Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Debat Tabu Disingkirkan: Sekolah Muhammadiyah Semarang Mulai Bicara Kesehatan Reproduksi

6 November 2026, 20:53 WIB • 3 menit baca
Peserta dan narasumber berpose bersama dalam kegiatan diseminasi kesehatan reproduksi remaja yang diselenggarakan oleh FKKS Muhammadiyah dan Majelis Dikdasmen PDM Kota Semarang.
Suasana kebersamaan peserta dan narasumber usai kegiatan diseminasi kesehatan reproduksi remaja di Aula PDM Kota Semarang.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Di balik bilik kamar yang temaram, anak-anak remaja kita bergulat dengan ribuan tanya yang tak berani mereka ucapkan kepada orang tua. Arus informasi digital yang deras kerap menghantam akal sehat tanpa saring, membawa jebakan pergaulan bebas yang mengintai setiap jengkal masa muda. Menyadari ancaman nyata di depan mata, edukasi kesehatan reproduksi bukan lagi pilihan sunyi, melainkan benteng penyelamat yang mendesak untuk ditegakkan.

Langkah progresif itu bergemuruh di lantai 5 Aula PDM Kota Semarang pada Jumat, 6 November 2026. Melalui kolaborasi erat, Forum Komunikasi Kepala Sekolah (FKKS) Muhammadiyah se-Kota Semarang bersama Majelis Dikdasmen PDM Kota Semarang merapatkan barisan. Mereka membedah ketakutan para pendidik yang selama ini memilih diam di balik selimut rasa tabu.

Masa peralihan menuju dewasa merupakan labirin penuh gejolak emosi dan badai biologis. Di sinilah peran kepala sekolah muhammadiyah diuji untuk meruntuhkan tembok kaku birokrasi sekolah. Sejalan dengan itu, institusi pendidikan dipaksa bertransformasi menjadi rumah pelindung kedua yang hangat, tempat para siswa bisa mengadu tanpa takut dihakimi.

Menyulam Iman dan Sains untuk Remaja

Membentengi generasi muda tentu tidak cukup hanya dengan larangan moral yang kaku tanpa penjelasan nalar. Sebagai pembuka wawasan, Rojudin, S.Pd., M.Si., menegaskan bahwa pandangan Islam memposisikan diri manusia sebagai amanah suci yang wajib dirawat.

“Nilai-nilai keagamaan memberikan kompas etika yang kokoh agar remaja tahu persis di mana batas kesucian diri harus dijaga,” tegas Rojudin saat membedah materi Manhaj Tarjih di hadapan ratusan guru.

Sains dan agama berjalan beriringan untuk memandu tumbuh kembang remaja sekolah yang kerap dilanda kebingungan identitas. Menanggapi hal tersebut, Vika Adibah, S.Pd., M.Si., mengingatkan para guru agar peka membaca gelagat perubahan psikologis anak didik di dalam kelas.

“Guru wajib sigap membaca perubahan emosi sekecil apa pun sebelum anak didik salah melangkah di luar sana,” ungkap Vika dengan penuh penekanan.

Menjaga Masa Depan dari Lubang Hitam Pergaulan

Ketakutan terbesar para pendidik hari ini bermula ketika anak didik mereka terperosok ke dalam lubang hitam informasi keliru di ruang digital. Berdasarkan kekhawatiran itu, Puri Damayanti, S.Pd., menyerukan agar para guru membuka mata lebar-lebar terhadap kompleksitas masalah yang mengancam masa depan siswanya.

“Upaya pencegahan pergaulan bebas remaja harus dimulai dari kepekaan deteksi dini di setiap sudut ruang kelas kita,” seru Puri dalam sesi kupasan masalah kesehatan reproduksi.

Namun, sekolah tidak boleh berjuang sendirian tatkala menghadapi persoalan pelik yang melampaui batas kapasitas konseling biasa. Sebagai solusi akhir, Sumarmi, S.Pd., memaparkan pentingnya jalur penyelamatan melalui mekanisme rujukan yang terstruktur.

“Setiap indikasi masalah berat pada siswa harus segera dihubungkan ke tenaga profesional agar tertangani tuntas tanpa ada yang terabaikan,” tandas Sumarmi.

Sinergi hangat yang dirajut di Kota Semarang ini membuktikan bahwa pendidikan Islam berkemajuan tidak pernah takut merangkul realitas zaman. Ketika para pendidik berani merobohkan sekat kebisuan, masa depan generasi bangsa akan berdiri tegak di atas fondasi ilmu, iman, dan kehormatan.

Kontributor: Halim Zaqi
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: