Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 3 menit baca

Makna Isra Miraj: Melawan Radikalisme dan Memulihkan Krisis Kemanusiaan

Drs. Nurbini Amat, M.S.I.

Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Fakultas dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo

Makna Isra Miraj: Melawan Radikalisme dan Memulihkan Krisis Kemanusiaan
Drs. H. Nurbini, M.Si., penulis artikel opini tentang penanganan karhutla dan tanggung jawab ekologis.

Banyak dari kita yang masih terjebak memperlakukan peringatan hari besar Islam sebatas agenda ritual tahunan. Padahal, penggalian makna Isra Miraj seharusnya menjadi momentum reflektif untuk meninjau ulang kondisi kemanusiaan kita.

Saat ini, nurani kemanusiaan terus mengalami erosi. Kita menyaksikan merebaknya tindakan kekerasan dan radikalisme yang mencederai nilai-nilai luhur kehidupan berbangsa.

Kondisi ini semakin parah di tengah arus modernitas. Zaman bergerak cepat namun kerap mengabaikan dimensi etis dan spiritual manusia. Akibatnya, proses dehumanisasi atau penurunan derajat kemanusiaan menjadi keniscayaan yang sulit kita hindari.

Krisis Kepercayaan di Tengah Masyarakat

Praktik kekerasan yang mengisi ruang publik perlahan menyingkirkan nilai kemanusiaan. Dampaknya sangat serius. Kepercayaan sosial (social trust) melemah dan modal sosial terkikis habis. Masyarakat akhirnya terjebak dalam situasi saling curiga. Padahal, kepercayaan adalah fondasi utama bagi kemajuan dan kemandirian sebuah bangsa.

Fenomena ini melahirkan masyarakat dengan tingkat kepercayaan rendah (low trust society). Data Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) Kementerian Agama memang menunjukkan skor kerukunan yang fluktuatif namun terjaga, tetapi kita tidak boleh lengah. Gesekan sosial masih nyata. Rasa aman menjadi ilusi dan ketegangan sering muncul bahkan di antara sesama warga.

Wacana terorisme yang berulang turut memperkeruh suasana. Publik sering bertanya secara sensitif: apakah kekerasan tersebut bersumber dari ajaran agama?

Bagi umat Islam, tudingan ini tentu menggugah kesadaran kritis. Kita harus menegaskan bahwa terorisme bukanlah manifestasi ajaran agama. Ia adalah ekspresi dari krisis moral dan penyimpangan nilai kemanusiaan.

Makna Isra Miraj sebagai Jalan Pembebasan

Dalam konteks inilah, kita perlu merumuskan ulang makna Isra Miraj. Peristiwa ini harus menjadi ruang refleksi untuk mengembalikan fungsi agama sebagai kekuatan pembebas dan agen transformasi sosial. Kita dapat memaknai perjalanan Nabi ini sebagai ajakan melakukan “kenaikan batin”. Umat Islam perlu mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus memperbaiki relasi dengan sesama manusia.

Perjalanan ini membawa misi ganda. Nabi tidak hanya naik menuju langit, tetapi juga membawa misi kembali ke bumi. Spiritualitas yang autentik harus berbuah pada kepedulian sosial.

Ibadah shalat menjadi inti pesan peristiwa ini. Shalat berfungsi membebaskan manusia dari rutinitas mekanistik dan dominasi materialisme. Ibadah ini mengarahkan kita pada kesadaran diri yang merdeka dan bertanggung jawab.

Muhammad Iqbal, seorang pemikir muslim terkemuka, pernah menegaskan hal serupa. Ia menyebut shalat bertujuan memulihkan keutuhan ego manusia agar tidak terjebak dalam kelelahan hidup modern. Shalat menjadi sarana pembebasan batin yang menumbuhkan stabilitas nurani dan energi moral untuk berbuat kebajikan.

Spiritualitas Profetik dan Tanggung Jawab Sosial

Al-Qur’an menegaskan posisi umat Islam sebagai umat terbaik yang hadir untuk manusia. Tugas utamanya adalah menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Kuntowijoyo mengelaborasi pesan ini dalam gagasan ilmu sosial profetik. Ia menempatkan manusia sebagai agen perubahan sosial melalui tiga prinsip: transendensi, liberasi, dan emansipasi.

Penghayatan terhadap makna Isra Miraj menunjukkan bahwa pengalaman religius sejati selalu berkelindan dengan tanggung jawab kemanusiaan. Kesatuan manusia dengan Tuhan seharusnya melahirkan komitmen untuk menghadirkan nilai-nilai ketuhanan dalam realitas sosial. Nilai tersebut berupa keadilan, kasih sayang, dan perdamaian.

Wajah kemanusiaan mungkin sedang memudar akibat kekerasan dan ekstremisme. Namun, hikmah perjalanan Nabi mengingatkan bahwa agama tidak pernah membenarkan teror dan kebencian.

Sebaliknya, agama hadir untuk memuliakan manusia. Menghidupkan kembali nilai kemanusiaan merupakan tugas kolektif, terutama bagi para pemuka agama dan intelektual.

Baca juga:

Pentingnya Dukungan Istri untuk Suami: Belajar dari Hikmah Isra Mikraj dan Khadijah

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: