Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Suhu Ekstrem Sentuh 47 Derajat, Perjuangan Jemaah Haji Indonesia Hadapi Puncak Jumrah Terpadat

1 Juni 2026, 11:41 WIB • 3 menit baca
Rombongan besar jemaah haji asal Semarang dengan seragam biru kombinasi putih berfoto bersama dengan ceria di bawah naungan area beratap beton jalur Jamarat, beberapa jemaah tampak melambaikan tangan dan mengacungkan jempol ke arah kamera.
Raut wajah bahagia terpancar dari rombongan jemaah haji indonesia Kloter 28 SOC asal Semarang saat berfoto bersama di area kompleks Jamarat, Mina, Arab Saudi, Jumat (29/5/2026). Di tengah cuaca panas ekstrem yang menyengat, jemaah kompak memilih bertahan mengambil pilihan Nafar Tsani demi mengejar kesempurnaan wajib haji melontar jumrah.

ARAFAH, muhammadiyahsemarangkota.org — Pelaksanaan ibadah di fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina) senantiasa menguji ketahanan fisik dan mental para jemaah. Salah satu momen paling krusial adalah ketika lautan manusia bergerak bersamaan untuk melaksanakan wajib haji melontar jumrah. Kepadatan yang luar biasa seketika mengubah jalur-jalur Mina menjadi hamparan manusia yang tidak berujung.

Kondisi tersebut menjadi pengalaman spiritual yang sangat mendalam bagi rombongan Jemaah Haji Indonesia. Melalui catatan langsung dari Tanah Suci, Dr. Mafrukhi selaku Ketua Kafilah KBIHU Muhammadiyah Kota Semarang Kloter 28 SOC membagikan reportase aktualnya. Mafrukhi melaporkan dinamika perjuangan jemaah yang terjadi pada Jumat, 29 Mei 2026 kemarin.

“Hari ini jemaah pelempar Jamarat terpadat sepanjang saya alami. Hampir semua jemaah Indonesia melakukan jumrah pada 12 Zulhijjah (Jumat, 29/05/2026, Red) di waktu bersamaan, yaitu bakda Subuh, waktu yang paling nyaman, masih belum panas,” tulis Dr. Mafrukhi dalam laporan langsungnya.

Strategi Jemaah Menembus Impitan Cuaca Panas

Ada dua penyebab utama mengapa pelontaran jumrah pada hari Jumat kemarin menjadi yang paling padat. Faktor pertama adalah banyaknya jemaah yang memutuskan untuk mengambil pilihan Nafar Awal agar bisa segera kembali ke hotel pemondokan. Faktor kedua dipicu oleh kondisi fasilitas tenda maktab di Mina yang sudah sangat sesak dan melebihi kapasitas kenyamanan.

Situasi di dalam tenda semakin menguji kesabaran karena sengatan suhu ekstrem di luar ruangan bergerak naik sangat drastis. Berdasarkan pantauan cuaca di lapangan, suhu udara di sekitar Mina belakangan ini sukses menyentuh angka 45 hingga 47 derajat Celsius. Impitan udara panas ini membuat sebagian besar Jemaah Haji Indonesia tidak ingin bertahan lebih lama di dalam tenda.

“Kondisi tenda Mina yang sangat padat, sehingga sangat tidak nyaman untuk berlama-lama di tenda. Apalagi akhir-akhir ini panas mencapai 45-47 derajat. Kalau blower mati, bagai dioven,” ungkap seorang jemaah ibu-ibu menceritakan beratnya perjuangan fisik di tenda maktab.

Bertahan di Mina Hingga Berkah Tenda Kosong

Meskipun fikih haji membolehkan pilihan Nafar Awal maupun Nafar Tsani, mayoritas rombongan dari tanah air tampak memilih pulang lebih cepat. Namun, cerita berbeda justru datang dari rombongan jemaah asal Kota Atlas, Semarang. Sejak awal menginjakkan kaki di Arab Saudi, jemaah Kloter 28 SOC sudah membulatkan tekad bersama untuk menyelesaikan ibadah hingga Nafar Tsani.

Ketua kafilah sempat menawarkan opsi pilihan ulang kepada seluruh anggota jemaah demi keselamatan fisik mereka. Menariknya, para jemaah dengan kompak dan serentak memilih untuk tetap bertahan menghabiskan malam terakhir di Mina. Pilihan berani ini rupanya membawa berkah tersendiri karena banyak tenda kosong yang ditinggalkan oleh jemaah Nafar Awal, sehingga bisa mereka tempati dengan lebih leluasa.

Sesuai rencana perjalanan, para jemaah akan bergerak menuju Jamarat pada Sabtu pagi, 13 Zulhijjah, tepat setelah menunaikan salat Subuh berjemaah. Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian lontar jumrah, rombongan akan langsung bertolak menuju hotel di Makkah. Guna kelancaran mobilisasi, Mafrukhi mengimbau seluruh Jemaah Haji Indonesia di Kloter 28 SOC untuk mengemas barang bawaan mereka sejak dini hari.

Kontributor: Rizqi Aulia
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: