Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Sukses Mengejar Dunia Tapi Lupa Bekal Mati? Pelajaran Berharga dari Perpisahan Rasulullah SAW

21 Agustus 2026, 00:33 WIB • 3 menit baca
Ilustrasi seorang pria berjas rapi menarik koper berjalan menyusuri lintasan panah bermotif peta dunia yang menanjak ke atas menuju matahari terbit, dengan latar belakang jembatan gantung dan pesawat terbang.
Perjalanan mengejar puncak sukses dan perjalanan duniawi hendaknya senantiasa diimbangi dengan perenungan kandungan Surat An-Nasr agar tidak terlena oleh kebanggaan semu sebelum waktu di bumi usai.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Manusia sering kali kejar kesuksesan karier hingga lupa pada batas akhir kehidupan. Di tengah ruang hening usai shalat Dhuhur, Ustadz Mukeri mengajak para pekerja menundukkan kepala. Penceramah mengulas pesan mendalam Surat An-Nasr di Masjid At-Taqwa Semarang pada Kamis (20/8/2026).

Puluhan pegawai RS Roemani Muhammadiyah menghadiri majelis ilmu tersebut secara khusyuk. Staf Gedung Dakwah juga meluangkan waktu di tengah kesibukan kerja. Mereka menepi sejenak demi mengisi dahaga spiritual.

Sang penceramah memaparkan rahasia besar di balik tiga ayat pendek Surat An-Nasr. Para sahabat Nabi era dahulu justru meneteskan air mata saat membaca surat ini. Mereka paham bahwa tuntasnya pertolongan Allah SWT menandai makin dekatnya masa perpisahan dengan Rasulullah SAW.

“Kemenangan bukan alasan untuk menyombongkan diri. Justru kemenangan seharusnya membuat manusia semakin tunduk, bersyukur, serta memohon ampunan kepada Allah SWT,” tutur Ustadz Mukeri di hadapan para jamaah.

Di Balik Kabar Kemenangan

Selanjutnya, penceramah kajian ini mengingatkan bahwa setiap kejayaan karier, tumpukan harta, dan tingginya jabatan bakal bermuara pada titik perpisahan yang sama. Kematian sama sekali tidak pernah menunggu kesiapan manusia maupun memandang tingkat status sosial seseorang.

Oleh sebab itu, manusia yang bijak tidak akan membiarkan dirinya tenggelam dalam kebanggaan semu saat menggenggam kesuksesan. Perintah bertasbih dan beristighfar usai datangnya kemenangan mengajarkan pentingnya merawat kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta.

Melalui pesan tersebut, para pekerja diajak untuk mengubah sudut pandang dalam memandang rutinitas harian. Aktivitas melayani masyarakat, menjaga kejujuran kantor, hingga membantu rekan kerja secara otomatis bernilai ibadah saat diniatkan demi meraih keridaan Ilahi.

“Jika Rasulullah SAW yang merupakan manusia pilihan Allah SWT pada akhirnya mengalami wafat, maka setiap manusia pun pasti akan menghadapi kematian,” tegas penceramah kultum Dhuhur tersebut.

Merawat Istighfar di Puncak Sukses

Sembari mengakhiri tausiyahnya, penceramah asal Semarang ini mendorong jamaah untuk melatih diri memperbanyak istighfar setiap kali meraih pencapaian. Langkah tersebut menjadi benteng ampuh agar hati tidak terjangkit penyakit sombong yang merusak amal kebaikan.

Sifat mengagungkan diri sendiri terbukti sanggup mengikis pahala yang telah terkumpul bertahun-tahun. Sebaliknya, kebiasaan mengakui kelemahan diri di hadapan Allah SWT justru mengundang keberkahan hidup yang melapangkan dada.

Lalu, kehangatan tausiyah di Masjid At-Taqwa sukses menghembuskan kesadaran baru bagi para karyawan sebelum kembali melanjutkan tugas. Memahami kandungan Surat An-Nasr menyadarkan publik bahwa bekal iman dan ketakwaan merupakan satu-satunya harta yang selamat dibawa mati.

Akhirnya, perenungan sederhana ini menjadi kompas kehidupan yang menuntun manusia untuk menyelaraskan urusan dunia dan akhirat. Kemenangan sejati berada pada keikhlasan hati yang makin mendekat kepada Allah SWT sebelum waktu di bumi benar-benar usai.

Kontributor: Tim Media Masjid At Taqwa PDM Kosem
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: