Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Menjawab Keresahan Gen Z, Begini Wujud Nyata Ruang Aman Mahasiswa di UMY

21 Juli 2026, 16:31 WIB • 2 menit baca
Pria memberikan sambutan di panggung Talkshow Inklusivitas UMY dan Peluncuran UMY Magz Edisi 7 sebagai langkah nyata mewujudkan ruang aman mahasiswa tanpa diskriminasi.
Suasana acara Talkshow Inklusivitas dan Peluncuran UMY Magz Edisi ke-7 yang mengangkat tema "Menumbuhkan Ruang Aman untuk Semua" di Public Space Lantai 1 Perpustakaan UMY, Senin (20/7/2026). Acara ini menjadi langkah awal komitmen kampus dalam menghadirkan ruang aman mahasiswa.

YOGYAKARTA, muhammadiyahsemarangkota.org – Tuntutan generasi muda akan lingkungan akademik yang bebas stres dan anti-diskriminasi kini mendapat jawaban pasti. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) secara resmi mewujudkan ruang aman mahasiswa untuk memastikan setiap individu merasa terlindungi. Langkah ini menjadi solusi konkret atas keresahan mahasiswa mengenai urgensi kesehatan mental di kampus.

Dilansir dari muhammadiyah.or.id, komitmen ini dipertegas melalui perhelatan Talkshow Inklusivitas sekaligus peluncuran UMY Magz Edisi ke-7. Acara yang mengusung tema inklusivitas tersebut berlangsung di Public Space Lantai 1 Perpustakaan UMY pada Senin (20/07/26). Ruang publik ini sengaja dipilih sebagai tempat diskusi terbuka yang merangkul seluruh kalangan.

Fokus pada Kesetaraan Fasilitas

Sekretaris UMY, Bachtiar Dwi Kurniawan, menegaskan bahwa kampusnya serius menghadirkan akses yang setara. Pihak kampus mewujudkan komitmen ini melalui penyediaan infrastruktur fisik. Kebijakan ini menyasar semua pihak tanpa memandang usia atau kondisi fisik.

“UMY berkomitmen memberikan akses nyaman dan aman bagi semua. Kami tidak membedakan antara yang lebih muda ataupun yang lebih senior. Karena itu, kami terus membangun dan memperbaiki berbagai fasilitas kampus agar dapat diakses oleh seluruh warga kampus,” ujar Bachtiar.

Infrastruktur Ramah Disabilitas

Sebagai contoh nyata, kampus telah mengusulkan pembangunan lift khusus di Masjid KH. Ahmad Dahlan UMY. Akses baru ini menghubungkan lantai satu dan dua pada bangunan ibadah tersebut. Inovasi ini bertujuan untuk mempermudah mobilitas jemaah lansia serta penyandang disabilitas sehari-hari.

Bachtiar memastikan bahwa kampus menolak segala bentuk pembatasan akses. Ia menjamin hak setiap warga kampus terpenuhi dengan baik. “Prinsipnya, UMY adalah kampus untuk semua tanpa diskriminasi,” tambahnya menegaskan.

Ekosistem Kampus Tanpa Diskriminasi

Selain infrastruktur fisik, inklusivitas ini juga hadir dalam proses pembelajaran dan pelayanan akademik. Seluruh civitas akademika kini bisa beraktivitas dengan rasa aman secara psikologis. Dengan demikian, setiap mahasiswa memiliki kesempatan setara untuk mengembangkan potensinya secara maksimal. Lebih lanjut, ia mengaitkan kebijakan ini dengan identitas institusi.

“Tentu ini sejalan dengan nilai-nilai Muhammadiyah yang menjunjung tinggi kesetaraan dan kemanusiaan. Karena itu, UMY terus berupaya menciptakan lingkungan kampus yang ramah, aman, dan memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh civitas akademika untuk berkembang tanpa diskriminasi,” ucapnya.

Ekosistem inklusif ini tentu membutuhkan kolaborasi penuh dari berbagai pihak. Oleh karena itu, semangat membangun ruang setara harus terus dipupuk. Harapannya, setiap individu dapat belajar secara aman, nyaman, dan bermartabat.

Kontributor: MPI PDM Kota Semarang
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: