Adil atau Miring? Makna Keadilan Suami Penentu Nasib Akhirat
SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org — Membangun mahligai rumah tangga yang harmonis ternyata butuh lebih dari sekadar modal cinta. Pasalnya, pondasi utama keluarga sakinah justru terletak pada bagaimana seorang pria menunaikan hak pasangannya secara merata. Suasana hangat menyelimuti Masjid As-Salam Wonodri saat Ustadz Danusiri, M.Ag., membedah topik sensitif namun krusial ini dalam kajian kitab Bulughul Maram, Selasa (13/01/2026). Ia menyoroti tajam betapa keadilan suami dalam rumah tangga menjadi harga mati yang akan Tuhan pertanyakan di akhirat kelak.
Pendidik kharismatik ini menjelaskan bahwa ketidakadilan bukan sekadar masalah etika sosial. Hal ini merupakan pelanggaran syariat yang memiliki konsekuensi serius bagi siapa saja yang meremehkannya. Oleh karena itu, setiap pasangan perlu memahami batasan adil yang bukan sekadar perasaan, melainkan tindakan nyata dalam keseharian.
Bahaya Sikap Pilih Kasih dan Ancaman Hari Kiamat
Selanjutnya, Ustadz Danusiri mengutip hadis riwayat Abu Hurairah yang sangat menggetarkan hati jamaah. Hadis tersebut menceritakan ancaman bagi pria yang condong hanya kepada salah satu istri jika memiliki pasangan lebih dari satu.
Bahkan, sosok ulama ini menjelaskan bahwa pelaku ketidakadilan akan bangkit di hari kiamat dengan kondisi tubuh miring sebagai bentuk penghinaan.
“Adil itu bukan soal siapa yang paling kita cintai di hati, tapi siapa yang benar-benar kita tunaikan haknya,” tegas pengisi kajian rutin tersebut.
Maka dari itu, keadilan mencakup hal-hal konkret seperti nafkah, pembagian waktu, hingga perhatian lahiriah.
Narasumber ini menilai banyak kerusakan keluarga zaman sekarang terjadi karena pengabaian terhadap adab dan tanggung jawab dasar seorang pemimpin rumah tangga.
Meneladani Kelembutan Rasulullah Menjaga Perasaan Istri
Selain itu, kajian ini mengangkat kisah luar biasa mengenai transparansi Rasulullah SAW kepada para istrinya. Bahkan dalam kondisi sakit menjelang wafat, Nabi tetap meminta izin dengan sangat santun untuk tinggal di rumah Aisyah.
Dampaknya, sikap ini menunjukkan penghormatan tertinggi terhadap hak dan perasaan perempuan. Rasulullah konsisten menyapa dan mengunjungi para istrinya setiap hari untuk memastikan mereka merasa dicintai secara martabat.
Kemudian, Ustadz Danusiri menekankan bahwa prinsip keadilan ini juga mencakup larangan keras terhadap segala bentuk kekerasan. Islam secara tegas melarang tindakan yang menyakiti pasangan, baik secara fisik maupun luka batin.
Ternyata, rumah tangga yang kuat hanya bisa tumbuh jika suami menghindari sikap egois dan ketidakterbukaan yang memicu krisis komitmen.
Fondasi Sakinah Melalui Ketundukan pada Syariat
Akhirnya, materi ini menjadi pengingat keras bagi para suami untuk kembali meninjau cara mereka memperlakukan istri di rumah.
Memahami prinsip adil sangat penting bagi seluruh pasangan, meski mereka tidak menjalani poligami. Sebab, keadilan adalah kunci utama untuk menjemput ridha Allah sekaligus mewujudkan suasana keluarga yang penuh ketenangan (sakinah).
Penulis buku agama ini menutup kajiannya dengan refleksi yang menyentuh sanubari.
Keadilan dalam rumah tangga bukan sekadar idealisme belaka, melainkan praktik nyata yang membutuhkan ilmu dan kesadaran tinggi.
Ternyata, saat seorang suami tunduk pada nilai-nilai syariat, maka Allah akan memudahkan urusan keluarganya menjadi rumah tangga yang bermartabat dan penuh limpahan rahmat.
Baca juga :
Pentingnya Dukungan Istri untuk Suami: Belajar dari Hikmah Isra Mikraj dan Khadijah