Strategi Abad Kedua: Dakwah Komunitas Muhammadiyah Sasar Daerah 3T dan Kaum Marginal
SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Menjawab tantangan zaman, Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi meluncurkan Strategi Dakwah Abad Kedua. Langkah strategis ini menitikfokuskan aksi nyata pada daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) serta wilayah pelosok Indonesia.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof.Dr.H.Haedar Nashir,M.Si, memimpin langsung pembukaan Rakornas LDK di Aula GKB 2 Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS). Acara ini menghadirkan jajaran tokoh penting nasional dan daerah pada Kamis malam saat pembukaan (29/01/26) .
Tamu undangan yang hadir antara lain Menteri Koordinator Pangan RI, Dr. (hc). H. Zulkifli Hasan, SE. MM, dan Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (Purn) Ahmad Luthfi, SH, S.St, MK. serta Rektor UNIMUS, Prof. Dr. H. Masrukhi, M.Pd.
Apresiasi Gubernur dan Dukungan Menko Pangan
Dalam sambutannya, Gubernur Jawa Tengah Komjen Pol (Purn) Ahmad Luthfi, SH, S.St, MK, memberikan pujian tinggi. Ia mengapresiasi langkah Muhammadiyah yang konsisten menjaga stabilitas sosial melalui jalur dakwah.
“Kami mengucapkan selamat dan apresiasi kepada Muhammadiyah yang sudah melaksanakan Rakornas LDK saat ini,” ujar Ahmad Luthfi. Menurutnya, sinergi organisasi keagamaan dengan pemerintah adalah kunci pembangunan bangsa.
Senada dengan hal itu, Menko Pangan RI Dr. (hc). H. Zulkifli Hasan, SE. MM, menunjukkan dukungan nyata bagi dunia pendidikan. Ia menyerahkan kontribusi Rp1 Miliar masing-masing untuk Universitas Muhammadiyah Bireuen di daerah bencana Aceh dan Universitas Muhammadiyah Magelang.
Selain bantuan institusi, tokoh nasional ini juga memberikan apresiasi kepada 20 orang penerima Anugerah Dai Komunitas. Ia menyerahkan uang saku sebesar Rp10 juta kepada setiap dai yang sebelumnya telah mendapat tiket umroh dari pimpinan pusat.
Transformasi Dakwah Inklusif di Wilayah Pelosok
Melalui arahannya, Prof.Dr.H.Haedar Nashir,M.Si, menegaskan pentingnya dakwah inklusif. Ia menjelaskan bahwa transformasi dakwah kini menyentuh kawasan pinggiran kota hingga pedesaan secara masif.
“Semangat kami adalah menanamkan nilai agama yang menekankan spiritualitas dan akhlak mulia,” ungkap Haedar. Selain itu, gerakan ini bertujuan membangun solidaritas sosial tanpa memandang perbedaan latar belakang di daerah 3T.
Saat ini, kekuatan dakwah tersebut melibatkan 38 LDK tingkat provinsi yang tersebar di 900 titik daerah 3T. Fokus utamanya adalah pemberdayaan masyarakat agar menjadi kekuatan yang memajukan persatuan bangsa.
Gerakan Senyap Menyentuh Kaum Marginal
Ketua PWM Jawa Tengah, Dr. KH. Tafsir, M.Ag, menambahkan bahwa pihaknya telah meluluskan 400 da’i siap terjun. Ia menekankan bahwa dakwah harus menyentuh “lorong-lorong gelap” karena setiap manusia berhak mendapatkan hidayah.
“Kita harus hadir di tempat yang dianggap buruk agar nilai Islam tetap tersampaikan,” tegas Tafsir. Ia mencontohkan keberanian LDK dalam merangkul komunitas marginal seperti waria sebagai bentuk dakwah tanpa sekat.
Gerakan Senyap untuk Kegembiraan Umat
Di sisi lain, Ketua LDK PP Muhammadiyah, Dr. H. Muhammad Arifin, M.Ag, memberikan apresiasi tinggi kepada para pejuang dakwah. Ia menyebut dai komunitas sebagai pejuang tulus yang bekerja tanpa pamrih di garis depan.
“Dai komunitas harus menjemput bola dan meluangkan waktu serta tenaga tanpa mengharapkan imbalan materi,” tegas Arifin. Hal ini tentu berbeda dengan dakwah mimbar konvensional yang audiensnya sudah siap.
Ia menyimpulkan bahwa dakwah komunitas adalah gerakan senyap namun masif yang fokus pada aksi nyata. Melalui langkah di daerah 3T ini, Muhammadiyah terus berupaya membawa kegembiraan serta perbaikan bagi seluruh umat.
Baca juga :
300 Peserta Padati Pembukaan Rakornas LDK Muhammadiyah 2026 di UNIMUS
Sentuh Kaum Marjinal, Anugerah Insan Da’i Komunitas Jadi Sorotan Rakornas LDK