan jurus bertenaga tanpa celah sedikit pun.
Mengubah Kiblat Bela Diri
Melihat lautan manusia bergerak rapi, Sekfane merasa sangat takjub. Pria asal Afrika Utara ini sengaja datang ke Indonesia menggunakan dana pribadinya. Ia ingin menyaksikan denyut nadi pertumbuhan pencak silat Indonesia langsung dari tanah kelahirannya.
Kekaguman tersebut menumbuhkan semangat baru bagi Sekfane. Ia selalu takjub melihat organisasi ini terus membesar setiap kali berkunjung ke Indonesia. Baginya, kekuatan utama bela diri ini justru terletak pada kekompakan ribuan pesilat yang patuh bergerak dalam satu komando.
Magnet Kuat dari Tanah Jawa
Perasaan serupa juga menyelimuti Arthur Brenkman. Warga negara Belanda ini sudah menyebarkan ilmu silat selama puluhan tahun di Eropa. Namun, kemegahan muktamar kali ini sukses meruntuhkan ego senioritasnya.
Pria berusia 61 tahun itu secara terbuka mengagumi kerapian sistem organisasi silat lokal kita. Ia bahkan merasa layaknya seorang murid sekolah yang baru belajar saat melihat keteraturan sistem regenerasi pada acara tersebut.
Selain Eropa dan Afrika, pesona silat ini turut memikat negara tetangga dekat. Johari bin H. Mokti asal Singapura sukses mengadopsi sistem pembinaan Tapak Suci untuk mencetak atlet berprestasi. Keberhasilan tersebut terwujud karena perguruan ini membangun fondasi iman yang kuat, bukan semata mengandalkan ketahanan fisik.
Teguran Keras bagi Bangsa Sendiri
Menyaksikan antusiasme para warga asing tersebut menyajikan ironi tersendiri bagi kita. Sebagian masyarakat lokal justru lebih sering mengagumi budaya dari negara lain. Padahal, para pendekar asing rela merogoh kocek dalam-dalam demi mempelajari warisan leluhur kita.
Fakta lapangan ini seharusnya langsung membuka mata seluruh elemen masyarakat. Kehadiran para pesilat dari tiga benua itu jelas membuktikan tingginya nilai budaya bangsa ini. Kita sejatinya mempunyai kekayaan tradisi yang sangat berharga sekaligus dihormati pada kancah global.
Oleh karena itu, mari kita lepaskan rasa minder terhadap identitas budaya sendiri. Kehebatan silat nusantara sudah mendapatkan pengakuan internasional yang sangat meyakinkan. Kita harus terus merawat kebanggaan ini karena pesona Tapak Suci mendunia benar-benar terjadi di depan mata.