Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 4 menit baca

Merawat Warisan Luhur: Tradisi Ruwahan Jelang Ramadan dan Simbol Persatuan Umat

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Fungsionaris MUI Kota Semarang, Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus

Merawat Warisan Luhur: Tradisi Ruwahan Jelang Ramadan dan Simbol Persatuan Umat
Aneka sajian khas dalam Tradisi Ruwahan Jelang Ramadan yang sarat makna. Mulai dari kue apem yang menyimbolkan ampunan, hingga pasung dan kolak sebagai media dakwah kultural Islam dalam menyambut bulan suci.

Di tengah gempuran zaman modern, tradisi Ruwahan jelang Ramadan tetap lestari sebagai perekat umat. Melalui makna kuliner Ruwahan yang mendalam, tradisi ini mengajak masyarakat untuk saling berbagi dan memperkuat ukhuwah. Kegiatan ini menjadi bentuk nyata persiapan puasa Ramadan yang penuh berkah.

Momentum ini biasanya berlangsung saat bulan Sya’ban, atau bulan Ruwah, menginjak paruh kedua. Masyarakat pedesaan hingga perkotaan serentak melaksanakan ritual sosial ini. Mereka saling memberi aneka makanan khas seperti pasung, pisang (gedhang), kolak, ketan, dan apem.

Sejarah tidak mencatat secara pasti siapa pencipta tradisi ini. Namun, praktik baik tersebut hidup subur di tengah masyarakat. Para ulama terdahulu menggunakan makanan sebagai alat peraga dakwah kultural Islam yang cerdas.

Strategi ini muncul karena kondisi masyarakat kala itu masih sangat tradisional. Mereka masih lekat dengan nuansa mistis dan belum memahami bahasa Arab. Oleh karena itu, simbol kuliner hadir sebagai jembatan pemahaman agama yang efektif.

Kini, kita hidup di era teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Meski demikian, kita perlu menengok kembali keaslian metode dakwah klasik ini. Alat peraga dalam tradisi Ruwahan jelang Ramadan menawarkan autentisitas yang nyata.

Makanan Ruwahan hadir tanpa kepalsuan, berbeda dengan konten digital yang rentan hoaks. Tradisi ini mengajarkan ta’awun (tolong-menolong) secara langsung. Kita belajar mempraktikkan kesalehan sosial dalam dunia nyata, bukan sekadar simulasi maya.

Makna Kuliner Ruwahan dan Filosofi Kue Apem

Kelima jenis makanan dalam tradisi ini memiliki tafsir mendalam. Masyarakat mengenal istilah ini sebagai jarwo dosok yang menyerap kosa kata bahasa Arab. Inilah inti dari makna kuliner Ruwahan yang perlu kita pahami.

Pertama adalah Pasung, kue berbentuk kerucut. Kata ini berkaitan dengan faṣûmû, yang berarti “berpuasalah kalian”. Kedua adalah Gedhang (pisang) yang berasal dari kata ghaddan, artinya “esok pagi”.

Gabungan pasung dan gedhang menjadi sebuah ajakan kuat. Pesannya berbunyi, “Berpuasalah kalian esok pagi di bulan Ramadan.” Ajakan ini tersampaikan dengan cara yang sangat halus dan menyenangkan.

Selanjutnya adalah Ketan. Nama ini berasal dari kata kemutan, yang bermakna “mengingat dengan kuat”. Umat Islam harus bersungguh-sungguh melakukan persiapan puasa Ramadan dengan hati mantap.

Makanan yang paling populer tentu saja Apem. Filosofi kue apem berasal dari bahasa Arab ‘afuwwun, yang berarti “ampunan”. Terakhir, Kolak berkaitan dengan kata khalaqa, merujuk pada Sang Pencipta, Allah SWT.

Simbolisme ini menyampaikan pesan yang sangat lugas. Ia mengingatkan kita untuk berpuasa sebagai ibadah kepada Allah agar memperoleh ampunan dosa. Pesan teologis ini tersaji indah dalam sepiring hidangan.

Resep racikan makanan ini sejatinya adalah tafsir amali atau praktik nyata. Hal ini sangat runtut dengan perintah kewajiban puasa dalam firman Allah SWT:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَععَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

(Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa – QS al-Baqarah/2: 183).

Solidaritas dan Persatuan Umat

Melestarikan tradisi Ruwahan jelang Ramadan tidak mengandung mudarat. Kegiatan ini justru memperkuat akidah dengan cara santun. Isinya memuat ajakan mulia agar umat bersiap menyambut bulan suci.

Fenomena ini memiliki semangat yang sama dengan tren “Jumat Berkah”. Ketika makanan hadir sebagai sedekah, masjid menjadi lebih makmur. Jemaah pun merasakan perhatian dan penghargaan lebih.

Secara khusus, filosofi ketan (kraketan) juga bermakna saling melekat. Ini menjadi simbol solidaritas fisik dan mental antar sesama muslim. Masjid menjadi pusat integrasi sosial yang ramah bagi semua kalangan.

Anak-anak hingga kelompok difabel menjadi bagian integral di dalamnya. Melalui tradisi ini, semua lapisan masyarakat merasa diuwongke (mendapat pengakuan). Mereka merasakan ikatan kuat sebagai bagian tubuh umat Islam.

Menyambut bulan suci akan lebih bermakna jika melibatkan seluruh elemen masyarakat. Tradisi berbagi makanan di masjid mampu menggugah semangat baru. Kita pun bisa menjalani ibadah puasa dengan kualitas lebih baik.

Selain itu, kita akan lebih mudah mewujudkan toleransi terhadap perbedaan. Kita menjadi sering berinteraksi satu sama lain dalam kegiatan positif. Sebaliknya, sikap eksklusif hanya akan menyuburkan kecurigaan dan kebencian.

Oleh sebab itu, kita perlu melestarikan halaqah kebersamaan di masjid melalui sajian khas ini. Langkah ini merupakan upaya nyata merawat kerukunan. Pada akhirnya, persatuan kaum muslimin menjadi kuat di atas pondasi rida Allah SWT.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: