Sekolah Jelas Bukan Bengkel! Sadari Pentingnya Peran Orang Tua di Sekolah untuk Anak
SEMARANG TENGAH, muhammadiyahsemarangkota.org – Banyak orang tua modern sering menjadikan sekolah layaknya bengkel untuk memperbaiki anak secara instan. Padahal, peran orang tua di sekolah sangat krusial dalam membentuk pendidikan karakter anak yang seutuhnya. Kita harus segera mengakhiri kesalahan pola pikir ini agar anak tumbuh secara optimal.
Peringatan penting ini mengemuka dalam acara Awwalussanah SD Muhammadiyah 12 Semarang. Pertemuan awal tahun ajaran baru 2026/2027 tersebut berlangsung khidmat pada hari Sabtu (11/7/2026). Ratusan wali murid hadir memenuhi aula sekolah di Kota Semarang untuk menyamakan visi pendidikan.
Kepala SD Muhammadiyah 12 Semarang, M. Burhan Khaerudin, S.Pd., menyoroti fenomena lepas tangan pengasuhan. Ia mengajak seluruh wali murid merenungkan kembali esensi hubungan antara rumah dan sekolah. Menurutnya, pendidikan sejati hanya lahir dari kolaborasi yang erat.
Sekolah Jelas Bukan Bengkel Anak
“Sekolah bukanlah sebuah tempat reparasi. Orang tua tidak bisa sekadar menitipkan anak dengan harapan memperbaiki mereka secara instan tanpa keterlibatan dari rumah,” tegas Burhan saat menyampaikan paparannya di hadapan orang tua.
Selanjutnya, ia menambahkan bahwa pendidikan selalu membutuhkan proses panjang. Oleh karena itu, orang tua wajib hadir mendampingi setiap fase perkembangan anak. Kesadaran ini menjadi pondasi utama saat membangun mental yang sehat.
Wali Murid Bukanlah Pelanggan
Selain mitos bengkel, Burhan juga mengkritik budaya transaksional dalam dunia pendidikan modern. Ia mengingatkan bahwa wali murid sama sekali bukan pelanggan atau konsumen jasa.
“Pendidikan bukanlah transaksi bisnis. Hubungan orang tua dan sekolah tidak sama dengan pembeli dan penjual yang hanya menuntut hasil akhir tanpa mau tahu prosesnya,” ungkapnya membeberkan realita.
Sebagai solusinya, sekolah terus menawarkan kemitraan sekolah dan keluarga secara terbuka. Kedua pihak harus menempatkan diri sebagai mitra pendidikan yang sejajar. Langkah strategis ini memastikan anak selalu mendapat dukungan penuh dari dua arah.
Mendampingi Anak Sesuai Fitrah
Kehangatan pertemuan ini makin terasa ketika Burhan mengingatkan esensi jiwa seorang anak. Ia meminta orang tua segera berhenti menuntut kesempurnaan di luar batas kemampuan siswa.
“Yang kita hadapi bersama adalah subjek yang sedang bertumbuh dan berkembang. Mereka memiliki keunikan, potensi, dan kecepatan belajar yang berbeda-beda, bukan sekadar objek pasif,” pesannya dengan nada lembut.
Pada akhirnya, tugas sejati orang dewasa hanyalah memfasilitasi bakat alamiah mereka. Guru dan orang tua harus selalu membimbing murid dengan penuh kasih sayang. Sinergi positif ini pasti melahirkan generasi yang bertakwa dan berakhlak mulia.