Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Makna Surat At-Takatsur: Bahaya Cinta Dunia dalam Islam, Alarm Keras Bagi Kita

8 Mei 2026, 11:47 WIB • 3 menit baca
Ilustrasi konseptual sebuah timbangan cahaya yang membandingkan berat hati emas yang bersinar dengan berbagai simbol kemewahan duniawi dan ikon media sosial di atas latar belakang siluet masjid dan langit malam.
Menyeimbangkan hati: Ilustrasi ini menggambarkan pesan utama Surat At-Takatsur mengenai pentingnya menjaga hati dari dominasi materi dan kemewahan duniawi yang fana.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org — Di era di mana status sosial diukur dari apa yang tampak di layar, bahaya cinta dunia dalam Islam menjadi pengingat bahwa semua kemewahan ini hanyalah fatamorgana yang melalaikan. Pesan mendalam ini menggema kuat di Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang pada Kamis siang (7/5/2026), saat para jamaah berkumpul menyimak kultum Dzuhur yang inspiratif.

Ustaz Mukri, sang pemberi tausiyah, mengajak jamaah menyelami kembali makna Surat At-Takatsur. Sang ustaz menjelaskan bahwa surat ini merupakan teguran keras bagi siapa saja yang terjebak dalam perlombaan materi tanpa ujung. Menurutnya, manusia sering kali kehilangan arah hanya demi mengejar angka, harta, dan pengakuan semu di mata manusia lainnya.

Jebakan Materi dan Kelalaian Manusia

Dalam penjelasannya mengenai tafsir Surat At-Takatsur ayat 1-8, Ustaz Mukri menekankan betapa tipisnya batas antara mencari nafkah dan ambisi buta. Ia memaparkan bahwa kesadaran manusia sering kali datang terlambat. Seringnya, seseorang baru menyadari kekosongan hatinya ketika usia telah habis atau saat maut sudah menjemput.

“Kita harus benar-benar waspada terhadap bahaya cinta dunia dalam Islam. Surat At-Takatsur mengingatkan kita agar jangan sampai kesibukan duniawi membuat kita lalai dari mengingat Allah SWT,” tegas Ustaz Mukri. Ia juga mengingatkan bahwa setiap helai pakaian dan setiap rupiah yang kita miliki akan melewati proses hisab yang panjang di akhirat kelak.

Melawan Tren Flexing dengan Kekuatan Syukur

Selain itu, kajian ini menyoroti fenomena flexing menurut Islam yang kini merambah ke berbagai lapisan masyarakat. Budaya pamer ini bukan sekadar masalah sosial, melainkan cerminan dari hati yang mulai terjangkit penyakit cinta dunia yang berlebihan. Sebagai penawar, pembicara ini membagikan kiat mengenai cara menumbuhkan rasa syukur di tengah gempuran tren kemewahan.

Ia menjelaskan bahwa rasa syukur merupakan benteng utama agar hati tetap tenang meski tidak memiliki segalanya. Dengan bersyukur, seseorang mampu melihat nikmat-nikmat kecil yang sering kali luput dari pandangan mata yang terlalu fokus pada kemegahan milik orang lain.

“Bekerja dan menjadi sukses adalah hal yang baik. Namun, jangan biarkan hati Anda dikuasai oleh ambisi duniawi secara berlebihan. Kita perlu menyeimbangkan antara usaha di bumi dan persiapan untuk kehidupan abadi,” tambah pria tersebut di depan para jamaah yang menyimak dengan khidmat.

Pesan Refleksi untuk Kehidupan Modern

Sebagai penutup, tausiyah ini meninggalkan kesan mendalam bagi setiap individu yang hadir. Memahami bahaya cinta dunia dalam Islam sejatinya bukan berarti meninggalkan urusan dunia sepenuhnya. Namun, hal ini adalah cara agar kita memposisikan dunia hanya di tangan, bukan di dalam hati.

Melalui refleksi ini, jamaah diharapkan pulang dengan semangat baru untuk lebih menghargai keberkahan hidup. Pada akhirnya, ketenangan sejati tidak muncul dari seberapa banyak yang kita kumpulkan, melainkan dari seberapa besar rasa syukur yang kita miliki kepada Sang Pencipta.

Kontributor: Halim Zaqi
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: