Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Dakwah Kemanusiaan Itu Butuh Langkah Nyata, Tak Cukup dengan Ceramah

5 Juli 2026, 14:05 WIB • 2 menit baca
Dr. Fachrur Rozi memaparkan pentingnya dakwah kemanusiaan dan aksi nyata di hadapan komunitas Aisyiyah Kota Semarang.
Ketua PDM Kota Semarang, Dr. Fachrur Rozi, M.Ag., memaparkan materi terkait pentingnya langkah nyata dalam dakwah kemanusiaan pada Kajian Sabtu Pertama Majelis Tabligh dan Ketarjihan PDA Kota Semarang, Sabtu (4/7/2026).

SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Dakwah kemanusiaan itu butuh langkah nyata, bukan sekadar imbauan dari balik mimbar. Ketika krisis sosial makin mengkhawatirkan, masyarakat sangat membutuhkan uluran tangan secara langsung. Oleh karena itu, gerakan ini hadir mengajak setiap komunitas di Kota Semarang agar bersama-sama memberikan solusi riil di lapangan.

Menjawab Tantangan Sosial

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Dr. Fachrur Rozi, M.Ag., menegaskan hal tersebut. Ia menyampaikannya dalam sebuah kajian Sabtu Pertama (KSP) pada Sabtu (4/7/2026). Yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kota Semarang.

Selanjutnya, ia mengajak peserta kajian untuk memetakan realitas sosial. Menurutnya, berbagai krisis saat ini memaksa setiap elemen untuk mendobrak batasan eksklusif.

“Persoalan-persoalan itu mengingatkan kita bahwa dakwah tidak cukup hanya berbentuk kata-kata. Dakwah harus mampu menyentuh kehidupan nyata dan menjadi solusi atas berbagai persoalan kemanusiaan,” ujarnya.

Menggalakkan Aksi Sosial Komunitas Semarang

Gagasan membumi ini sontak merombak paradigma lama. Akibatnya, pesan tersebut berhasil melampaui sekat organisasi. Hal ini juga memicu berbagai pihak merancang aksi sosial komunitas Semarang. Kolaborasi tersebut bertujuan kuat untuk menambal kepincangan di lingkungan terdekat.

Pergeseran fokus ini otomatis mengubah tolok ukur keberhasilan pergerakan. Alhasil, jumlah audiens yang hadir tidak lagi menjadi pencapaian utama.

“Dakwah kemanusiaan tidak diukur dari banyaknya orang yang mendengar ceramah, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat atas kehadiran kita,” tegasnya.

Membumikan Islam Rahmatan Lil Alamin

Sinergi ini kemudian melahirkan kolaborasi warga kota yang solid. Buktinya, kepedulian terus mengalir dari panti asuhan hingga pusat layanan. Mereka saling bahu-membahu membalut luka kelompok rentan. Seluruh ikhtiar ini memastikan nilai Islam rahmatan lil alamin mewujud sebagai pelindung nyata.

Meski demikian, perubahan sosial yang langgeng selalu bermula dari rumah. Dalam hal ini, para ibu memegang peran paling penting. Mereka merajut jaring pengaman sosial pertama bagi anak-anak di rumah.

“Perdamaian tidak lahir dari forum-forum besar, tetapi dimulai dari rumah-rumah yang dipenuhi kasih sayang. Di sanalah ibu berperan sebagai arsitek peradaban yang membentuk generasi pencinta perdamaian,” katanya.

Pada akhirnya, kerja keras ini menuntut muhasabah mendalam dari setiap individu. Selain itu, langkah nyata memegang peranan krusial dalam menciptakan kehidupan harmonis.
“Jika pertanyaan-pertanyaan itu dijawab melalui tindakan nyata, maka dakwah kemanusiaan akan benar-benar menjadi jalan menghadirkan perdamaian di tengah masyarakat,” pungkasnya.

Kontributor: Media PD' Aisyiyah Kota Semarang
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: