Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Perjuangan Mahasiswa Nigeria Belajar Silat Tapak Suci, Rela Berkeringat Demi Budaya Kita

12 Agustus 2026, 21:30 WIB • 3 menit baca
Mahasiswa Nigeria Syuaib Sadiq Adam mengenakan seragam merah Tapak Suci sedang memperagakan jurus pencak silat menggunakan senjata di atas matras hijau, disaksikan ribuan penonton di Simpang Lima Semarang.
Penampilan memukau Syuaib Sadiq Adam, mahasiswa asal Nigeria, saat memperagakan jurus bertenaga di tengah perhelatan Muktamar Tapak Suci di kawasan Simpang Lima, Semarang.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Cinta budaya ternyata tak mengenal batas negara maupun warna kulit. Bukti nyata ini ditunjukkan langsung oleh seorang mahasiswa Nigeria bernama Syuaib Sadiq Adam Mahasiswa dari Surakarta. Ia rela memeras keringat berhari-hari demi menguasai jurus pencak silat lokal. Pemuda ini berjuang keras menaklukkan setiap gerakan rumit demi tampil sempurna di hadapan publik.

Peristiwa bersejarah ini berlangsung memukau pada Sabtu (08/08/26) di Simpang Lima, Semarang. Ribuan pesilat memadati jantung kota tersebut untuk mengikuti perhelatan akbar bela diri. Ajang persiapan Muktamar Tapak Suci ini menyedot perhatian luas karena peserta acaranya datang melintasi berbagai benua.

Menghadapi panggung sebesar ini, Syuaib dan timnya melakukan pemanasan matang selama berhari-hari. Pemuda asing ini memfokuskan latihannya demi menyuguhkan performa bertenaga tanpa celah. Saat membagikan pengalaman emosionalnya usai wawancara pada Sabtu (08/08/26), ia sama sekali tak bisa menyembunyikan rasa bangganya.

Latihan Keras Dua Minggu Penuh

“Um… it’s a great thing to be here,” ungkap Syuaib dengan antusiasme tinggi. Dalam bahasa Indonesia, ungkapan tersebut berarti merupakan hal yang luar biasa baginya bisa berada di sana. Ia merasa sangat bahagia sekaligus bangga bisa berpartisipasi langsung mengenakan seragam kebesaran silat.

Perjalanan menuju panggung utama jelas menuntut tingkat dedikasi tinggi dari para peserta. Syuaib lantas mengisahkan proses melelahkan yang ia lewati bersama rekan-rekannya di medan latihan. “…and um… a lot of we, we have been practice… actually it’s like two weeks I think before we came here,” terangnya mendetail.

Pernyataan bahasa Inggris tersebut menjelaskan bahwa mereka telah banyak berlatih, tepatnya sekitar dua pekan sebelum datang ke Semarang.

Sepanjang empat belas hari penuh, napas mereka menderu cepat mengiringi setiap ayunan langkah. Mereka menajamkan susunan kuda-kuda agar bergerak selaras mengikuti ritme silat Jawa.

Kerja keras menguras fisik ini murni bertujuan menyelaraskan harmoni gerakan seluruh anggota tim. “So we practice how we can perform here. So it is honor to be here,” pungkasnya sambil tersenyum lebar. Kalimat penutup ini menegaskan komitmen mereka berlatih demi penampilan terbaik, sehingga menjadi sebuah kehormatan besar baginya bisa hadir.

Runtuhnya Ego di Tanah Jawa

Keringat pemuda Afrika itu nyatanya mewakili gelombang kekaguman asing yang jauh lebih meluas. Menyeberangi bentangan lautan, Sekfane Lahcene rela terbang jauh dari Aljazair menuju Semarang. Pria ini sengaja merogoh dana pribadinya khusus untuk membedah rahasia disiplin ketat organisasi ini.

Pemandangan memukau di lapangan Simpang Lima turut meruntuhkan kesombongan masa lalu Arthur Brenkman. Warga Belanda berusia 61 tahun ini sudah puluhan tahun mengajarkan silat di daratan Eropa. Namun, kemegahan acara ini memaksanya kembali menjadi murid yang kagum melihat tata kelola perguruan.

Teguran Lewat Pesona Silat Nusantara

Magnet kuat bela diri ini terus menjalar cepat melampaui batasan daratan Eropa dan Afrika. Johari bin H. Mokti dari Singapura bahkan mendulang sukses mencetak atlet melalui sistem pembinaan serupa. Fakta lapangan ini membuktikan gamblang bahwa pesona silat Nusantara mengakar kuat pada fondasi spiritual.

Menyaksikan dedikasi luar biasa dari para pesilat mancanegara ini, masyarakat lokal sepatutnya langsung bercermin. Saat bangsa lain rela mengorbankan waktu berharga demi mempelajari warisan leluhur kita, kita pantang mundur merawatnya. Kekuatan budaya asli bangsa kita terbukti memukau dunia dan wajib kita jaga selamanya.

Kontributor: MPI PDM Kota Semarang
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: