SEMARANG-Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan menulis bukan lagi sekadar keterampilan teknis, melainkan strategi komunikasi yang menuntut ketepatan pesan, pemahaman audiens, serta dampak yang dapat diukur.
Hadi Santoso, S.T., M.T., Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, menegaskan bahwa content writing merupakan jembatan strategis antara hati penulis dan nurani pembaca—terutama bagi para pegiat dakwah di era digital.
Hal ini ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam kegiatan “Madrasah Media”, yang diselenggarakan oleh Bidang Media dan Komunikasi PC IMM Kota Semarang pada Ahad, (15/06/2025) . Bertempat di SMK Muhammadiyah 1 Semarang, kegiatan ini diikuti oleh 40 kader IMM dari berbagai daerah di Jawa Tengah bahkan luar provinsi, yang hadir untuk mengasah keterampilan dalam mengelola konten media secara efektif.
Menurut Hadi, content writing memiliki peran strategis dalam memperkuat efektivitas dakwah sekaligus meningkatkan kualitas komunikasi publik.
“Menulis di era digital bukan lagi perkara sulit. Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan konten berkualitas yang berdampak positif bagi masyarakat,” ujarnya.
Melihat tingginya antusiasme peserta terhadap materi copywriting, Hadi menghadirkan suasana kelas yang interaktif melalui diskusi dua arah. Hal ini dilakukan untuk menghidupkan suasana sekaligus menggali strategi komunikasi tertulis yang efektif dalam menyampaikan pesan dakwah secara luas dan bermakna.
Seni Menyampaikan Pesan dengan Strategi
Hadi menegaskan bahwa content writing bukan sekadar menulis, tetapi adalah seni menjalin komunikasi antara penulis dan pembaca. Terlebih di era kecerdasan buatan, tantangannya bukan pada kemampuan menulis, melainkan bagaimana menghasilkan konten yang berkualitas dan berdampak.

Menurutnya, komunikasi melalui tulisan digital—baik dalam bentuk artikel, caption Instagram, maupun thread di media sosial—harus memiliki tujuan yang jelas: apakah untuk menginformasikan, menginspirasi, atau membangkitkan kesadaran spiritual.
Hadi Santoso juga memperkenalkan empat pilar content writing yang menurutnya harus dipegang teguh, terutama bagi para jurnalis dakwah dan pegiat media.
Pilar pertama adalah akurasi. Dalam era banjir informasi, berita palsu dan hoaks mudah menyebar. Konten yang ditulis harus didasarkan pada fakta yang jelas dan sumber yang terpercaya. Verifikasi adalah bentuk tanggung jawab moral penulis kepada publik.
Pilar kedua adalah beretika. Konten yang baik bukan hanya tentang isi, tetapi juga tentang cara menyampaikannya. Bahasa yang kasar, menyudutkan, atau menghakimi hanya akan menciptakan polarisasi dan menjauhkan pembaca dari pesan yang disampaikan.
Pilar ketiga adalah inspiratif. Tulisan yang dapat membangun empati pembaca dengan menyajikan cerita yang relateble, pesan yang membangkitkan harapan, dan ajakan untuk berbuat baik akan jauh lebih membekas daripada sekadar informasi dingin.
Pilar terakhir ini adalah penegas: content writing yang berkah adalah yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Mulai dari kejujuran, keadilan, kasih sayang, hingga amar ma’ruf nahi munkar. Konten dakwah bukan sekadar viral, tapi harus memiliki ruh spiritual yang melekat pada setiap katanya.
Menurutnya, pendekatan ini sejalan dengan prinsip content marketing profesional, yang jika diterapkan dalam dunia dakwah, akan menghasilkan komunikasi yang tidak hanya persuasif, tetapi juga berkelanjutan.
IMM dan Tantangan di era Digital
Sebagai organisasi gerakan mahasiswa, IMM dituntut adaptif terhadap dinamika zaman, termasuk dalam strategi dakwah digital. Perubahan perilaku masyarakat, khususnya generasi muda, membuat pendekatan konvensional semakin tidak relevan.

“Dakwah hari ini harus bisa ‘berbicara’ dalam bahasa digital. Dengan strategi konten yang kuat, kita bisa menciptakan narasi yang bukan hanya menarik, tapi juga bermakna dan transformatif,” terang Hadi yang juga merupakan praktisi kehumasan itu.
Ia juga mengingatkan bahwa keberkahan dalam menulis konten tidak hanya terletak pada seberapa luas konten itu tersebar, tetapi pada niat dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
“Konten yang baik bukan hanya soal viralitas, tetapi nilai—nilai Islam, kejujuran, dan tanggung jawab sosial,” pungkasnya.
Pelatihan ini menjadi bukti bahwa content writing bukan lagi aktivitas estetika semata, melainkan strategi komunikasi yang berbasis nilai, memanfaatkan teknologi, menjangkau empati pembaca, serta mendukung keberlanjutan dakwah di era digital.
Reporter: Riki Aprianto. Fotografrer: Alam. Editor; Agung S Bakti