Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 3 menit baca

Pentingnya Dukungan Istri untuk Suami: Belajar dari Hikmah Isra Mikraj dan Khadijah

Tri Anisah, S.Ag

Majelis Tabligh dan Ketarjihan Aisyiyah Kota Semarang.

Pentingnya Dukungan Istri untuk Suami: Belajar dari Hikmah Isra Mikraj dan Khadijah
Tri Anisah, pengurus Aisyiyah Kota Semarang sekaligus penulis artikel opini mengenai penyebab dan dampak karhutla.

Dalam sejarah Islam, peristiwa Isra Mikraj tidak terjadi begitu saja. Peristiwa agung ini datang pada masa yang sangat berat dalam kehidupan Rasulullah SAW. Sejarah mencatat momen ini terjadi setelah Amul Huzn atau Tahun Dukacita. Jika kita mendalami hikmah Isra Mikraj, kita akan menemukan bahwa perjalanan ini adalah penghiburan Allah setelah Nabi mengalami kehilangan yang mendalam.

Mengenang Khadijah

Pada tahun ke-10 kenabian, Nabi kehilangan dua sosok yang sangat berarti. Pertama, Abu Thalib sebagai pelindung dari tekanan sosial. Kedua, Sayyidah Khadijah RA, pendamping setia yang selama ini menguatkan batin dan menopang ekonomi keluarga.

Kisah Siti Khadijah bukan sekadar cerita tentang istri biasa. Wafatnya beliau bukan hanya kehilangan seorang pendamping, tetapi kehilangan teman seperjuangan. Bagi Nabi, ini adalah pukulan yang sangat besar dari sisi perasaan maupun kehidupan sosial.

Khadijah adalah orang pertama yang memercayai kenabian Muhammad SAW. Saat beliau pulang dalam keadaan gemetar menerima wahyu, Khadijah hadir menjadi sumber ketenangan. Ketika orang lain ragu dan memusuhi, Khadijah justru memberikan keyakinan dan kekuatan.

Rasulullah SAW bersabda tentang sosok istimewanya: “Dia beriman kepadaku saat orang-orang mengingkariku, dia membenarkanku saat orang-orang mendustakanku, dan dia membantuku dengan hartanya saat orang-orang menjauh dariku.” (HR. Ahmad No. 24864).

Dari Duka Menuju Langit

Hadis di atas menunjukkan betapa sentralnya peran Khadijah. Kehilangan sosok yang memberi dukungan penuh secara perasaan, semangat, dan materi tentu sangat mengguncang Rasulullah SAW.

Namun, di balik kesedihan itu, Allah SWT menghadirkan pertolongan. Peristiwa Isra Mikraj menjadi bukti cinta Allah kepada Kekasih-Nya. Melalui Surah Al-Isra ayat 1, Allah memperjalankan hamba-Nya untuk melihat tanda-tanda kebesaran-Nya. Seolah Allah berkata, “Engkau tidak sendiri.” Jika sandaran di dunia telah tiada, maka Allah sendiri yang menjadi tempat bergantung sepenuhnya.

Refleksi Masa Kini

Peristiwa ini memberi pelajaran besar mengenai peran istri dalam Islam di zaman sekarang. Kita belajar bahwa keteguhan seorang suami dalam berdakwah atau bekerja sangat dipengaruhi oleh ketenangan di rumahnya.

Istri masa kini bisa meneladani Khadijah dengan memberikan dukungan istri untuk suami yang tulus. Jadilah tempat pulang yang menenangkan.

Ketika suami lelah menghadapi masalah di luar, istri hadir untuk menguatkan, bukan menambah beban. Dengan sikap seperti ini, rumah akan menjadi sumber energi, bukan sumber konflik.

Inilah yang membentuk keluarga yang kuat. Hikmah Isra Mikraj mengajarkan bahwa kesedihan bukanlah akhir, melainkan proses menuju derajat yang lebih tinggi.

Bagi para istri yang setia mendampingi suami, setiap dukungan, doa, dan perhatian memiliki nilai pahala besar. Sebagaimana Khadijah dikenang sepanjang sejarah, peran istri yang ikhlas juga akan menjadi jalan kemuliaan keluarga di hadapan Allah SWT.

Baca juga:

Isra Mikraj: Hadiah dari Langit

Makna Isra Miraj: Melawan Radikalisme dan Memulihkan Krisis Kemanusiaan

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: