Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Bukan Banyak Harta, Rahasia Ketenangan Hati Ternyata Dimulai dari Hal Sederhana

23 Juli 2026, 12:40 WIB • 3 menit baca
Ustadzah Sih Hartini memegang mikrofon saat menyampaikan kajian Aisyiyah Semarang mengenai rahasia ketenangan hati dan cara mensyukuri nikmat sehat dalam Islam.
Ustadzah Sih Hartini, S.Pd., M.Si. saat memberikan tausiah dalam kajian Pimpinan Ranting 'Aisyiyah (PRA) Wonodri, Semarang. Ia memaparkan bahwa rasa syukur atas nikmat sederhana adalah kunci utama meraih ketenangan batin.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Banyak orang mengira kebahagiaan baru datang setelah saldo rekening berlimpah. Padahal, rahasia ketenangan hati di tengah kerasnya tuntutan hidup justru bermula dari hal sederhana, seperti mensyukuri kesehatan saat bangun tidur.

Pesan ini menggaung kuat dalam kajian Aisyiyah Semarang yang berlangsung di Masjid Assalam Wonodri, Jumat (17/7). Ustadzah Sih Hartini, S.Pd., M.Si. mengingatkan para jamaah bahwa harta termahal manusia sejatinya adalah iman, Islam, dan kesehatan raga.

Syukur Lebih dari Sekadar Kata

Selama ini, sebagian besar orang mengira tugas bersyukur selesai ketika bibir mengucap hamdalah. Namun, Ustadzah Sih Hartini secara tegas meluruskan pemahaman tersebut di hadapan para jamaah. Ia menekankan bahwa rasa syukur harus tercermin melalui keyakinan utuh dan tindakan nyata dalam keseharian.

“Syukur tidak cukup hanya mengucapkan Alhamdulillah. Syukur harus diakui dalam hati bahwa semua nikmat berasal dari Allah, lalu dibuktikan dengan semakin taat kepada-Nya. Itulah syukur yang sebenarnya,” tegas Ustadzah Sih Hartini.

Lebih lanjut, ia menyoroti bagaimana kebiasaan masyarakat modern yang sering membandingkan diri di media sosial. Etalase kemewahan maya ini sering kali merampas kewarasan batin penggunanya. Akibatnya, seseorang menjadi buta terhadap rentetan nikmat sehat dalam Islam yang menaungi kehidupannya sendiri.

“Seseorang yang benar-benar bersyukur akan lebih mudah menemukan ketenangan, karena ia tidak sibuk mengeluhkan apa yang belum dimiliki, melainkan memaksimalkan nikmat yang telah Allah titipkan,” jelasnya.

Menjaga Kewarasan dan Lapang Dada

Oleh karena itu, ia menawarkan sebuah penawar ampuh untuk mengatasi rasa tidak aman tersebut. Ustadzah Sih Hartini mengajak jamaah menundukkan pandangan ke bawah untuk urusan duniawi. Cara ini terbukti membuat kelapangan dada lebih mudah menetap di dalam hati.

Selain rasa cukup, sebuah langkah nyata juga harus mengiringi niat baik tersebut. Sang penceramah merincikan hal-hal praktis seperti merutinkan zikir pagi, beristigfar, dan membaca Al-Qur’an. Selanjutnya, ia juga menyoroti sedekah sebagai amalan pembuka pintu rezeki sekaligus pelindung spiritualitas diri.

Ujian Hidup Bukan Pertanda Benci

Bahkan, ia menyebutkan bahwa kesulitan hidup tidak selalu bermakna buruk. Ujian tersebut sesungguhnya menyimpan hikmah yang luar biasa jika dihadapi dengan kesabaran.

“Sakit, kehilangan, keterbatasan ekonomi, maupun berbagai kesulitan hidup bukan selalu pertanda kebencian Allah. Hal tersebut justru bisa menjadi jalan penghapus dosa sekaligus sarana mendekatkan diri kepada-Nya,” ungkapnya.

Memperkuat pesan damai ini, Ketua Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Wonodri turut mengambil peran. Ia mengajak jamaah terus menghidupkan majelis ilmu demi merawat ukhuwah dan menopang kewarasan kolektif. Ruang interaksi ini juga menjadi semakin bernyawa lewat berbagai layanan sosial seperti Posbindu.

Pada akhirnya, mengejar kepuasan materi memang tidak akan pernah ada ujungnya. Menjadikan setiap embusan napas sebagai ibadah adalah kunci utama meraih rahasia ketenangan hati. Lewat kesadaran ini, kita belajar bahwa kebahagiaan sejatinya selalu hadir setiap kali kita mengikhlaskan takdir Sang Pencipta.

Kontributor: MPI PDM Kota Semarang
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: