Distribusi Kurban Muhammadiyah di Semarang Sasar Mualaf dan Lapas
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Masyarakat di kawasan Makam Bergota dan warga binaan Lapas Bulu akan menerima penyaluran kurban tahun ini. Sinergi antara LDK PDM (Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Daerah Muhammadiyah) Kota Semarang dan Takmir Masjid At-Taqwa Wates Ngaliyan memastikan rencana tersebut. Upaya ini merupakan komitmen nyata organisasi untuk memeratakan asupan gizi bagi kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.
Saat ini, panitia mulai memetakan titik distribusi di wilayah pinggiran Kota Semarang. Langkah tersebut bertujuan agar manfaat ibadah kurban tidak hanya menumpuk di pusat kota saja. Sebaliknya, gerakan ini ingin menjangkau warga yang selama ini jarang menikmati bantuan daging hewan kurban.
Menjangkau Mualaf dan Warga Binaan Lapas
Sasaran utama kurban kali ini mencakup komunitas mualaf dan warga binaan lembaga pemasyarakatan. Wakil Ketua PDM Kota Semarang sekaligus Ketua Takmir Masjid At-Taqwa Wates Ngaliyan, Prof. Ahwan Fanani M.Ag., menjelaskan bahwa kurban harus menjadi sarana pembinaan umat. Ia terutama menaruh perhatian pada kondisi mualaf yang sering menghadapi beban ekonomi berat.
Pernyataan tersebut ia sampaikan saat wawancara mengenai persiapan Idul Adha di Kantor PDM Kota Semarang, Rabu (08/04/2026). Ia menekankan bahwa kurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan. Lebih dari itu, kurban adalah instrumen penting untuk merangkul mereka yang terpinggirkan secara sosial.
“Mualaf itu kadang-kadang membawa beban dan tanggungan. Oleh karena itu, sekadar menyapa dan memberi perhatian melalui kurban adalah upaya kita untuk merengkuh sesama muslim,” ujar Prof. Ahwan Fanani M.Ag.
Kurban sebagai Kekuatan Sosial
Selain mualaf, Prof. Ahwan juga mengarahkan distribusi ke titik rawan seperti Lapas Bulu Kelas 2A dan pemukiman lereng Makam Bergota. Ia berpendapat bahwa kehadiran agama harus menyentuh sisi kemanusiaan (humanisme). Dengan begitu, masyarakat di kawasan terisolasi dapat merasakan manfaat nyata dari institusi keagamaan.
“Kita harap kurban ini menjadi kekuatan sosial, bukan sekadar ritual rutin saja. Tujuannya adalah membangun sinergitas agar masyarakat tidak merasa dibiarkan tanpa perhatian,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua LDK PDM Kota Semarang, Ir. Pudjo Koeswhoro, mendukung penuh langkah strategis tersebut. Ia setuju bahwa dakwah Muhammadiyah memang harus menyasar akar rumput dan kawasan yang selama ini belum terjamah bantuan.
“LDK harus memasuki kawasan pinggiran untuk membangun persaudaraan di wilayah rawan. Harapannya, mereka merasakan bahwa gerakan agama juga memperhatikan kesejahteraan warga,” tegas Ir. Pudjo Koeswhoro.
Sebagai langkah penutup, tim gabungan kini mulai mematangkan persiapan operasional melalui sosialisasi dan penggalangan dana. Prof. Ahwan berharap langkah ini menjadi motor penggerak bagi komunitas lain. Ia mengajak seluruh elemen untuk lebih peduli pada kaum papa di Semarang dalam menyambut Idul Adha 1447 H.
Baca juga :
Kebersamaan Beragama : Daging Kurban Muhammadiyah Semarang Sentuh Hati Non-Muslim