Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Siapa Golongan yang Selamat? Refleksi Mendalam di Bulan Ramadhan

1 Maret 2026, 21:30 WIB 2 menit baca
Siapa Golongan yang Selamat? Refleksi Mendalam di Bulan Ramadhan
Screenshot

SEMARANG BARAT, muhammadiyahsemarangkota.org- Di tengah riuhnya klaim kebenaran, mencari tahu siapa sebenarnya Golongan yang Selamat menjadi perjalanan spiritual yang menggetarkan hati jamaah di Semarang Timur. Suasana syahdu menyelimuti Masjid At-Taqwa Nurul Huda, Rejomulyo, pada Sabtu malam (28/2). Puluhan warga dari berbagai latar belakang menyatu dalam barisan saf yang rapat untuk menunaikan

Amalan Ramadhan 2026.

Keheningan malam itu terasa berbeda saat Ustadz Imam Santoso Abu Maulana naik ke mimbar. Sosok alumni Sekolah Tabligh PDM Kota Semarang ini membawa pesan yang mendalam. Ia membedah kembali Hadits perpecahan umat yang menyebutkan bahwa umat Islam akan terbagi menjadi 73 golongan di akhir zaman.

Peta Menuju Keselamatan Hakiki

Ustadz Imam menegaskan bahwa peringatan Rasulullah tersebut merupakan panduan arah, bukan sekadar ramalan. Menurut sang ustadz, identitas sebagai Golongan yang Selamat tidak lahir dari besarnya organisasi atau tingginya popularitas sebuah kelompok di media sosial.

“Keselamatan adalah buah dari kesetiaan kita. Kita bisa menjadi Golongan yang Selamat jika berani memegang teguh Sunnah Rasulullah secara murni, meski dunia menawarkan jalan pintas yang lebih menarik,” ujar Abu Maulana ini dengan nada yang tenang.

Ia menjelaskan bahwa penyimpangan sejarah sering kali bermula saat akal manusia merasa lebih pintar daripada wahyu. Oleh karena itu, pengajar ini mengajak jamaah untuk kembali menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai kompas utama dalam setiap gerak-gerik ibadah.

Memperkuat Ukhuwah di Tengah Perbedaan

Selanjutnya, diskusi tentang Golongan yang Selamat ini tidak lantas membuat jamaah menjadi eksklusif. Sebaliknya, narasumber ini mengingatkan pentingnya menjaga Ukhuwah Islamiyah. Ia menekankan bahwa mengikuti jejak Nabi berarti harus memiliki akhlak yang lembut terhadap sesama saudara seiman.

“Kita sering kali sibuk berdebat tentang siapa yang paling benar. Namun, kita justru sering lupa menjalankan Sunnah Rasulullah dalam mencintai saudara sendiri,” tambahnya di depan para jamaah.

Menuju Hari Kemenangan

Melalui momen Tarawih ini, jamaah diajak merenung bahwa beragama bukan sekadar rutinitas tanpa makna. Menjadi bagian dari kelompok yang selamat menuntut konsistensi dalam menjaga kemurnian aqidah dan keikhlasan hati. Di tengah dunia yang kian bising, berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah adalah satu-satunya jalan untuk pulang dengan damai.

Akhirnya, Amalan Ramadhan 2026 ini menjadi kesempatan emas bagi siapa saja untuk berbenah diri. Mari kita meluruskan niat, menghidupkan kembali sunnah yang mulai redup, dan memastikan setiap langkah kita selalu berada di bawah bimbingan wahyu Illahi.

Baca juga :

4 Syarat Kemenangan Umat Islam di Era Modern

Menuju Jiwa Tenang, Begini Cara Tepat Lakukan Muhasabah Bulan Ramadan

Kontributor: Imam Abu Maulana
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: