Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Gebrakan Budaya Nusantara: Cara SMK Muhammadiyah 1 Semarang Tangkis Tren Impor

17 April 2026, 10:48 WIB 3 menit baca
Foto panggung utama di dalam sebuah gedung yang menampilkan pertunjukan seni tradisional oleh sekelompok siswa pria dan wanita. Di bagian tengah panggung, seorang siswa pria berdiri gagah mengenakan kostum adat Jawa lengkap dengan kain batik, rompi, dan aksesori kepala, dikelilingi oleh penari lain yang duduk bersimpuh dalam posisi hormat. Di latar belakang, terdapat layar LED besar bertuliskan "Pagelaran Seni Budaya Tradisional Nusantara IV SMK Muhammadiyah 1 Semarang". Panggung dihiasi dengan payung tradisional berwarna kuning keemasan di sisi kiri dan kanan, serta tanaman hias di bagian depan panggung. Suasana ruangan tampak formal dan megah dengan langit-langit berdesain modern.
MELAWAN TREN IMPOR: Penampilan memukau siswa SMK Muhammadiyah 1 Semarang saat membawakan tarian tradisional di Wisma Perdamaian, Semarang, Kamis (16/4/2026). Melalui Pagelaran Seni Budaya Tradisional Nusantara IV ini, pihak sekolah berupaya membekali para calon lulusan dengan kepribadian yang kuat dan kebanggaan terhadap identitas budaya lokal di tengah gempuran tren mancanegara.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Sorot lampu panggung menyinari kemegahan busana adat saat puluhan remaja kelas 12 menari dengan penuh penghayatan. Mereka tidak sedang mengikuti tren mancanegara, melainkan sedang menghidupkan kembali Budaya Nusantara lewat pagelaran seni ke-IV pada Kamis (16/4/2026). Momentum ini membuktikan bahwa semangat melestarikan tradisi tetap membara di tangan generasi Z.

Gedung Wisma Perdamaian menjadi saksi betapa luwesnya jemari siswa SMK Muhammadiyah 1 Semarang saat kompetisi menggambar sketsa berlangsung. Perayaan ini semakin lengkap dengan pemilihan kostum terbaik untuk menyambut Hari Kartini yang jatuh dalam waktu dekat. Aroma tradisi Jawa yang kental sengaja dihadirkan agar para calon lulusan ini tidak kehilangan arah saat terjun ke masyarakat nanti.

Kehadiran Drs. Sutarto, MM, selaku Ketua Majelis Dikdasmen PNF Kota Semarang, memberikan suntikan semangat bagi seluruh peserta. Di samping itu, H. Jumadi, M.Pd., dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah turut mengapresiasi keberanian sekolah mengangkat tema tradisional. Kehadiran para pimpinan ini mempertegas dukungan penuh organisasi terhadap pengembangan karakter berbasis budaya lokal.

Mencuri Hati Remaja Melalui Kepribadian Lokal

Kepala SMK Muhammadiyah 1 Semarang, Lukman, menegaskan bahwa generasi muda harus memiliki kepribadian yang kuat dalam kebudayaan sendiri. Ia merasa gelisah melihat tren saat ini yang membuat anak-anak lebih mencintai budaya asing daripada warisan leluhur. Melalui pagelaran ini, sekolah ingin memastikan anak didik mereka tetap menjadi pionir yang bangga dengan identitas Indonesia.

Pihak sekolah memilih Wisma Perdamaian karena memiliki misi khusus untuk membawa suara kebudayaan langsung ke jantung Jawa Tengah. Lukman berharap langkah ini bisa menyadarkan masyarakat luas agar tidak membiarkan budaya lokal kalah bersaing dengan gempuran luar negeri. Upaya ini menjadi strategi jitu sekolah dalam membentengi mentalitas siswa melalui nilai-nilai luhur tradisional.

“Kita harus berkepribadian dalam kebudayaan sendiri, jangan sampai anak muda kita lebih bangga dengan produk impor daripada jati diri bangsa,” tegas Lukman.

Cetak Profesional yang Berhati Baik dan Sopan

Drs. Sutarto, MM, menekankan bahwa potensi siswa di bidang teknologi maupun keuangan harus tetap berbalut adab yang baik. Pendidikan di lingkungan Muhammadiyah memang mengolah intelektual sekaligus menata sopan santun para siswanya sejak dini. Harapannya, setelah lulus nanti, mereka tidak hanya jago secara teknis tetapi juga menunjukkan perilaku teladan.

H. Jumadi, M.Pd., juga memberikan apresiasi tinggi atas keberhasilan sekolah memadukan pendidikan formal dengan keterampilan berbudaya. Baginya, pembekalan seni dan tradisi merupakan investasi jangka panjang agar para lulusan mampu beradaptasi dengan bijak di masyarakat. Sekolah menganggap bekal ini jauh lebih bernilai daripada sekadar angka di atas ijazah saat mereka berkiprah nanti.

“Kita olah intelektualnya, tapi hatinya juga kita tata agar mereka menjadi anak-anak yang profesional dan membantu pemerintah mengurangi penyimpangan anak muda,” tutur Drs. Sutarto, MM.

Kontributor: Rizqi Aulia
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: