Hati Masih Gelisah Meski Harta Cukup? Kunci Bahagia Menurut Islam
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Banyak orang terjebak menghabiskan energi seumur hidup hanya untuk mengejar standar kebahagiaan fisik semata. Rumah mewah, kendaraan nyaman, serta harta melimpah sering kali gagal menghadirkan rasa tenang jika batin tetap merasa hampa.
Pembahasan mendalam mengenai jalan kedamaian batin tersebut mengemuka dalam Kajian Ahad Pagi pada 2 Agustus 2026. Agenda dakwah ini berlangsung khusyuk di Masjid Luqmanul Hakim, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tlogosari Kulon, Semarang. Forum ini mengajak jamaah membedah kunci bahagia menurut Islam agar tidak mudah lelah menghadapi dinamika duniawi.
Penceramah kajian tersebut, Dr. Drs. Muhammad Muhtar Arifin Sholeh, M.Lib., membeberkan bahwa kebahagiaan sejati bermula dari ketundukan jiwa kepada Allah SWT. Oleh karena itu, seseorang yang mengejar keikhlasan tidak akan mudah tergoyahkan oleh beratnya ujian hidup.
Sosok yang mengabdi sebagai Dosen FAI Unissula Semarang ini melandasi penjelasannya pada riwayat sabda Nabi Muhammad SAW. Kehadiran pasangan yang saleh, anak yang berakhlak mulia, serta lingkungan pergaulan yang baik menjadi pondasi utama kebahagiaan seorang hamba.
Empat Elemen Penenteram Jiwa
Selanjutnya, akademisi Islam Kota Semarang tersebut memperjelas empat sumber kebahagiaan yang sanggup melapangkan dada manusia. Memiliki pasangan hidup yang saleh atau salehah menciptakan suasana keluarga yang penuh ketenangan dan saling mengayomi.
Maka dari itu, kebaikan di dalam rumah tangga akan melahirkan anak-anak bertakwa yang senantiasa menghormati kedua orang tuanya. Selain itu, pergaulan bersama orang-orang saleh turut menjaga keimanan seseorang agar tidak terjerumus ke dalam maksiat.
Unsur keempat yang tidak kalah penting adalah kemudahan memperoleh rezeki yang halal di tanah kelahiran sendiri. Kecukupan rezeki lokal membuat seorang Muslim dapat beribadah dan berkumpul bersama keluarga tanpa harus terpisah jarak.
“Kebahagiaan sejati itu bukan sekadar dinikmati sendirian. Islam mengajarkan kita untuk bahagia, membahagiakan orang lain, serta dibahagiakan dalam bingkai ridha Allah,” tutur Dr. Muhtar di hadapan puluhan jamaah PRM Tlogosari Kulon.
Menjaga Hati Agar Tak Mudah Haus Dunia
Di samping itu, kajian di Masjid Luqmanul Hakim ini juga membedah makna kiasan “rumah yang luas” sebagai simbol kelapangan sikap sabar. Seseorang yang memiliki kesabaran tinggi sanggup menahan hawa nafsu dari godaan kemewahan duniawi yang menipu.
Mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali, penceramah Semarang ini mengingatkan bahwa nikmat duniawi bersifat sementara dan sangat cepat hilang. Keseimbangan antara ketenangan jiwa, kesehatan badan, serta ketaatan menjadi tangga menuju kebahagiaan akhirat.
Guna menutup nasihat dakwahnya, pengajar FAI Unissula tersebut mengimbau masyarakat untuk terus memperbaiki niat dalam setiap aktivitas. Kebiasaan menjaga ketakwaan di kala sepi maupun ramai akan menyelamatkan manusia dari kehancuran batin.
“Jangan menggantungkan harapan pada hal-hal yang fana. Keimanan yang kokoh serta amal saleh yang rutin menjadi satu-satunya jaminan keselamatan kita di dunia dan akhirat,” pangkas Dr. Drs. Muhammad Muhtar Arifin Sholeh, M.Lib. mengakhiri pemaparannya.