Ramadhan 2026: 3 Bekal ‘Wajib’ Ini Lebih Penting dari Sekadar Stok Sirup di Rumah!
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Banyak orang seringkali terjebak dalam rutinitas fisik saat menyambut bulan suci, padahal esensi puasa jauh lebih dalam dari sekadar menahan lapar. Buktinya, KH Fahrur Rozi M.Ag memberikan peringatan keras dalam pengajian Tarhib Ramadhan 1447 Hijriah di Masjid As Salam Wonodri, Sabtu (14/2/2026).
Tokoh agama ini menegaskan bahwa puasa merupakan latihan batin untuk menundukkan hawa nafsu dan membersihkan jiwa secara total. Pasalnya, seringkali orang yang kuat secara fisik justru gagal menjaga kualitas puasanya karena lemahnya benteng iman. Alhasil, jamaah yang memadati masjid malam itu diajak untuk menata ulang niat mereka sebelum memasuki bulan penuh ampunan tersebut.
Tiga Bekal Utama: Rohani, Ilmu, hingga Harta
Selanjutnya, KH Fahrur Rozi merinci tiga bekal krusial yang harus setiap muslim miliki untuk menjemput takwa dengan sempurna. Pertama, rohani yang bersih menjadi syarat mutlak, karena puasa tidak akan bermakna jika hati masih menyimpan dendam atau iri hati. KH Fahrur Rozi mengingatkan bahwa kebencian hanya akan membuat jiwa tetap kotor meskipun sedang menjalankan ibadah.
Kedua, kesiapan ilmu menjadi pondasi agar umat tidak bingung mengenai hukum fikih puasa saat Ramadhan sudah berjalan.
“Jangan sampai Ramadhan datang, tapi kita masih bingung soal hukumnya,” ujar sosok penceramah tersebut dengan nada tegas.
Ketiga, kesiapan harta bukan untuk ajang pamer, melainkan untuk memperkuat anggaran sedekah dan membantu sesama. Ternyata, keseimbangan antara kesiapan batin dan pemahaman ilmu akan melahirkan kualitas ibadah yang jauh lebih bermakna.
Berhenti Sibuk Bersih-Bersih Rumah di Akhir Bulan
Menariknya, KH Fahrur Rozi menyoroti kebiasaan unik masyarakat yang justru sibuk membersihkan rumah saat Ramadhan hendak berakhir. Buktinya, kiai ini mengajak jamaah untuk merapikan lingkungan dan masjid sejak jauh-jauh hari agar fokus ibadah tidak terganggu. Strategi ini bertujuan agar umat bisa lebih maksimal menjalankan iktikaf di sepuluh hari terakhir daripada sibuk dengan urusan domestik.
Tokoh pendidik tersebut menyindir minimnya gempita penyambutan Ramadhan yang terkadang terasa “biasa-biasa saja” di beberapa tempat.
“Seolah-olah Ramadhan datang begitu saja, tanpa disambut. Padahal, ini bulan yang paling mulia,” sindirnya halus.
Oleh karena itu, kegembiraan menyambut bulan suci harus terlihat nyata melalui sikap yang ramah dan suasana masjid yang nyaman. Dampaknya, atmosfer ibadah akan terasa lebih khusyuk dan menginspirasi banyak orang untuk turut meramaikan rumah Allah.
Rekonsiliasi Hati dan Toleransi Beragama
Kemudian, aspek yang paling menyentuh adalah pembahasan mengenai dosa kepada sesama manusia yang hanya bisa tuntas dengan saling memaafkan. Buktinya, KH Fahrur Rozi menjelaskan bahwa istigfar saja tidak cukup jika seseorang masih memiliki ganjalan salah kepada orang lain. Maka dari itu, Ramadhan harus menjadi momentum rekonsiliasi total, baik hubungan dengan Sang Pencipta maupun antarmanusia.
Ketua Takmir Masjid, AM Jumai, juga menambahkan pesan penting mengenai kesehatan fisik bagi para lansia agar tetap bugar selama berpuasa.
“Kita tunjukkan bahwa Islam adalah rahmat bagi semua,” tegas AM Jumai sembari menyinggung pentingnya toleransi karena Ramadhan tahun ini berdekatan dengan Imlek.
Akhirnya, pengajian malam itu memberikan pemahaman baru bahwa Ramadhan adalah janji untuk perubahan hidup yang lebih baik. Sejatinya, hati yang ringan dan damai adalah modal utama untuk menjemput kemenangan di hari raya nanti. Mari kita bersihkan jiwa dan siapkan bekal terbaik agar Ramadhan tahun ini menjadi titik balik spiritualitas kita semua.