Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Self-Healing Spiritual: Rahasia Puasa untuk Mental Stabil

1 Maret 2026, 21:16 WIB 2 menit baca
Self-Healing Spiritual: Rahasia Puasa untuk Mental Stabil
Screenshot

SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org Ramadan bukan sekadar menahan lapar, melainkan momen Self-Healing Spiritual terbaik untuk membersihkan racun hati dan pikiran. Pesan mendalam ini menggema di Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang saat Prof. Dr. H. Djamaluddin Darwis, M.A. memberikan tausiyahnya pada Jumat (27/2/2026).

Sang profesor mengajak jamaah melihat hakekat puasa sebagai metode pemulihan jiwa yang paling efektif di tengah tekanan hidup modern.

Dosen senior ini berpendapat bahwa manusia sering kali merasa lelah secara mental karena terlalu fokus mengejar duniawi. Oleh karena itu, hadirnya bulan suci menjadi jeda yang sangat berharga. Melalui ibadah ini, setiap insan memiliki kesempatan emas melakukan latihan spiritual intensif guna menyeimbangkan kembali kesehatan batin.

Mengisi Ulang Energi Iman

Prof. Djamaluddin menganalogikan kehidupan manusia seperti sebuah mesin yang bekerja tanpa henti. Tanpa perawatan tepat, mesin tersebut akan panas dan akhirnya rusak. “Sabar itu ibarat oli atau pelumas kehidupan. Puasa membantu kita melatih sabar dan ikhlas agar mesin jiwa tetap berjalan mulus,” tutur pria bersahaja tersebut dengan tenang.

Ia menambahkan bahwa proses Self-Healing Spiritual terjadi saat kita mampu menekan ego. Ketika seseorang mengendalikan amarah dan nafsu, secara otomatis energi iman di dalam dadanya akan meningkat. Kekuatan inilah yang membuat seorang mukmin tetap tangguh menghadapi berbagai ujian hidup yang berat.

Seni Menanam Kebaikan

Selain fokus pada perbaikan diri, sosok pendidik ini menekankan pentingnya interaksi sosial yang positif. Ia percaya bahwa kunci ketenangan hati adalah terus menanam kebaikan kepada sesama. Hidup yang bermanfaat bagi orang lain akan memberikan umpan balik positif bagi kesehatan mental kita sendiri.

“Orang yang benar-benar ikhlas akan menikmati hidup yang sangat ringan. Mereka tidak lagi haus akan pujian manusia karena fokusnya hanya kepada Sang Pencipta,” jelasnya. Dengan melepaskan beban ekspektasi terhadap sesama, kita sebenarnya sedang melakukan Self-Healing Spiritual yang membebaskan jiwa dari rasa kecewa.

Transformasi Jiwa yang Berkelanjutan

Sebagai penutup yang menginspirasi, tokoh ulama ini mengingatkan bahwa puasa adalah madrasah nyata. Jika kita konsisten berlatih selama sebulan penuh, kedamaian itu akan menetap dalam waktu yang lama. Transformasi ini bukan hanya untuk bulan Ramadhan, melainkan modal utama untuk menjalani hidup di bulan-bulan berikutnya.

Mari jadikan setiap detik di bulan suci ini sebagai investasi untuk masa depan jiwa yang lebih damai. Sebab, hanya hati yang tenang yang mampu melihat keindahan di balik setiap ketetapan Tuhan.

Baca juga :

Inilah Alasan Mengapa Hidup Tanpa ‘Rem’ Bisa Hancur Sebelum Ramadhan Usai

Strategi Menjaga Kualitas Ibadah Puasa agar Tidak Hanya Haus dan Lapar

Kontributor: Halim Junior
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: