Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Guncang Semarang! Aksi 400 Siswa Muhammadiyah di Dugderan 2026 Curi Perhatian

17 Februari 2026, 20:07 WIB • 3 menit baca
Sekelompok peserta karnaval pria dan wanita berdiri di tengah jalan raya kota Semarang yang ramai. Di bagian depan, tiga orang wanita mengenakan hijab merah dan hitam memegang spanduk besar berwarna hijau tua. Spanduk tersebut bertuliskan 'Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang' dengan tulisan 'Marhaban Yaa Ramadhan' yang menonjol di tengah, serta menyertakan logo Muhammadiyah dan logo Kota Semarang. Di latar belakang, terlihat kerumunan peserta lain dengan berbagai atribut seperti kembang manggar, payung berwarna-warni, dan bangunan hotel tinggi serta pertokoan (Grab Kitchen). Langit di atas tampak berawan kelabu
Menjaga tradisi, menebar syiar: Barisan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang saat memeriahkan karnaval budaya Dugderan di area Balaikota (16/02/2026). Melalui spanduk bertema 'Bersama Dalam Budaya Toleransi dalam Tradisi', Muhammadiyah mengerahkan 400 siswa dan berbagai elemen organisasi untuk memperkuat identitas budaya lokal menjelang Ramadan 1447 Hijriah.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Ribuan pasang mata tertuju pada kemeriahan tradisi turun-temurun di jantung Kota Semarang pada Senin (16/02/2026). Buktinya, ribuan peserta memadati area Balaikota untuk mengikuti karnaval budaya Dugderan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan. Semangat luar biasa terpancar dari barisan panjang yang mengubah jalanan menjadi panggung seni yang sangat megah.

Keluarga besar Muhammadiyah Kota Semarang tidak ketinggalan mengambil peran besar dalam gelar budaya kali ini. Alhasil, keterlibatan aktif 400 siswa dari berbagai jenjang sekolah sukses menciptakan atmosfer syiar yang sangat kental dan edukatif. Maka dari itu, kehadiran pasukan ini menjadi salah satu daya tarik utama yang paling publik nantikan di sepanjang rute pawai.

Parade Unik: Dari Wali Songo hingga Tapak Suci

Selanjutnya, barisan siswa Muhammadiyah tampil sangat memukau dengan beragam atribut budaya dan religi yang sangat kreatif. Ternyata, SMK Muhammadiyah menghadirkan representasi Wali Songo yang lengkap dengan puluhan santri berbaju putih yang sangat ikonik. Pemandangan ini berpadu manis dengan aksi tangkas pasukan Tapak Suci dan ketegasan formasi Paskibra dari sekolah-sekolah unggulan.

Wakil Ketua PDM Kota Semarang yang membidangi LSBO, Jumadi M.Pd, memberikan apresiasi setinggi langit atas dedikasi para siswa dan guru pendamping.

“Keluarga besar Muhammadiyah Kota Semarang ikut serta mengapresiasi kegiatan gelar budaya Dugderan ini dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan,” ungkap Jumadi saat mendampingi peserta di Balaikota.

Dampaknya, setiap elemen mulai dari kostum adat, manggar, hingga kain batik yang siswa kenakan berhasil mencerminkan kekayaan budaya lokal. Pasalnya, koordinasi yang matang dari tiap sekolah membuat persiapan yang rumit ini terlihat sangat rapi dan mengesankan di hadapan warga.

Guncangan Drumband di Tengah Terik Matahari

Kemudian, gemuruh suara drumband dari SMP Muhammadiyah 1 dan SMP Muhammadiyah 5 sukses memecah keheningan jalanan Semarang. Buktinya, meskipun matahari bersinar sangat terik, ratusan siswa tetap bergerak lincah mengikuti irama musik tanpa menurunkan semangat sedikit pun. Oleh karena itu, ketangguhan para pelajar ini membuktikan bahwa kecintaan terhadap budaya dan agama mampu mengalahkan rasa lelah.

Barisan drumband yang berada di posisi depan dan belakang berfungsi sebagai penggerak energi bagi seluruh rombongan karnaval.

“Dengan kebersamaan dan saling mendukung, maka budaya Kota Semarang insyaallah akan terus-menerus menjadi budaya yang baik,” tambah sosok pimpinan PDM tersebut dengan penuh optimisme.

Menariknya, barisan Hizbul Wathon juga ikut memberikan warna tersendiri dengan seragam kepanduan yang tampak sangat gagah. Sejatinya, keberagaman item yang Muhammadiyah tampilkan ini menunjukkan betapa luasnya spektrum pembinaan bakat yang ada di lingkungan sekolah persyarikatan.

Merawat Tradisi demi Kejayaan Budaya Kota

Terakhir, karnaval Dugderan ini bukan sekadar pawai biasa, melainkan simbol persatuan berbagai komunitas dan organisasi masyarakat di Semarang. Buktinya, keterlibatan aktif pelajar Muhammadiyah memperkuat posisi organisasi ini sebagai pilar penting dalam pelestarian tradisi lokal. Maka dari itu, kolaborasi lintas instansi ini diharapkan dapat terus berlangsung setiap tahun agar identitas kota tetap terjaga.

Jumadi menegaskan bahwa Muhammadiyah akan selalu hadir dan tidak ingin ketinggalan dalam setiap momentum besar gelar budaya kota.

“Intinya acara Dugderan dan gelar budaya itu sangat positif, dan siswa-siswi Muhammadiyah Kota Semarang turut andil dalam memeriahkannya,” tegas Jumadi menutup wawancara.

Kemeriahan warna-warni di sepanjang jalan ini menjadi kado indah bagi warga Semarang sebelum memasuki bulan puasa. Sejatinya, semangat yang membara dari para generasi muda ini adalah modal utama bagi keberlangsungan budaya luhur bangsa di masa depan. Mari kita sambut Ramadan dengan kegembiraan yang sama seperti yang terpancar dari wajah-wajah peserta karnaval hari ini!

Kontributor: Tim MPI PDM Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: