Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Kritik Tajam! Hindari Puasa Tanpa Makna, Strategi Transformasi Diri di Bulan Ramadhan

17 Februari 2026, 07:56 WIB 3 menit baca
Seorang pria (Imron Hamzah) mengenakan kemeja oranye kecokelatan dengan aksen garis di bahu dan peci abu-abu, berdiri sambil memegang mikrofon dengan tangan kanan dan tangan kiri diletakkan di perut. Ia berdiri di samping layar proyektor putih yang menampilkan slide berjudul 'HEBAT: Herbalist & Business Achievement Training' dengan latar hijau kekuningan, tanggal 15 Februari 2026, dan foto narasumber Warsito serta Siti Fadilah. Latar belakang berupa dinding putih dengan jendela kayu biru dan jam dinding yang menunjukkan pukul 11.55. Suasana terlihat seperti ruang pertemuan semi-terbuka.
Bulan perubahan: Imron Hamzah saat memberikan materi Tarhib Ramadhan di Gunungpati, Semarang (15/02/2026). Beliau menekankan bahwa Ramadhan adalah momentum Syahrut Taghyir atau bulan untuk mengubah nasib melalui perbaikan akhlak, doa yang serius, dan kerja keras yang nyata.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Banyak orang terjebak dalam rutinitas puasa yang itu-itu saja tanpa merasakan perubahan nyata dalam hidupnya. Buktinya, dalam agenda Tarhib Ramadhan di Gunungpati, terungkap sebuah pesan tajam bahwa Ramadhan seharusnya menjadi musim untuk mengubah nasib (15/2/2026).

Imron Hamzah mengajak jamaah untuk berani keluar dari zona nyaman religius yang hanya berisi ritual tanpa makna. Alhasil, setiap individu kini tertantang untuk menjadikan bulan suci sebagai titik balik transformasi kehidupan spiritual maupun ekonomi.

Saatnya Ramadhan Ubah Nasib Anda

Selanjutnya, pendakwah enerjik ini memperkenalkan istilah Syahrut Taghyir atau bulan perubahan sebagai identitas asli Ramadhan. Menariknya, Imron Hamzah menegaskan bahwa puasa yang benar akan melahirkan kejujuran dan disiplin yang berdampak langsung pada kualitas hidup. Sosok ustadz ini merasa prihatin melihat fenomena Ramadhan yang seringkali hanya menjadi festival kuliner atau konten media sosial semata.

Imron Hamzah mendorong setiap orang untuk memiliki agenda hidup yang jelas selama menjalankan ibadah puasa.

“Ramadhan itu bukan sekadar menahan lapar. Ramadhan adalah momentum mengubah nasib,” tegas Imron di hadapan jamaah.

Tujuannya, agar umat Islam tidak lagi menyia-nyiakan waktu hanya untuk tidur atau sekadar menunggu waktu berbuka. Maka dari itu, perubahan akhlak dan peningkatan kerja keras harus menjadi indikator keberhasilan puasa seseorang.

Kekuatan Doa Penolak Takdir di Tengah Ayat Puasa

Kemudian, materi kajian membedah rahasia posisi ayat doa yang terjepit di antara rangkaian ayat puasa dalam Al-Qur’an. Buktinya, posisi ini memberikan sinyal ilahi bahwa Ramadhan adalah waktu terbaik bagi hamba untuk mengajukan “proposal hidup” kepada Allah. Ustadz peserta Sekolah Tabligh ini menilai banyak orang rajin berpuasa namun justru miskin harapan akan masa depannya sendiri.

Imron Hamzah mengingatkan bahwa doa yang tulus memiliki daya tawar spiritual yang mampu mengubah ketetapan Allah.

“Jangan lalui Ramadhan tanpa agenda hidup. Allah seolah berkata: puasamu jangan kosong dari permohonan,” ujarnya dengan penuh penekanan.

Dampaknya, jamaah mulai menyadari bahwa Lailatul Qadar bukan sekadar berburu pahala, melainkan peluang emas untuk “menawar” nasib setahun ke depan. Ternyata, perpaduan doa yang serius dan usaha yang nyata merupakan kunci utama untuk menjemput perubahan takdir tersebut.

Hapus Ritual Kosong dan Sindiran Pedas Taubat Medsos

Terakhir, sindiran pedas muncul mengenai fenomena orang yang rajin mengunggah menu buka puasa namun lupa mengunggah taubat dalam hatinya. Buktinya, kepedulian sosial seringkali menipis di tengah keramaian festival Ramadhan yang bersifat formalitas belaka. Oleh karena itu, Imron Hamzah mengajak semua pihak untuk mengembalikan keseriusan ibadah seperti generasi terdahulu yang begitu memuliakan setiap detiknya.

Sinergi antara kesadaran batin dan aksi nyata akan membuat Ramadhan tahun ini jauh lebih berbobot daripada tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau ingin hidup berubah, mulailah di Ramadhan. Perbaiki shalatmu, doamu, akhlakmu, dan kerja kerasmu,” pungkas Imron Hamzah.

Akhirnya, ilmu ini membuka mata bahwa menunggu nasib hanya akan membawa stagnasi, sedangkan menjemput takdir akan membawa kemajuan. Sejatinya, Ramadhan adalah pintu perubahan yang Allah buka selebar-lebarnya bagi siapa saja yang mau melangkah masuk. Mari kita manfaatkan momentum emas ini untuk memperbaiki segala aspek kehidupan sebelum bulan suci ini pergi meninggalkan kita.

Kontributor: Imam Abu Maulana
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: