Urgensi Kesehatan Mental Islami: Seni Menenangkan Jiwa di Tengah Ambisi Dunia
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Menjaga Kesehatan Mental Islami kini menjadi kebutuhan mendesak bagi warga perkotaan agar tidak tumbang oleh ekspektasi yang kian menjulang. Faktanya, Kesehatan Mental Islami ternyata bisa dimulai dengan memahami sifat rida di era kompetisi yang kian hari terasa semakin mencekik.
Pesan ini mengemuka dalam khutbah sholat Jumat di Masjid At Taqwa Ngaliyan Wates pada Jumat (24/04/26). Dr. Shofa Muthohar, M.Ag, selaku Sekretaris Majelis Tabligh PDM Kota Semarang, mengingatkan jemaah tentang beratnya persaingan hidup. Ia menilai ambisi duniawi dapat merusak ketenangan hati jika masyarakat tidak memiliki benteng spiritual yang kuat.
Mengenali Akar Kecemasan
Zaman sekarang, banyak orang merasa tertekan karena terjebak dalam perlombaan materi tanpa henti. Dr. Shofa menjelaskan bahwa rasa tidak puas sering kali muncul akibat dorongan nafsu semata. Hal inilah yang mengganggu Kesehatan Mental Islami, terutama saat seseorang gagal meraih impiannya.
“Boleh jadi apa yang kalian benci itu baik bagi kalian, dan boleh jadi apa yang kalian cintai itu buruk bagi kalian,” ujar sosok tokoh agama ini saat mengutip Surah Al-Baqarah ayat 216. Ia menegaskan bahwa kunci kewarasan jiwa terletak pada kemampuan manusia memahami rahasia takdir.
Membedah Tawakal dan Rida
Selanjutnya, setiap individu perlu memahami perbedaan tawakal dan rida agar tetap tangguh. Menurut Dr. Shofa, tawakal bekerja saat manusia sedang berjuang sekuat tenaga. Sementara itu, rida hadir sebagai bentuk penerimaan total setelah hasil akhir terlihat.
“Tawakal itu hadir ketika kita berusaha, namun rida tampak setelah hasil itu terjadi. Di situlah kita melatih hati untuk tidak bersedih saat kenyataan berbeda dari harapan,” tegasnya di hadapan jemaah.
Oleh karena itu, rida menjadi bagian vital bagi Kesehatan Mental Islami. Sikap ini mampu menghindarkan kita dari rasa sedih yang berlarut-larut. Melalui rida, kita percaya bahwa keputusan Allah adalah pilihan terbaik.
Langkah Nyata Melawan FOMO
Selain itu, Ia membagikan tips menghadapi persaingan dunia agar masyarakat tidak terjebak tren yang merugikan. Salah satunya adalah menerapkan cara mengatasi FOMO dalam Islam. Strateginya cukup sederhana: berhenti menjadikan kemewahan orang lain di media sosial sebagai standar kebahagiaan pribadi.
Ia menyarankan metode self-improvement berbasis Al-Qur’an dengan meluruskan niat sejak awal. “Syukuri nikmat kesehatan dan waktu bersama keluarga. Hal-hal kecil ini sering kali jauh lebih berharga daripada angka di rekening bank,” tambahnya.
Pada akhirnya, ketenangan sejati tidak lahir dari kemenangan kompetisi, melainkan dari keikhlasan menerima ketetapan-Nya. Menjaga Kesehatan Mental Islami melalui sifat rida akan membuat langkah hidup terasa lebih ringan. Hati yang tenang adalah ciri pemenang sejati dalam kehidupan yang penuh hiruk-pikuk ini.
Baca juga :
Detoks Batin di Masjid: Mengapa Terapi Jiwa Ramadhan Kian Diminati?
Kesehatan Mental Islami: Rahasia Hati Tenang Tanpa Healing Mahal
Lelah Mental? Perkuat Kesehatan Mental Spiritual dengan Manajemen Ikhlas