Jangan Sampai Kotor Lagi Setelah Pulang, Khutbah Ini Ingatkan Jemaah Titik Balik Arafah
ARAFAH, muhammadiyahsemarangkota.org — Menjaga kesucian diri setelah pulang dari tanah suci ternyata jauh lebih sulit daripada meraihnya. Oleh karena itu, momentum wukuf harus menjadi sebuah titik balik Arafah yang merombak total seluruh perjalanan hidup seorang hamba. Penegasan emosional tersebut menggema secara syahdu di tengah Padang Arafah pada Selasa (26/5/2026).
Dalam pelaksanaan wukuf 9 Zulhah 1447 Hijriah kemarin, ratusan jemaah haji Kloter 28 SOC Semarang tampak menangis haru mendengarkan untaian nasihat suci. Pembimbing Ibadah Kloter sekaligus Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Semarang, Drs. H. Nurbini, M.Si., bertindak langsung sebagai khatib. Menariknya, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo ini menyajikan materi khotbah yang sangat menohok realitas kehidupan modern.
Melalui mimbar khutbah yang agung tersebut, Nurbini mengingatkan bahwa Allah SWT sedang membanggakan para jemaah di hadapan penduduk langit. Pasalnya, para raga yang datang dari berbagai penjuru dunia ini rela berpasrah diri dalam kondisi kusut dan berdebu demi memburu ampunan. Kondisi tersebut menjadi waktu terbaik bagi umat Muslim untuk meluruhkan dosa-dosa masa lalu secara total.
Rahasia Mengubah Perilaku Demi Mengejar Garansi Surga
Lebih lanjut, khatib mengupas makna sejati dari predikat haji mabrur yang menjadi impian tertinggi setiap tamu Allah. Sebab, esensi dari kemabruran bukan terletak pada gelar sosial, melainkan pada perubahan batin yang nyata. Artinya, ibadah haji wajib membersihkan hati dari segala penyakit rohani dan memperbaiki perilaku sosial jemaah sebelum bersanding dengan masyarakat kembali.
Menurut Nurbini, haji yang sukses adalah haji yang mampu mendekatkan diri seorang hamba kepada Sang Pencipta secara konsisten. Namun demikian, ujian sesungguhnya baru akan dimulai saat para jemaah melangkahkan kaki keluar dari kawasan suci Makkah. Oleh sebab itu, jemaah harus memanfaatkan momentum emas ini sebagai hari keputusan untuk melahirkan diri yang baru.
“Hari ini adalah hari keputusan: Apakah kita akan kembali seperti dulu, atau menjadi hamba yang baru? Maka jangan pulang, kecuali sebagai hamba yang baru,” tutur Nurbini dengan nada bergetar di hadapan jemaah Kloter 28 SOC Semarang.
Tanpa adanya komitmen perubahan, ritual wukuf hanya akan menjadi aktivitas fisik yang melelahkan tanpa bekas spiritual. Pasalnya, Rasulullah SAW sudah memberikan garansi mutlak bahwa tidak ada balasan lain bagi haji mabrur kecuali surga Allah. Langkah batin inilah yang harus jemaah bawa pulang ke tanah air sebagai bekal abadi sepanjang hayat.
Taktik Menjaga Kesucian Jiwa dari Jeratan Dosa yang Dianggap Biasa
Memasuki bagian inti khutbah, suasana tenda berubah semakin hening saat khatib membongkar tantangan berat di era modern. Pasalnya, jemaah akan langsung berhadapan dengan fitnah dunia yang melalaikan dan menjerumuskan begitu tiba di tanah air. Salah satu ancaman terbesar yang paling nyata di zaman ini adalah paparan teknologi digital yang merusak moral dan ibadah.
Saat ini banyak sekali manusia yang terjebak dalam kelalaian bermuamalah akibat tidak bijak menggunakan perangkat teknologi. Selain itu, fenomena menyedihkan lainnya adalah maraknya perbuatan dosa yang kini sudah dianggap sebagai hal biasa oleh publik. Kondisi tersebut terjadi karena banyak orang melakukannya secara terang-terangan tanpa ada lagi rasa malu di ruang digital.
“Bersegeralah kalian melakukan amal-amal kebaikan sebelum datang berbagai fitnah. Jangan sampai kita suci di Arafah, tetapi kotor kembali setelah pulang,” tegas Wakil Ketua PDM Kota Semarang tersebut dalam khotbahnya.
Sebagai penutup khutbah, petugas (Tim Pembimbing Haji Indonesia) TPHI ini mengajak seluruh jemaah untuk memperbanyak tobat sebelum bertolak meninggalkan Padang Arafah. Selanjutnya, rangkaian ibadah ditutup dengan doa bersama yang khusyuk untuk memohon perlindungan dari tipu daya duniawi. Pada akhirnya, jemaah diharapkan mampu mengawal nilai-nilai titik balik Arafah ini agar tetap menyala hingga akhir hayat mereka.