Sebesar Apapun Dosamu, Pintu Taubat kepada Allah Tetap Terbuka!
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Peringatan keras bagi manusia agar tidak mengunci harapan sendiri muncul di tengah ulasan mendalam mengenai cara membasuh noda hitam dalam kehidupan. Luapan rahmat yang begitu luas menjadi jaminan bahwa pintu taubat kepada Allah selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin kembali. Oleh karena itu, keputusasaan adalah sebuah kekeliruan besar dalam memandang kasih sayang Sang Pencipta.
Ulasan mendalam mengenai harapan dan pengampunan ini mengemuka secara gamblang di Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang pada Jumat (19/06/2026). Pada kesempatan tersebut, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Dr. KH. Fachrur Rozi M.Ag, hadir langsung sebagai khatib.
Dalam khutbahnya, Ia menjelaskan bahwa salah satu sifat Allah SWT yang agung adalah Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat. Sebesar apa pun dosa seorang hamba, selama ia mau kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan, mengakui kesalahannya, serta bertekad untuk memperbaiki diri, maka Allah akan membukakan pintu ampunan-Nya.
Janji Pengampunan dalam Surah Az-Zumar
Untuk memperkuat argumen tersebut, KH Fachrur Rozi kemudian mengutip firman Allah SWT dalam Surah Az-Zumar ayat 53. Langkah ini sekaligus membuktikan bahwa kitab suci secara tegas melarang manusia untuk berpaling dari harapan.
“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” ujar KH Fachrur Rozi sesuai teks ayat suci tersebut.
Berdasarkan kutipan tersebut, Ia menegaskan bahwa rahmat Allah SWT sangat luas kepada hamba-Nya yang mau bertaubat dengan sungguh-sungguh. Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh berputus asa dari ampunan Allah, sekalipun pernah melakukan banyak kesalahan dan dosa.
Rumitnya Hubungan Antarmanusia di Dunia
Namun demikian, KH Fachrur Rozi juga mengingatkan bahwa hubungan dengan sesama manusia memiliki konsekuensi yang berbeda. Hubungan sosial ternyata memiliki dinamika yang jauh lebih rumit serta sensitif dalam kehidupan sehari-hari.
Fakta ini terjadi karena manusia memiliki keterbatasan perasaan dan emosi. Bahkan, satu kesalahan kecil saja bisa langsung merusak ribuan memori indah yang telah terbangun lama.
“Terkadang seseorang telah berbuat baik kepada orang lain berkali-kali, bahkan beribu-ribu kebaikan, tetapi satu kesalahan saja dapat membuat orang lain melupakan seluruh kebaikan yang pernah dilakukan,” ucap KH Fachrur Rozi mengingatkan jamaah.
Sadar akan potensi konflik tersebut, Ia menganjurkan setiap muslim untuk senantiasa menjaga akhlak, tutur kata, dan sikap dalam berinteraksi. Upaya ini sangat penting agar kita tidak menyakiti hati orang lain secara sengaja maupun tidak sengaja.
Menjaga Kedamaian dan Keberkahan Hidup
Selanjutnya, langkah nyata untuk merajut keharmonisan adalah dengan membumikan sifat rendah hati dan saling memaafkan. Di samping itu, Ia juga mengingatkan pentingnya memperbanyak istighfar serta memohon maaf ketika melakukan kesalahan.
Melalui kebiasaan ini, umat Islam dapat melatih diri untuk tidak mudah menghakimi orang lain hanya karena satu kekhilafan. Sebab, setiap manusia tidak luput dari kesalahan dan membutuhkan ampunan dari Allah SWT maupun maaf dari sesama manusia.
“Jangan mudah menghakimi orang lain hanya karena satu kekhilafan. Sebab setiap manusia tidak luput dari kesalahan dan membutuhkan ampunan dari Allah SWT maupun maaf dari sesama manusia,” kata KH Fachrur Rozi di akhir khutbahnya.
Sebagai penutup, Ia mengajak jamaah untuk senantiasa memperbaiki hubungan dengan Allah melalui taubat yang tulus serta memperbaiki hubungan dengan sesama melalui akhlak yang baik. Dengan demikian, kehidupan masyarakat akan menjadi lebih harmonis, penuh keberkahan, dan diridhai oleh Allah SWT.