Jumat Pertama di Makkah, Pesan Kematian di Balik Ihram Sentuh Hati Jemaah Haji Muhammadiyah
MAKKAH, muhammadiyahsemarangkota.org– Ruangan itu memang bukan masjid megah dengan pilar-pilar berhias kaligrafi emas. Meski begitu, getaran spiritual yang merambat di udara pada Jumat pertama di Makkah ini jauh melampaui batas-batas dinding temboknya.
Di sanalah, jemaah haji Muhammadiyah Semarang meresapi khutbah haji menyentuh yang mengingatkan rapuhnya kehidupan. Khutbah yang sekaligus membongkar makna terdalam dari filosofi kain ihram yang mereka kenakan.
Enam hari sebelumnya, tepat pada Sabtu (9/5/2026), rombongan tamu Allah ini menjejakkan kaki pertama kali di Makkah. Suasana haru dan tangis kebahagiaan seketika pecah saat itu.
Namun, seiring berjalannya waktu, euforia kedatangan perlahan mengendap. Gelombang emosi itu kini berganti menjadi ruang kontemplasi yang sunyi. Perubahan suasana batin ini memuncak saat mereka mendengarkan pesan spiritual dari Dr. Mafrukhi.
Berdiri di hadapan jemaahnya, Ketua kafilah jemaah haji Muhammadiyah kloter 28 SOC Semarang tersebut tidak sekadar menyajikan ceramah normatif. Ia menarik kesadaran ratusan pendengarnya pada makna esensial di balik rukun Islam kelima ini.
Mengawali pesannya dengan Surat Al-Hajj ayat 27, ia menegaskan bahwa seluruh rangkaian gerakan di Tanah Suci bukanlah rutinitas fisik tanpa jiwa. Setiap langkah menyimpannya ibrah atau pelajaran kehidupan yang maha luas.
Lebih lanjut, Dr. Mafrukhi mengupas tuntas realitas di balik lembaran kain yang tengah membalut tubuh para jemaah pria. Kain putih tak berjahit itu seolah diwajibkan untuk meruntuhkan tembok-tembok kasta yang selama ini dibangun oleh manusia.
Di titik ini, sang khatib menyuarakan kembali semangat keadilan dari peristiwa Haji Wada’. “Tidak lebih utama bangsa Arab atas bangsa di luar Arab. Begitu pun sebaliknya. Yang membedakan takwanya,” tegas Dr. Mafrukhi, menggemakan ulang pesan luhur Nabi Muhammad SAW yang meruntuhkan segala bentuk diskriminasi.
Mengingat Kematian di Puncak Kehidupan
Memasuki pertengahan khutbah, suasana ruangan terasa semakin hening. Pesan berikutnya meluncur bagai anak panah yang langsung menembus sanubari. Sang khatib kini mengangkat lembaran kain tersebut—yang awalnya menjadi simbol pelepasan status duniawi—sebagai pengingat akan batas akhir perjalanan.
Dr. Mafrukhi membedah makna ini dengan intonasi yang menggugah empati. “Pakaian ihram mirip dengan kain kafan,” ungkapnya mengingatkan jemaah. “Kita diingatkan akan kematian yang pasti akan datang dan tidak diketahui kapan datangnya. Kita harus selalu siap.”
Pernyataan lugas itu sukses menyapu bersih sisa-sisa ego di dalam dada. Pesan tajam tersebut menyadarkan mereka bahwa melepaskan pakaian biasa identik dengan melucuti kesombongan.. Pakaian yang kerap menjadi tameng keangkuhan dan lambang kejayaan, kini tak lagi memiliki nilai di mata Sang Pencipta.
Dr. Mafrukhi kemudian membawa alur kesadaran ini menuju pusaran Ka’bah.. Sang khatib menjelaskan bahwa prosesi tawaf menyimpan rahasia pergerakan yang luar biasa. Jutaan manusia dari berbagai benua menyatu dalam gerak dan satu tujuan yang sama, memusatkan pusaran hidupnya murni hanya kepada Allah SWT.
“Bergerak terus tanpa lelah adalah gambaran rindu dan cinta kepada Allah,” pungkasnya. Sebuah konklusi puitis yang mengubah rasa lelah fisik akibat terik cuaca Arab Saudi menjadi energi spiritual yang tidak akan pernah padam.
Pada akhirnya, momen Jumat pertama di Makkah ini menjadi lebih dari sekadar pemenuhan rukun ibadah bagi jemaah haji Muhammadiyah Semarang. Melalui rangkaian khutbah haji menyentuh tersebut, mereka tak hanya memetik filosofi kain ihram sebagai simbol kesetaraan universal, tetapi juga sebagai simulasi kain kafan kehidupan. Sebuah tamparan spiritual yang manis, mengingatkan bahwa kelak, manusia tidak akan membawa pulang satu pun gelar saat menghadap Ilahi, kecuali selembar kain putih dan hati yang berserah diri.