Ada yang tidak pernah selesai dalam sejarah Islam: usaha menyampaikan kebenaran tanpa membuatnya kehilangan kelembutan. Barangkali karena itulah syair tidak pernah benar-benar pergi. Ia hadir bukan sebagai pengganti dalil, melainkan sebagai ruang tempat dalil memperoleh denyutnya.
Kata-kata yang disusun dalam irama tidak hanya dimaksudkan untuk dipahami, tetapi juga untuk dihayati. Dakwah melalui syair tidak berdiri sebagai perintah yang keras, melainkan sebagai bisikan yang perlahan mengubah arah hati.
Barangkali agama memang membutuhkan bahasa yang lebih dari sekadar argumentasi. Sebab, manusia tidak hanya hidup oleh logika. Ada saat ketika seseorang berubah bukan karena ia dikalahkan oleh alasan, melainkan karena ia disentuh oleh keindahan.
Syair bekerja pada wilayah itu. Ia memasuki ruang batin yang sering kali gagal dijangkau oleh ceramah yang terlalu panjang atau nasihat yang terlalu tegas.
Tradisi Islam mengenal kenyataan itu sejak awal. Di Jazirah Arab, syair merupakan bagian dari kehidupan sosial. Penyair bukan sekadar penghibur; ia adalah penjaga ingatan kolektif, pembela kehormatan suku, sekaligus penyebar nilai.
Ketika Islam datang, syair tidak dihapus begitu saja. Yang berubah adalah orientasinya. Keindahan bahasa diarahkan untuk membela kebenaran, bukan kesombongan.
Rasulullah saw. bahkan memberikan tempat kepada Hassan bin Tsabit untuk menggunakan syair sebagai pembela dakwah Islam. Sejak saat itu, puisi memperoleh kedudukan baru: bukan sekadar karya sastra, melainkan juga medium penyebaran nilai-nilai ketauhidan.
Pada berbagai wilayah dunia Islam, syair berkembang mengikuti kebudayaan setempat. Di Persia, nama Jalaluddin Rumi menunjukkan bagaimana puisi dapat menjadi jalan menuju pengalaman spiritual yang mendalam. Sedangkan di Nusantara, para wali memanfaatkan tembang, pantun, dan kidung untuk memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat yang telah lama akrab dengan tradisi lisan.
Islam tidak hadir sebagai suara asing. Ia berbicara dengan bahasa yang telah dikenali masyarakat. Dakwah menjadi dialog kebudayaan, bukan penaklukan kebudayaan.
Barangkali inilah pelajaran yang sering terlupakan. Dakwah bukan sekadar menyampaikan apa yang benar, tetapi juga menemukan cara agar kebenaran itu dapat diterima tanpa kehilangan martabatnya.
Syair memiliki kemampuan itu. Ia tidak memaksa, namun menawarkan. Ia mengajak pembacanya berhenti sejenak dari kebisingan hidup, lalu mendengarkan suara yang lebih pelan: suara nurani.
Keistimewaan syair terletak pada kemampuannya menghadirkan makna melalui simbol. Sebait puisi tidak selalu mengatakan sesuatu secara langsung. Ia memberi ruang bagi pembaca untuk ikut menciptakan arti. Oleh karena itu, dakwah melalui syair bukanlah komunikasi satu arah. Ia merupakan percakapan yang terus berlangsung antara teks dan pengalaman hidup pembacanya.
Setiap orang mungkin menemukan makna yang berbeda, tetapi semuanya bergerak menuju kesadaran yang sama: bahwa kehidupan memiliki tujuan yang lebih tinggi daripada sekadar memenuhi keinginan dunia.
Namun, keindahan selalu membawa kemungkinan ganda. Ia dapat menjadi jalan menuju Tuhan, tetapi juga dapat menjauhkan manusia dari-Nya apabila kehilangan orientasi etik. Oleh sebab itu, dalam Islam, syair tidak dipandang semata-mata dari bentuknya, melainkan dari isi dan dampaknya.
Puisi yang membangkitkan kesombongan, kebencian, atau kemaksiatan tentu berbeda dengan puisi yang menghidupkan harapan, kesabaran, dan penghambaan kepada Allah. Estetika tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu bertemu dengan etika.
Dalam konteks inilah pandangan Muhammadiyah menarik untuk diperhatikan. Sebagai gerakan Islam yang lahir dengan semangat tajdid, Muhammadiyah sering dipersepsikan hanya menaruh perhatian pada purifikasi akidah dan pembaruan pendidikan.
Padahal, sejarah menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak pernah memusuhi seni sebagai ekspresi budaya. Yang menjadi perhatian Muhammadiyah ialah fungsi seni itu sendiri: apakah ia mendekatkan manusia kepada nilai-nilai Islam atau justru menjauhkannya.
Bagi Muhammadiyah, seni bukan sesuatu yang haram karena dirinya sendiri. Seni adalah alat. Nilainya bergantung pada tujuan penggunaannya. Oleh karena itu, syair dapat menjadi media dakwah yang sah, bahkan penting, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip akidah, syariat, dan akhlak.
Pandangan ini sejalan dengan prinsip bahwa Islam adalah agama yang menghargai fitrah manusia, termasuk kebutuhan akan keindahan. Allah sendiri digambarkan mencintai keindahan. Akan tetapi, keindahan tersebut tidak boleh dilepaskan dari tanggung jawab moral.
Pandangan tersebut tampak dalam perkembangan pemikiran Muhammadiyah mengenai seni budaya. Melalui Majelis Tarjih dan Tajdid serta berbagai forum pemikiran, Muhammadiyah berulang kali menegaskan bahwa seni merupakan bagian dari kebudayaan yang dapat menjadi sarana dakwah, pendidikan, dan pencerahan.Yang ditolak bukanlah syair, musik, atau sastra sebagai bentuk, melainkan ekspresi seni yang mengandung kemusyrikan, pornografi, kekerasan, penghinaan terhadap martabat manusia, ataupun hal-hal yang merusak akhlak.
Dengan demikian, syair dalam perspektif Muhammadiyah memperoleh legitimasi bukan semata karena tradisi, melainkan karena kemanfaatannya. Sebuah puisi tentang kejujuran, keadilan, kasih sayang, atau penghambaan kepada Allah memiliki nilai dakwah yang nyata.
Sebaliknya, syair yang hanya mengagungkan hawa nafsu kehilangan fungsi etiknya. Di sini, Muhammadiyah memperlihatkan watak yang khas: rasional, normatif, tetapi tetap membuka ruang bagi kreativitas budaya.
Sikap tersebut sebenarnya memperlihatkan keseimbangan yang penting. Dakwah tidak boleh kehilangan substansinya hanya demi mengejar popularitas artistik. Sebaliknya, dakwah juga tidak perlu menolak bahasa-bahasa estetik yang mampu menjangkau masyarakat lebih luas. Keindahan bukan musuh kebenaran. Ia justru dapat menjadi kendaraan bagi kebenaran apabila diarahkan dengan benar.
Pada zaman media sosial sekarang, dakwah melalui syair bahkan menemukan rumah baru. Potongan puisi beredar dalam bentuk gambar, video pendek, atau pembacaan sastra yang ditonton jutaan orang.
Barangkali ini menunjukkan bahwa manusia modern, di tengah limpahan informasi, justru semakin merindukan bahasa yang tidak tergesa-gesa. Mereka mencari kalimat yang bukan hanya memberi tahu, tetapi juga menemani. Dakwah melalui syair memperoleh relevansi baru karena ia menawarkan perenungan di tengah percepatan.
Tentu saja, syair bukan satu-satunya jalan dakwah. Islam memiliki banyak medium: pendidikan, keteladanan, dialog, karya sosial, hingga teknologi digital. Namun, syair mengingatkan bahwa agama tidak hanya berbicara kepada akal, melainkan juga kepada rasa. Ketika akal memahami kewajiban, rasa membantu manusia mencintai kewajiban itu. Cinta sering kali lebih bertahan lama daripada sekadar kepatuhan.
Dakwah melalui syair mengajarkan satu hal yang sederhana tetapi mendalam: bahwa kebenaran tidak selalu harus datang dengan suara yang keras. Kadang-kadang, ia hadir seperti embun yang turun sebelum matahari terbit—hampir tak terdengar, tetapi pelan-pelan menghidupkan daun-daun yang semalam tampak layu.
Dakwah melalui syair bekerja dengan cara demikian. Ia tidak memaksa hati untuk berubah. Ia mengetuknya dengan perlahan, hingga suatu ketika manusia menyadari bahwa jalan pulang kepada Tuhan ternyata dapat dimulai oleh sebaris kalimat.