Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Adem! Persatuan NU dan Muhammadiyah Hidupkan Masjid Sekayu Berusia 6 Abad

27 Juli 2026, 15:48 WIB • 3 menit baca
Bangunan depan Masjid At-Taqwa Sekayu Semarang dengan warga dan anak-anak duduk santai di pelataran, melambangkan kerukunan umat dan persatuan NU dan Muhammadiyah.
Suasana hangat jamaah dan warga yang tengah bersantai di pelataran Masjid At-Taqwa Sekayu, Semarang. Kerukunan ini menjadi bukti nyata bagaimana ukhuwah umat mampu terus menghidupkan masjid bersejarah yang telah berusia lebih dari enam abad tersebut.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Masjid At-Taqwa Sekayu membuktikan bahwa persatuan NU dan Muhammadiyah mampu menghidupkan kembali bangunan bersejarah. Kolaborasi harmonis ini menyulap masjid kuno menjadi pusat pembinaan umat yang sangat aktif. Alhasil, kerukunan umat beragama terwujud nyata dalam keseharian warga setempat.

Momen kebersamaan antarwarga tersebut terlihat begitu jelas pada Ahad, 26 Juli 2026. Ratusan jamaah secara khusyuk memadati pelataran Masjid At-Taqwa Sekayu di Jalan Sekayu Masjid, Kota Semarang. Sepanjang sore itu, ibu-ibu pengurus masjid menyambut antusias setiap tamu yang datang.

Pesan Menyejukkan untuk Masa Depan Bangsa

Pertemuan berharga sore itu menghadirkan Dr. H. KRAT AM Jumai, S.E., M.M. sebagai penceramah utama. Ia menjabat sebagai Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) pada Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah. Selain itu, penceramah ini juga aktif memimpin Forum Komunikasi Organisasi Masyarakat Semarang Bersatu (FKSB).

Dalam kajian tersebut, Dr. Jumai membawa pesan kesejukan bagi seluruh jamaah. Ia mengingatkan para orang tua agar terus bersinergi menjaga fondasi moral anak. “Membangun bangsa harus dimulai dari penguatan akidah, keluarga, dan pendidikan generasi,” tegas ia di hadapan majelis.

Menyambung pesan sebelumnya, umat harus terus meningkatkan peran masjid setiap hari. Tokoh agama ini mendorong warga agar rutin meramaikan rumah Allah. Langkah pemakmuran ini sangat penting guna membentengi akhlak remaja menuju visi Indonesia Emas 2045.

Kolaborasi Dua Ormas Rawat Warisan Leluhur

Berkaitan dengan sejarah bangunan dari tahun 1413 Masehi ini, Jumai menekankan pentingnya sinergi masyarakat. Dua organisasi besar Islam memegang tanggung jawab utama dalam merawat peninggalan para Wali. “Kekuatan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, baik secara kultural maupun struktural, tidak boleh dipertentangkan,” ucap ia memantik semangat jamaah.

Memang Masjid At Taqwa Sekayu dikenal sebagai mahakarya bersejarah Islam di Indonesia. Tempat ibadah ini memiliki bentuk bangunan yang memancarkan pesona arsitektur tradisional Jawa. Atap utamanya menggunakan model tajug tumpang berundak yang merepresentasikan tingkatan iman umat Islam. Selain itu, ornamen kayu berukir klasik di dinding masjid mempertegas identitas warisan abad ke-15 ini.

Bangunan kuno ini juga masih mempertahankan empat pilar kayu jati atau saka guru yang berusia ratusan tahun yang menginspirasi konstruksi arsitektur Masjid Agung Demak. Oleh karena itu, masyarakat terus menumbuhkan rasa bangga saat merawat saksi bisu peradaban tersebut.

Dalam kajian di masjid tertua Indonesia itu, Dr. Jumai memberi pesan menyejukan agar perbedaan kebiasaan ibadah tidak boleh merusak ikatan persaudaraan. Umat justru wajib mengedepankan kolaborasi demi memperluas jangkauan dakwah.

“Justru kedua kekuatan besar umat Islam tersebut harus bergandengan tangan untuk merawat masjid bersejarah ini,” imbau penceramah ini mengakhiri materinya.

Pada akhirnya, kehangatan antarwarga Sekayu sore itu memberi pelajaran berharga bagi kita semua. Merawat peninggalan peradaban Islam mustahil berhasil tanpa membuang jauh ego kelompok. Oleh karena itu, masyarakat membuktikan bahwa persaudaraan sejati sanggup menjaga bangunan kuno ini tetap bernapas.

Kontributor: MPI PCM Semarang Tengah
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: