Ramadan Syahrut Tarbiyah: Anda Tipe Pedagang atau Buruh Saat Beribadah?
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Jangan-jangan ibadah kita selama ini hanya hitung-hitungan untung rugi. Dr. Aang Kunaepi M.Ag mengupas tuntas tipe penyembah Tuhan dalam kultum Ramadan di Masjid At Taqwa Ngaliyan, Wates, Semarang pada Kamis (05/03/26). Akademisi ini menegaskan bahwa momen Ramadan Syahrut Tarbiyah harus menjadi pintu gerbang pembersihan jiwa, bukan sekadar ritual menahan lapar.
Ketua Majelis Tabligh Kota Semarang tersebut menjelaskan bahwa pintu surga tidak terbuka secara otomatis hanya karena kita berpuasa. Sebaliknya, surga terbuka bagi mereka yang memilih mengetuknya melalui pintu tobat. Ia mengutip Surat Ash-Shams untuk mengingatkan pentingnya taubat di bulan Ramadan (Surat Ash-Shams). Menurutnya, keberuntungan hanya milik jiwa yang bersih, sementara kerugian nyata menimpa hati yang kotor.
Mengenali Perbedaan Tipe Ibadah Pedagang vs Buruh
Dalam uraiannya, Dr. Aang meminjam pemikiran Ibnu Khaldun mengenai motivasi manusia saat menyembah Tuhan. Sosok ini membagi manusia ke dalam dua golongan rendah sebelum mencapai level tertinggi. Pertama adalah tipe “Pedagang” yang selalu menghitung untung-rugi pahala demi mengejar surga. Kedua adalah tipe “Buruh” yang menjalankan kewajiban karena merasa tertekan atau takut akan cambuk neraka.
“Namun, tipe yang paling mulia adalah mereka yang melakukan ibadah semata-mata mencari ridha Allah,” tegas pria yang juga aktif di persyarikatan ini. Ia menambahkan, “Level ini memposisikan cinta di atas segalanya, di mana seorang hamba tidak lagi mengejar ‘omzet’ pahala, melainkan kenyamanan dalam dekapan rida-Nya.” Itulah cara mendapatkan rida Allah di bulan Ramadan yang sesungguhnya.
Memahami Bahwa Rezeki Bukan Cuma Saldo
Selain motivasi ibadah, Dr. Aang juga meluruskan pandangan masyarakat tentang berkah materi. Ia menyebut bahwa rezeki bukan cuma saldo rekening. Merujuk pada pemikiran Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi, harta (Al-Maal) justru menempati posisi terendah. Di atasnya ada kesehatan dan kehadiran anak-anak saleh. Sementara itu, puncak rezeki adalah perasaan rida kepada ketentuan Allah. Saat hati sudah rida, apa pun keadaan dunianya, ia akan merasa cukup dan tenang.
Rahasia Afwun: Menghapus Dosa Hingga Akar
Hal menarik lainnya adalah penjelasan mengenai arti Afwun vs Ghafur. Selama ini, banyak orang menganggap keduanya sama. Padahal, Ghafur berarti Allah mengampuni namun catatan dosa tetap ada di buku amal. Sebaliknya, Afwun adalah level pemaafan yang jauh lebih dalam.
“Allah membentangkan tangan-Nya siang dan malam hanya untuk menunggu hamba-Nya pulang membawa tobat,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa Afwun adalah saat Allah menghapuskan dosa kita sampai ke akar-akarnya hingga tidak menyisakan jejak sedikit pun. Keadilan Tuhan pun begitu indah; satu niat baik dicatat berlipat ganda, sedangkan niat buruk yang tak terlaksana justru tak dihitung sebagai dosa.
Oleh karena itu, Dr. Aang mengajak jamaah untuk memaafkan tanpa menunggu Lebaran. Ia menekankan bahwa memaafkan seharusnya menjadi gaya hidup, bukan tradisi tahunan. Melalui momentum Ramadan Syahrut Tarbiyah ini, kita memiliki kesempatan emas untuk membersihkan ego dan melepaskan dendam kapan saja. Sebab, jiwa yang bersih adalah jiwa yang mampu melapangkan dada bagi sesama.
Baca juga :
Rahasia Keikhlasan Beribadah: Menyelami Kedalaman Surah Al-Bayyinah
Mungkin Ramadhan Terakhir! Jadikan Al-Quran Penyejuk Hati Sekarang