Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Mengenal Tokoh PDM: Jejak Dr Fachrur Rozi, dari Rotan Ayah hingga Panggung Dakwah Sejuk

1 November 2026, 14:11 WIB • 7 menit baca
Ketua PDM Kota Semarang Dr Fachrur Rozi menyampaikan ceramah di hadapan 5.000 jemaah Pengajian Jumat Kliwon di Paranggupito Wonogiri.
SEJUKKAN RIBUAN UMAT — Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang sekaligus Dosen FDK UIN Walisongo, Dr. H. Fachrur Rozi, M.Ag., menyampaikan tausiah di hadapan 5.000 jemaah yang memadati Pengajian Jumat Kliwon di Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, beberapa waktu lalu. Gaya komunikasinya yang merangkul dan mencerdaskan membuat kehadirannya selalu dinantikan masyarakat lintas lapisan. (Foto: Adib Abyan/muhammadiyahsemarangkota.org)

SEMARANG, muhamadiyahsemarangkota.org– Sorot mata Dr. H. Fachrur Rozi, M.Ag. selalu berbinar hangat setiap kali ia menatap ribuan jamaah yang memadati lapangan pengajian di berbagai pelosok Jawa Tengah. Di atas panggung, publik mengenalnya sebagai penceramah jenaka yang mampu menyentil pejabat tanpa melukai serta mencairkan sekat-sekat perbedaan mazhab dalam sekejap. Namun, tak banyak orang yang mengetahui bahwa keluwesan retorika dan keteguhannya menolak memasang tarif ceramah itu lahir dari perjalanan hidup yang berliku. Mulai dari tempaan rotan sang ayah di Gayamsari hingga pengalamannya “terpaksa hijrah”  dari masjid kampung di masa muda.

Ketenangan dalam menghadapi situasi tak terduga di panggung pengajian bukanlah suatu kebetulan semata. Dalam perbincangan eksklusif dengan muhammadiyahsemarangkota.org pada Kamis (29/10/2024), Dr. H. Fachrur Rozi, M.Ag. membeberkan rahasia di balik dapur dakwahnya.

Tiga Prinsip Utama Penjaga Marwah Mimbar Dakwah

Pria yang bermukim di Perumahan Pondok Hijau, Ngaliyan Semarang ini memegang teguh tiga prinsip utama setiap kali ia melangkah naik ke atas mimbar. Ia selalu mengawali langkah dengan doa Nabi Musa. Kemudian melakukan observasi audiens sesuai kaidah khatibunnas ‘ala qadri ‘uqulihim (berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar kemampuan pemahaman mereka). Dan terakhir ia berusaha memastikan materinya memberi manfaat kepada umat.

Bagi akademisi dengan sapaan akrab Pak Yai Rozi ini, pengajian tidak boleh berhenti menjadi sekadar panggung hiburan tanpa makna. Ia selalu menyusun materi secara sistematis agar jamaah dari lapisan masyarakat bawah hingga pejabat membawa pulang pencerahan batin. Bahkan, ia sangat tegas menjaga kemurnian mimbar dari titipan konflik internal warga maupun penyelenggara acara.

“Mas, daripada mbok peseni banyak toh, yang ceramah sampean saja, saya tak pulang wong yang ngerti masalahnya sampean,” ujarnya sembari tertawa mengenang caranya menolak pesanan panitia yang kerap memintanya menyindir pihak tertentu. “Jangan sampai lisan saya dipinjam oleh panitia untuk menyerang orang.”

Sikap independen itu pula yang membuatnya piawai merangkul audiens lintas mazhab hingga jajaran birokrasi seperti bupati, wali kota, DPRD,  gubernur, dan menteri.  Saat berbicara di hadapan pejabat publik, ia memilih menyelipkan pesan moral yang menyentuh hati tanpa membuat pendengarnya merasa malu.

“Jangan sampai menjilat atau menyerang, tapi menyampaikan agar mereka merasa diingatkan dan tidak merasa dipermalukan,” tegas kyai kondang asli Semarang ini.

Filosofi Mencangkul Sawah dan Belut dari Dosen FDK UIN Walisongo

Prinsip menjaga marwah mimbar tersebut berakar kuat pada filosofi hidup yang selalu ia tanamkan kepada mahasiswa di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang. Di ruang kelas tempatnya mengajar, ia selalu merasa muda kembali karena dapat menyisipkan nilai-nilai kehidupan kepada generasi penerus.

“Alhamdulillah ruang kuliah bagi saya bukan sekadar ruang transfer of knowledge, tapi transfer of value,” tuturnya penuh syukur.

Di hadapan para mahasiswa dan kader mubalig muda, Dr. H. Fachrur Rozi, M.Ag. kerap mengibaratkan profesi pendakwah layaknya petani yang sedang menggarap lahan pertanian. Menurutnya, kemahiran berpidato dan ilmu komunikasi merupakan cangkul untuk menggemburkan tanah hati manusia. Adapun honor atau bisyaroh yang ia terima seusai ceramah hanyalah ibarat belut yang kebetulan muncul di sela lumpur sawah.

“Kewajiban dai itu mencangkul sawah, menyuburkan tanah agar bisa ditanami benih-benih keislaman,” jelasnya dengan nada suara yang dalam.

“Bahwa jika kemudian ketika mencangkul sawah menemukan belut, ya wajar di sawah ada belut. Tapi jangan sampai sibuk mencari belut lupa mencangkul sawah. Apalagi sibuk mencari sawah yang belutnya besar.”

Analogi sederhana namun menohok itu ia buktikan langsung dalam keseharian kiprahnya di dunia dakwah. Ketika banyak isu penceramah  mematok tarif  di awal, ia justru pantang bernegosiasi soal materi. “Alhamdulillah saya sampai hari ini masih terus berusaha menghindari menyebut angka-angka,” ungkapnya rendah hati.

Ia bahkan tak segan melepas jadwal khotbah di masjid raya yang menawarkan belut besar demi memenuhi tugas di masjid persyarikatan yang sangat sederhana. Baginya, melihat ribuan warga cabang di daerah seperti Pemalang, Jepara, hingga Pekajangan Pekalongan menyimak pengajian dengan mata berbinar sudah menghadirkan kebahagiaan yang tak ternilai.

Keteguhan sikap tanpa tarif ini rupanya diam-diam dipantau dan menuai pujian langsung dari gurunya, seorang kiai sepuh Nadhliyin. Yai Rozi disebut sebagai pendakwah yang istikamah, yang tetap tidak menetapkan nilai “seekor belut”.

Tempaan Disiplin Masa Kecil di Gayamsari

Keteguhan hati itu ia tempa sejak masa kecilnya di lingkungan keluarga santri yang tinggal di Jalan Badak, kawasan Semarang Timur yang kini masuk wilayah Gayamsari. Sang ayah menyematkan nama dari ulama besar Imam Fakhruddin Ar-Razi kepada putranya itu. Orang tuanya juga mendidik Fachrur Rozi kecil dengan disiplin ibadah yang sangat ketat di Masjid al Muhtadun, Jalan Banteng Utara.

“Kalau enggak ke masjid ya siap-siap kena rotan, siap-siap kena sabuklah dari orang tua. Jadi jam lima pasti sudah mandi dan sebelum azan sudah berangkat ke masjid,” kenangnya.

Ia pun mengasah mental keberanian tampil di depan umum sejak duduk di bangku MTs NU Pungkuran sebagai bilal salat Jumat termuda. Kala itu, ia harus menggantikan seorang muazin bersuara merdu yang gemetar dan tidak kuat mental saat harus berbalik badan menatap jamaah untuk mengantarkan khatib.

Memasuki kelas dua PGA (Pendidikan Guru Agama) Semarang di Jalan Sisingamangaraja, remaja yang aktif sebagai Ketua OSIS ini sudah berani naik mimbar menyampaikan khotbah Jumat pertamanya dengan penuh gelora.

Pergulatan Intelektual Sang Kutu Buku dan Restu Ibu

Perjalanan intelektualnya kian melesat saat ia mengikuti pelatihan bersama tokoh-tokoh senior Pelajar Islam Indonesia (PII) saat itu.  Ketika itu, ia sangat mengagumi gaya retorika almarhum Ustadz Munawar Soleh, dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, sekaligus aktivis Muhammadiyah Jawa Tengah.

Semasa kuliah di Fakultas Dakwah, rekan-rekannya mengenal Fachrur Rozi muda sebagai kutu buku. Ia rela memborong buku bacaan ketika teman-teman seangkatannya sibuk membeli kaos saat piknik. Ia melahap habis karya-karya pemikir besar mulai dari Muhammad Iqbal, Fazlur Rahman, Nurcholish Madjid, Deliar Noer, Amin Abdullah, dan lainnya. Ia mengoleksi baik buku-buku filsafat, pemikiran Islam maupun politik. Akhirnya Fachrur Rozi muda pun menulis skripsi tentang pemikiran dakwah Mohammad Natsir yang mengharuskannya mengurus izin berliku ke kantor Sospol di era Orde Baru.

Adapun pergulatan literatur dan persentuhannya dengan majalah Al-Muslimun perlahan menggeser pemahaman keagamaannya menuju gerakan Dakwah Muhammadiyah. Pilihan ideologis ini sempat membuatnya harus “hijrah” dari mushola kampungnya sendiri akibat perbedaan paham dengan lingkungan sekitar.

Namun, sang ibu yang merupakan anggota Muslimat NU justru menunjukkan kebesaran hati luar biasa dan menyemangatinya dengan kalimat teduh: “Kalau memang pikiranmu begitu, keyakinanmu begitu, ya jalani saja.“

Pengabdian Tanpa Henti di Persyarikatan dan Umat

Pengalaman panjang melintasi berbagai spektrum pemikiran Islam itu membentuk rekam jejak kepemimpinan yang matang. Di lingkungan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, ia merintis pengabdian panjang. Bermula sebagai anggota Pimpinan Majelis Pustaka (1995–2000), Wakil Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (2000–2005),

Selanjutnya, ia mengemban amanah sebagai Ketua Majelis Tabligh (2005–2010) dan Wakil Ketua PDM Kota Semarang (2010–2015). Puncaknya, ia melanjutkan kepemimpinan sebagai Ketua PDM Kota Semarang selama dua periode berturut-turut (2015–2022 dan 2022–2027).

Tidak hanya di internal Muhammadiyah, masyarakat luas di tingkat regional juga mengakui kepiawaian komunikasi dan keilmuannya. Di samping memberikan kajian keislaman baik di instansi pemerintah , BUMN, maupun swasta, baik di Jawa mapun di luar Jawa, Ia aktif mengabdikan diri sebagai Pengurus MUI Kota Semarang Bidang Dakwah (2015–2020), Penasehat MUI Kota Semarang (2020–2025), Pembina Dai Kamtibmas Polrestabes Kota Semarang (2022–2027), hingga diangkat menjadi Anggota Komisi Dakwah MUI Jawa Tengah (2026–2031).

Gagasan Strategi Kopisosis dan Teladan Ulama Intelektual

Dedikasi keilmuannya dalam merumuskan metode dakwah yang mencerahkan juga ia tuangkan melalui karya tulis ilmiah. Salah satu artikelnya masuk dalam jurnal internasional Islamic Communication Journal 2024. Artikel tersebut berjudul Deradicalization da’wah: Religious rehabilitation efforts for former terrorism convicts.

Riset tersebut menegaskan pandangannya bahwa para pelaku ekstremisme di akar rumput sering kali hanyalah anak-anak muda  yang membutuhkan dekapan pendekatan dakwah yang humanis dan edukatif. Akhirnya, sebagai intelektual ia lahirkan pendekatan dan strategi kopisosis (ekonomi, psikologi, sosial dan spiritual) untuk penanganan pelaku ekstremisme tersebut.

Perjalanan hidup Dr. H. Fachrur Rozi, M.Ag. memberikan teladan nyata bahwa ketulusan seorang ulama dan akademisi tidak diukur dari seberapa besar materi yang ia terima. Nilai sesungguhnya adalah dari seberapa dalam jejak kebaikan yang ia tinggalkan di tengah umat. Di tengah arus modernitas dan komersialisasi mimbar yang kian deras, keteguhan seorang pemimpin yang memegang teguh prinsip “mencangkul sawah tanpa sibuk mencari belut” menjadi oase yang menyejukkan.

Dari tempaan rotan masa kecil di Gayamsari hingga menakhodai persyarikatan di jantung ibu kota Jawa Tengah, ia membuktikan bahwa dakwah yang merangkul, mencerdaskan, dan berbasis riset ilmiah yang kuat akan selalu menemukan jalannya untuk menembus hati masyarakat.

Kontributor: Tim MPI PDM Semarang
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: