Stop Percaya Mitos Apes! Tepis Takhayul Di Bulan Safar
Semarang, muhammadiyahsemarangkota — Anggapan keliru mengenai adanya hari atau bulan tertentu yang membawa sial tampaknya masih mengakar kuat dalam sebagian ingatan masyarakat modern. Mitos turun-temurun ini sering kali membuat sebagian orang merasa cemas dan membatasi aktivitas positif mereka tanpa alasan yang rasional. Padahal, setiap pergantian waktu dalam kalender Islam sejatinya merupakan lembaran baru yang penuh dengan peluang keberkahan.
Pelurusan sejarah dan akidah tersebut mengemuka secara mendalam dalam pelaksanaan Salat Jumat di Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang pada Jumat (17/7/2026) kemarin. Bertindak sebagai khatib, Ustadz Mirza secara tegas membedah mitos keliru seputar Bulan Safar yang sering diidentikkan dengan kesialan. Momentum khotbah ini hadir sebagai pengingat taktis untuk meluruskan tauhid sekaligus memacu semangat berburu amal saleh muslim.
Narasumber menegaskan bahwa keyakinan tentang bulan pembawa apes merupakan sisa warisan tradisi Arab Jahiliyah yang sudah dihapus oleh Rasulullah SAW. Berdasarkan fakta sejarah, kata Safar sendiri memiliki arti kosong karena penduduk zaman dulu sering mengosongkan rumah untuk berdagang atau berperang setelah bulan haram usai. Penamaan tersebut murni merujuk pada aktivitas sosial masyarakat kala itu, bukan karena adanya kutukan atau musibah tersembunyi.
“Kita tidak boleh meyakini bahwa ada bulan yang membawa kesialan. Semua bulan adalah ciptaan Allah SWT. Yang menentukan baik atau buruknya kehidupan seseorang adalah keimanan, ketakwaan, dan amal salehnya,” ujar Ustadz Mirza di hadapan ratusan jamaah yang memadati masjid.
Bukan Bulan Kosong Kebajikan
Guna memperkuat argumen tersebut, penceramah ini mengutip hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim yang menegaskan bahwa tidak ada konsep thiyarah atau anggapan sial dalam Islam. Umat Islam justru diminta untuk tidak membiarkan Bulan Safar menjadi momentum yang kosong dari nilai-nilai spiritual. Setiap detik kehidupan yang masih bergulir wajib dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas ketakwaan serta memperbaiki relasi sosial.
Ustadz Mirza kemudian merinci tiga langkah konkret yang bisa langsung diterapkan oleh para jamaah untuk mengisi bulan kedua Hijriah ini. Amalan pertama adalah meningkatkan kuantitas ibadah harian seperti menghadiri majelis taklim, berzikir, serta mentadabburi kandungan Al-Qur’an. Pihak khatib mengingatkan janji Allah SWT yang siap melipatgandakan pahala kebaikan harian hingga sepuluh kali lipat bagi hamba-Nya.
Langkah kedua yang tidak kalah krusial adalah memperbanyak intensitas sedekah secara ikhlas sebagai bentuk ikhtiar memohon perlindungan dari mara bahaya. Berbagi harta kepada sesama terbukti mampu mengundang turunnya rahmat sekaligus menjadi pembuka pintu rezeki yang berkah. Melalui pembiasaan ini, kepedulian sosial di lingkungan Kota Semarang diharapkan dapat tumbuh semakin kuat.
Momentum Hijrah Total
Amalan ketiga yang menjadi inti dari khutbah ini adalah menjadikan Bulan Safar sebagai titik awal untuk melakukan hijrah mental secara total. Jamaah diajak untuk mulai berani meninggalkan berbagai kebiasaan buruk yang merusak pahala seperti ghibah dan maksiat. Fokus perbaikan juga harus diarahkan pada peningkatan kualitas salat wajib agar tidak lagi sering terabaikan di tengah kesibukan duniawi.
Pesan penutup dari mimbar Jumat ini sukses memancing perhatian penuh dan memberikan kesan mendalam bagi seluruh warga yang hadir. Islam secara konsisten mengajarkan sikap optimisme yang tinggi dan melarang keras umatnya bergantung pada ramalan atau takhayul purba. Kemuliaan seorang manusia di hadapan Sang Pencipta sama sekali tidak ditentukan oleh bulan apa yang sedang berjalan, melainkan dari konsistensi ibadahnya.
“Berubah menjadi pribadi yang lebih baik tidak perlu menunggu waktu yang dianggap paling baik. Waktu terbaik adalah sekarang, selama Allah masih memberi kesempatan hidup kepada kita,” tutur Ustadz Mirza saat mengakhiri pesan khutbahnya dengan penuh ketulusan.