Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Susah Konsisten Ibadah? Coba Mulai dari Hal Kecil Tanpa Menunggu Sempurna

15 Agustus 2026, 11:29 WIB • 3 menit baca
Ustaz Fathurrahman memakai peci hitam dan baju putih sedang menyampaikan khutbah Jumat tentang cara konsisten ibadah di balik mimbar kayu berukir di Masjid At Taqwa Semarang.
Ustaz Fathurrahman, Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Rijalul Quran, saat menyampaikan pesan tentang pentingnya mengatasi malas ibadah dan memulai kebaikan dari hal kecil dalam khutbah Jumat di Masjid At Taqwa, Jalan Halmahera, Semarang Timur.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Sering merasa berat saat ingin rajin beribadah karena mematok target yang terlalu tinggi? Terkadang, kegagalan kita berubah justru bermula dari ekspektasi muluk tersebut. Padahal, kunci utama agar bisa konsisten ibadah ternyata sangat sederhana dan sama sekali tidak membebani.

Menjawab keresahan itu, sebuah pesan menyejukkan hadir pada khutbah Jumat, 14 Agustus 2026. Ratusan jamaah memadati Masjid At Taqwa, Jalan Halmahera, Semarang Timur, untuk mendengarkan saksama. Di hadapan mereka, Ustaz Fathurrahman hadir mengurai cara mengatasi malas ibadah tanpa menyiksa batin.

Khatib siang itu merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Rijalul Quran. Ia juga dikenal sebagai adik kandung dari dai kondang Kyai Fachrur Rozi, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang. Dalam khutbahnya, ia menyoroti kebiasaan buruk manusia yang suka menunda langkah pertama.

Ia menegaskan bahwa Allah sangat menyukai kebaikan sederhana yang berjalan berulang kali.
Ustaz Fathurrahman lantas memberikan sebuah solusi praktis. “Mulailah dari yang kecil,” ucapnya pelan namun menggugah kesadaran jamaah siang itu.

Langkah Awal yang Ringan

Pesan lugas ini seketika mengubah cara pandang jamaah tentang target spiritual. Kita tidak perlu mengejar semua salat sunah sekaligus jika hal itu menguras energi mental. Sebagai gantinya, umat Islam cukup mempertahankan ibadah dasar seperti qobliyah Subuh dan salat fardu berjamaah setiap hari.

Begitu pula saat kita ingin berinteraksi lebih dekat dengan teks suci Al-Qur’an. Membaca satu halaman setiap hari sudah sangat berharga asalkan rutinitas tersebut tidak pernah terputus. Pendekatan bertahap ini menjadi tips istiqamah yang sangat masuk akal bagi ritme kesibukan manusia modern.

Ritme Waktu Sebagai Pelajaran

Lebih jauh menyelami makna ibadah, sang ustaz mengingatkan kembali filosofi di balik perintah salat lima waktu. Saat peristiwa Isra Mikraj, Tuhan membagi kewajiban suci ini mengikuti ritme napas kehidupan harian. Pembagian dua, empat, tiga, dan empat rakaat secara harfiah menunjukkan keringanan yang Allah berikan.

Kewajiban ini terus menyapa hamba-Nya berulang kali dari fajar menyingsing hingga malam menjemput. Pola ritmis ini mengajarkan bahwa amalan kecil berbuah besar jika kita merawatnya sepenuh hati. Untuk mencapai taraf tersebut, jamaah harus segera membuang jauh-jauh kebiasaan menunda niat baik.

Waktu terus berjalan tanpa mau berkompromi dengan kemalasan kita. “Jangan beri kesempatan kepada kata ‘nanti’ untuk membunuh niat baik,” tegas Ustaz Fathurrahman mengingatkan jamaah.

Aksi Nyata Usai Berdoa

Menariknya, untaian nasihat di atas mimbar langsung menemukan bentuk nyatanya seusai ibadah. Takmir Masjid At Taqwa bersama PRA Karangtempel bahu-membahu menggelar program Jumat Berkah. Mereka menyajikan hidangan hangat berupa mie kopyok dan siomay untuk jamaah yang bersiap pulang.

Aksi sosial organik ini membuktikan bahwa perubahan tidak boleh hanya berhenti sebagai wacana lisan. Ina Farida, tokoh Aisyiyah Kelurahan Karangtempel, merespons kolaborasi warga ini dengan senyum antusias.

Keinginan kuat pun muncul dari tokoh masyarakat setempat tersebut. “Saya ingin semakin besar dan semakin banyak, sehingga Masjid At Taqwa semakin banyak dikunjungi orang. Mari saudara-saudara yang lainnya ikut bersama-sama,” tutur Ina melihat gotong royong warga.

Mulailah Hari Ini

Pada akhirnya, wujud nyata dari tips istiqamah bermula dari langkah riil hari ini. Kita tidak perlu menunggu momen sempurna untuk mempraktikkan cara mengatasi malas ibadah. Terapkan kebiasaan berbagi dan beribadah ini secara terus-menerus di lingkungan sekitar. Rasakan perlahan bagaimana amalan kecil berbuah besar akan menuntun Anda agar terus konsisten ibadah hingga akhir hayat.

Kontributor: Imam S Abu Maulana
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: