Perayaan puncak Lebaran 2026 memang sudah berlalu. Muhammadiyah telah merayakannya pada 20 Maret. Sementara itu, Nahdlatul Ulama dan pemerintah menetapkannya pada 21 Maret. Meskipun ada perbedaan, suasana saling memaafkan masih terasa hari ini. Tradisi ini terus berlanjut di berbagai tempat.
Masyarakat sangat antusias merajut kembali tali silaturahmi. Namun, tahukah kita sejarah halal bihalal di Nusantara ini? Sebenarnya, tradisi ini bukan ajaran langsung dari Timur Tengah. Sebaliknya, kebiasaan ini murni merupakan hasil ijtihad kultural ulama Nusantara. Oleh karena itu, kita bisa melacak jejaknya melalui cerita rakyat di Jawa Timur.
Sayembara dan Dakwah Syekh Maulana Ishaq
Kisah bermula dari pendakwah bernama Syekh Maulana Ishaq. Beliau berlayar dari Samudra Pasai menuju Kadipaten Blambangan. Selanjutnya, Syekh Ishaq mengikuti sebuah sayembara kerajaan. Beliau berusaha menyembuhkan putri Prabu Mahudoro yang bernama Retno Roro Sambodhi.
Syarat sayembara itu sungguh berat. Jika gagal, sang pendakwah harus menyerahkan nyawanya. Namun, jika berhasil, beliau berhak menikahi sang putri. Selain itu, raja juga memberikan kebebasan berdakwah di wilayah Blambangan.
Sang putri rupanya menderita sakit parah. Beliau mengalami buta, tuli, bisu, dan lumpuh. Meskipun demikian, banyak orang memaknai penyakit ini sebagai kiasan semata. Sang putri sebenarnya sedang mengalami kebuntuan spiritual.
Akhirnya, sang putri sembuh berkat dialog mendalam dengan Syekh Ishaq. Oleh sebab itu, sang putri mantap memutuskan masuk Islam. Keputusan ini kelak mengubah wajah keraton selamanya.
Krisis Keraton dan Asal-Usul idulfitri Lokal
Keputusan sang putri memicu gelombang mualaf besar-besaran. Para dayang dan istri prajurit beramai-ramai mengikuti langkah majikan mereka. Akan tetapi, transisi agama ini memunculkan masalah sosial baru. Para istri menolak melayani suami mereka yang belum seiman.
Akibatnya, hubungan banyak rumah tangga keraton menjadi beku. Para pejabat kerajaan pun merasa sangat resah. Mereka bahkan mengancam akan mengusir sang ulama. Oleh karena itu, raja meminta Syekh Ishaq segera memulihkan kerukunan. Di titik inilah sejarah halal bihalal mulai terbentuk secara praktis.
Menyikapi hal ini, Syekh Ishaq meminta waktu hingga bulan suci Ramadan tiba. Setelah umat Islam berpuasa sebulan penuh, beliau merancang perayaan idulfitri perdana. Sang putri menyajikan ketupat “Dewi Shinta” dan opor ayam. Tujuannya adalah menghormati kearifan lokal keraton.
Makna Saling Memaafkan Pasca-Lebaran 2026
Pada puncak acara, sang putri menunjukkan sebuah adegan mengharukan. Beliau bersimpuh dan mencium lutut suaminya. Tindakan ini meniru tradisi penghormatan Hindu purba. Sambil menangis, sang putri meminta maaf kepada suaminya.
Melihat ketulusan istrinya, sang suami turut menangis haru. Tentu saja, adegan ini memicu tangis massal di keraton. Para prajurit saling berpelukan dan memaafkan istri mereka. Akhirnya, mereka ikut mengucapkan kalimat syahadat bersama-sama. Peristiwa inilah yang melahirkan esensi makna saling memaafkan dan mencairkan kebekuan hubungan.
Silsilah keturunan Syekh Ishaq dan sang putri memang kerap menjadi diskursus sejarawan. Apalagi, versi babad ini mengklaim mereka melahirkan tokoh besar, seperti Sunan Bonang hingga Sultan Fatahillah. Meskipun demikian, nilai dakwah kultural dalam sejarah halal bihalal ini sungguh tidak bisa dibantah.
Terlebih lagi, catatan sejarah modern juga mendokumentasikan peran penting KH Wahab Chasbullah. Ia mengukuhkan istilah ini secara nasional atas permintaan Presiden Soekarno pada tahun 1948 demi meredakan ketegangan politik antarelite bangsa.
Pada akhirnya, tradisi idulfitri di Indonesia membuktikan betapa lentur dan sejuknya dakwah Islam saat merangkul budaya lokal. Pemahaman atas sejarah halal bihalal membuat praktik ini bukan lagi sekadar milik umat Islam semata. Tradisi ini telah menjadi warisan peradaban Nusantara yang inklusif. Tentu saja, budaya ini akan terus merawat kerukunan dan selalu relevan melintasi zaman.
Baca juga: