Terkena Teguran Langsung di Tanah Suci, Inilah Kisah Jamaah Haji Semarang
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Pengalaman pahit terkena teguran langsung di Tanah Suci menjadi kenangan yang tidak akan pernah terlupakan bagi seorang jamaah haji asal Kota Semarang. Peristiwa ajaib yang meremukkan rasa sombong tersebut terjadi tepat di depan Kabah tatkala bisikan halus keangkuhan mulai menyelinap di dalam dada.
Kisah haru penuh cermin kehidupan ini mengalir dari Drs. H. Mafrukhi, M.Pd. sesaat sebelum pengajian Syukuran Alumni Haji di Aula Rumah Dinas Wali Kota Semarang pada Ahad (26/7/2026). Pengasuh rombongan ibadah tersebut membagikan kesaksian jujur mengenai cara Allah SWT menegur kekhilafannya secara instan tanpa tunda.
Sosok yang mengemban amanah sebagai Ketua Kafilah KBIHU Muhammadiyah PDM Kota Semarang musim haji 2026 ini membagikan deretan peristiwa ajaib yang meremukkan logika manusia. Rangkaian kisah nyata ini membuktikan betapa manusia sama sekali tidak memiliki daya di hadapan Sang Maha Kuasa.
Oleh karena itu, Pengasuh Rombongan Haji Musim 2026 tersebut menuturkan peristiwa unik saat memandang sekawanan burung di atas pelataran Masjidilharam. Hanya gara-gara terbersit kekhawatiran kotoran burung mengenai kepalanya, kotoran tersebut benar-benar jatuh saat itu juga. Namun, anehnya noda itu menghilang tanpa bekas begitu salat usai.
Jalan Terbuka Saat Pasrah, Terlempar Jauh Ketika Mengandalkan Diri Sendiri
Dinamika batin paling membekas melingkupi perjalanannya saat hendak mendekati Hajar Aswad. Pada hari pertama, ia berdoa secara khusyuk dan pasrah secara total. Sikap rendah hati tersebut membuka celah rapat hingga ia berhasil mencium batu mulia itu.
Namun, bisikan halus berupa rasa mampu mulai tumbuh di dalam dirinya pada hari kedua. Ia melangkah menuju Hajar Aswad hanya bermodal tenaga fisik tanpa memohon doa. Langkahnya memang berhasil mencapai titik depan Hajar Aswad, tetapi peristiwa ajaib mendadak menimpanya.
Benturan kepala yang sangat ringan dari jamaah lain membuat tubuhnya terlempar jauh ke belakang. Ia tersungkur di tengah kerumunan manusia tanpa ada dorongan keras dari siapa pun. Sebuah kekuatan tak kasat mata sedang menampar rasa sombong di dalam dadanya.
“Saya tergelincir dalam kesombongan yang sangat halus karena merasa mampu tanpa memohon pertolongan Allah. Allah menegur saya bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk menyelamatkan hati saya dari penyakit takabur,” kata Mafrukhi saat membeberkan pergolakan batinnya.
Sebelum Pintu Tobat Tertutup
Lebih lanjut, peristiwa mengejutkan di Tanah Suci sebenarnya menjadi cermin pembelajaran yang berlaku di mana saja, baik di rumah, kantor, maupun lingkungan kerja. Manusia sering kali terjebak menganggap keberhasilan hidup sebagai buah dari kecerdasan, jabatan, relasi, atau kekuatan pribadi semata.
Padahal, satu detik saja Allah mencabut pertolongan-Nya, seluruh kebanggaan duniawi tersebut berubah menjadi kelemahan yang sangat memalukan. Rasa penyesalan tidak akan lagi berguna tatkala kematian menjemput manusia yang terus merasa benar tanpa sempat bertobat.
Maka dari itu, Tokoh Muhammadiyah Semarang tersebut mengajak masyarakat untuk selalu rajin melakukan introspeksi diri sebelum teguran yang lebih menyakitkan datang. Kerendahan hati di hadapan Allah menjadi satu-satunya benteng agar manusia tidak direndahkan di hadapan sesama.
“Teguran Allah yang paling mengerikan bukanlah ketika kita dijatuhkan, melainkan ketika kita dibiarkan terus merasa benar hingga ajal datang tanpa sempat bertobat. Saat itu penyesalan sudah tidak lagi berguna, karena pintu kembali telah tertutup untuk selamanya,” tutur Drs. H. Mafrukhi, M.Pd. mengakhiri pengakuannya.