Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Kolom 5 menit baca

Tapak Suci dan Semarang

Gunoto Saparie

Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Orwil Jawa Tengah

Tapak Suci dan Semarang
Fungsionaris ICMI Orwil Jawa Tengah, Gunoto Saparie. Penanaman nilai-nilai Kemuhammadiyahan di ekosistem sekolah menjadi pondasi utama dalam keberhasilan Pendidikan Muhammadiyah masa kini.

Ada warna yang tidak pernah benar-benar menjadi warna. Ia berubah menjadi ingatan. Menjadi keyakinan. Menjadi cara manusia berdiri di hadapan dunia. Merah pada seragam pencak silat Tapak Suci adalah salah satunya.

Ketika ribuan pendekar berkumpul di ibu kota Jawa Tengah dalam perhelatan Muktamar Tapak Suci Semarang, tepatnya ajang Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah, yang hadir sesungguhnya bukan hanya sebuah forum organisasi. Kota itu sedang menerima kedatangan sejarah yang berjalan dengan dua kaki: satu berpijak pada tradisi, satu lagi melangkah ke masa depan.

Muktamar adalah ruang tempat masa lalu meminta pertanggungjawaban kepada masa kini, sementara masa depan diam-diam mengajukan pertanyaan yang belum mempunyai jawaban. Tema besar yang diusung—berakar pada tradisi menuju Tapak Suci Putera Muhammadiyah yang modern, mandiri, dan mendunia—memperlihatkan bahwa organisasi ini tidak hanya berbicara tentang pergantian kepemimpinan, melainkan juga tentang arah perjalanan sebuah gerakan yang kini telah menjangkau berbagai negara.

Kehadiran Muktamar Tapak Suci Semarang ini menjadikan kota pelabuhan tersebut sebagai panggung yang menarik.

Kota pelabuhan selalu mengajarkan satu hal: setiap perjumpaan membawa kemungkinan perubahan. Di pelabuhan, kapal datang bukan hanya membawa barang, tetapi juga gagasan. Demikian pula perhelatan ini. Orang datang dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri, dengan logat yang berbeda, pengalaman yang berbeda, juga harapan yang berbeda. Namun, semuanya dipertemukan oleh sebuah keyakinan bahwa pencak silat Tapak Suci bukan sekadar perguruan bela diri.

Mungkin di situlah letak keunikannya.

Banyak orang memandang pencak silat sebagai rangkaian jurus. Sebagian melihatnya sebagai olahraga prestasi. Yang lain menganggapnya warisan budaya. Semua benar, tetapi semuanya belum cukup. Sebab, di dalam Tapak Suci Putera Muhammadiyah, gerakan fisik selalu mempunyai pasangan yang tidak tampak: pembentukan akhlak. Sebuah tendangan hanyalah tendangan bila kehilangan kendali diri. Sebuah kemenangan hanyalah angka bila tidak melahirkan kerendahan hati.

Di zaman yang memuja kecepatan, pelajaran semacam ini terdengar hampir kuno. Dunia digital mengajarkan manusia untuk segera bereaksi. Tapak Suci justru mengajarkan jeda. Sebelum memukul, berpikirlah. Sebelum bergerak, kuasailah diri sendiri. Mungkin justru karena itulah ia tetap relevan.

Kita hidup dalam abad ketika manusia semakin mudah mengalahkan lawan, tetapi semakin sulit mengalahkan dirinya sendiri.

Di situ pencak silat menemukan makna yang lebih dalam.

Lukisan yang paling tepat tentang kemeriahan Muktamar Tapak Suci Semarang ini barangkali bukan gambar seorang pendekar yang sedang melepaskan tendangan tinggi. Bukan pula adegan pertandingan dengan sorak penonton. Lukisan itu justru memperlihatkan ribuan manusia berbaju merah berdiri dalam satu barisan panjang di bawah langit Semarang. Tidak semua sedang bertanding. Tidak semua sedang memperagakan jurus. Sebagian hanya berdiri dengan tenang.

Dalam ketenangan itulah sebenarnya kekuatan berada.

Di kejauhan tampak kubah masjid, gedung-gedung modern, lalu lintas yang sibuk, layar-layar telepon yang terus menyala. Semua menjadi latar. Di tengah perubahan dunia yang bergerak nyaris tanpa jeda, para pendekar itu seperti mengatakan bahwa ada nilai yang tidak boleh ikut tergesa-gesa.

Lukisan itu bukan tentang kemenangan atas orang lain. Lukisan itu adalah tentang kemenangan atas diri sendiri. Sebab, sejarah selalu memperlihatkan ironi yang sama. Peradaban besar jarang runtuh karena kekurangan orang kuat. Ia lebih sering runtuh karena kehilangan manusia yang mampu mengendalikan kekuatannya.

Sebagai organisasi otonom, Tapak Suci Putera Muhammadiyah lahir dari rahim persyarikatan. Oleh karena itu, ia membawa dua amanat sekaligus: menjaga tradisi pencak silat Indonesia dan menjadi bagian dari gerakan dakwah yang mencerdaskan kehidupan masyarakat.

Di sinilah olahraga bertemu pendidikan. Bela diri bertemu pembinaan karakter. Prestasi bertemu pengabdian sosial. Identitas itu terus ditekankan menjelang Muktamar sebagai arah pengembangan organisasi ke depan.

Peranan Tapak Suci tidak berhenti pada gelanggang.

Ia hadir di sekolah-sekolah, kampus, masjid, dan ruang-ruang pembinaan generasi muda. Ia melatih tubuh, tetapi juga membiasakan disiplin. Ia mengajarkan keberanian, tetapi juga kesantunan. Ia membentuk kepercayaan diri, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa kesombongan adalah awal kekalahan.

Barangkali inilah pelajaran yang mulai langka.

Kita hidup dalam budaya yang lebih gemar memperlihatkan kemenangan daripada proses menjadi manusia. Media sosial menghadirkan pahlawan-pahlawan instan. Semua ingin tampak hebat. Tidak banyak yang ingin ditempa.

Padahal, pendekar tidak lahir dalam satu sore. Ia dibentuk oleh latihan yang berulang, oleh kegagalan yang berkali-kali, oleh peluh yang tidak pernah dipotret kamera.

Oleh karena itu, Muktamar sesungguhnya bukan sekadar memilih ketua baru. Yang lebih penting ialah memilih arah. Sebuah organisasi besar tidak hidup karena nama pemimpinnya. Ia hidup karena berhasil menjaga nilai-nilai yang melampaui satu generasi.

Tantangan Tapak Suci hari ini bukan lagi sekadar memperbanyak anggota. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga agar pertumbuhan tidak menghilangkan akar. Menjadi modern tanpa kehilangan watak. Menjadi internasional tanpa kehilangan identitas Indonesia.

Agenda Muktamar XVI Tapak Suci juga diarahkan untuk memperkuat tata kelola organisasi, kaderisasi, dan internasionalisasi sebagai bagian dari perkembangan pencak silat Tapak Suci di tingkat dunia.

Semarang hanya menjadi tempat. Tetapi, setiap tempat kadang dipilih sejarah untuk menyampaikan pesan tertentu.

Pelabuhan mengajarkan bahwa setiap keberangkatan selalu membutuhkan tempat kembali. Barangkali demikian pula Tapak Suci. Ia boleh mendunia. Anggotanya boleh tersebar di berbagai benua. Namun, akar itu tetap berada pada nilai-nilai yang dahulu melahirkannya: keislaman, persaudaraan, keilmuan, dan pengabdian.

Tentu saja, yang akan dikenang dari penyelenggaraan Muktamar Tapak Suci Semarang bukanlah panjangnya sidang, bukan pula jumlah pesertanya. Karena angka selalu kehilangan makna ketika waktu berlalu.

Yang akan bertahan adalah pertanyaan sederhana. Apakah setelah pulang, para peserta menjadi manusia yang lebih mampu menahan amarahnya? Apakah organisasi menjadi lebih bijaksana?

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: