Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Oleh: Prof. Dr. Ahwan Fanani, Pakar Budaya dan Kajian Islam UIN Walisongo Semarang

Pernahkah Anda berhenti sejenak, di tengah hiruk-pikuk kota atau bahkan sepinya malam, dan bertanya: untuk apa sebenarnya kita ini hidup?

“Urip iku urub,” kata orang Jawa. Hidup itu adalah nyala. Sebuah ungkapan yang terdengar sederhana, tapi sesungguhnya menyembunyikan misteri paling purba: mengapa nyala ini ada, dan ke mana ia akan berpulang ketika akhirnya padam?

Jika kita hanya sibuk menyalakan diri, bergerak tanpa arah, melahap apa saja yang terhampar di depan mata, apakah itu cukup? Apakah nyala ini tidak lebih dari sekadar buih di samudra yang luas, lalu lenyap tanpa bekas?

Bagi kearifan spiritual Jawa, nyala ini bukanlah akhir dari segala pertanyaan. Justru ia adalah pembuka bagi sebuah pengembaraan filosofis yang lebih dalam: “Sangkan Paraning Dumadi”. Dari mana asal kita, dan ke mana kita akan kembali?

Bagi orang Jawa yang spiritualis, hidup sekadar “urup” takkan punya kedalaman. Sejak dini, setiap manusia diajak untuk paham asal-usulnya. Kita berasal dari “go garboning ibu,” dari setetes mani, dari saripati tanah dan tumbuhan yang hidup dari empat unsur dasar: air, angin, api, dan tanah.

Bukankah ini selaras, bahkan berjalin kelindan dengan ajaran suci Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari tanah yang dibakar, dari saripati bumi? Sebuah keselarasan kosmologis yang menakjubkan antara kearifan lokal dan wahyu Ilahi.

Maka, siapa yang mengenal dirinya, akan bisa bersikap benar. “Ngerti dadi Jowo,” kata mereka. Menjadi Jawa yang sejati adalah memahami hakikat ini, sehingga jauh dari penyakit “sopo siro sopo ingsun”—keangkuhan yang menomorsatukan diri sendiri: adigang, adigung, adigunong.

Coba perhatikan, di era digital ini, betapa mudahnya kita merasa superior, menumpuk followers, atau pamer harta. Kita sering lupa bahwa pada hakikatnya, kita semua berasal dari zat yang sama. Serpihan tanah yang diberi ruh. Kesadaran ini adalah penawar paling mujarab bagi segala bentuk kesombongan dan klaim keunggulan yang kini marak di media sosial.

Jika kita paham betul dari mana kita berasal, maka “urup” kita tak bisa lagi semau sendiri. Ia tak bisa lagi hanya berorientasi pada pemuasan nafsu atau pengumpulan materi belaka. Nyala itu harus sejalan dengan “huda,” dengan “nur,” dengan ajaran Islam, dengan syariat, dengan norma-norma luhur yang diturunkan Sang Pencipta.

Mengapa kita sering merasa hidup ini makin sesak, makin kering, meski harta melimpah? Mungkin karena “urup” kita sudah jauh dari rel yang seharusnya, jauh dari petunjuk Ilahi.

Ingatlah selalu, “urip iku mung mampir ngombe.” Hidup ini sementara, fana, tak lebih dari sekadar persinggahan untuk meneguk air pelepas dahaga. Kita takkan abadi di sini.

Pada saat itu, kita akan kembali telanjang, tanpa apapun yang kita miliki di dunia ini, melainkan hanya amal dan kesadaran kita sebagai hamba yang paham siapa dirinya. Segala yang kita kejar, yang kita genggam erat—karir cemerlang, kekayaan fantastis, popularitas instan—pada akhirnya akan kembali kepada Yang Esa, kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Bukankah Rasulullah SAW bersabda, “Hiduplah di dunia ini seolah-olah engkau adalah orang asing atau musafir?” Sebuah penegasan bahwa persinggahan kita di dunia ini hanyalah sejenak, sebuah transit menuju destinasi yang abadi. Nyala yang kita miliki saat ini, haruslah menjadi lentera yang menerangi jalan menuju kampung halaman sejati.

Jangan sampai “urup” kita hanya membakar sisa-sisa waktu, lalu padam begitu saja tanpa makna, tanpa bekal. Mari nyalakan api iman dan amal, agar “urup” ini senantiasa membawa berkah, menjadi cahaya bagi diri dan sekitar, serta menghantar kita pada keabadian yang hakiki. Ingatlah, kita punya kesempatan. Jangan sampai padam tanpa arti.

*Konten ini bisa ditonton di akun youtube @attaqwa_ngaliyan d link https://www.youtube.com/watch?v=W_P6y5nS1gw