Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Khawatir Pergaulan Anak di Perantauan? Ini “Tameng” Terkuat yang Bisa Orang Tua Upayakan

12 Juli 2026, 23:43 WIB • 3 menit baca
Ustaz Burhan Khoiruddin mengenakan peci dan baju batik sedang memegang mikrofon untuk menyampaikan tausiah mengenai tameng pergaulan anak dalam Pengajian Ahad Pagi PRM Bringin.
Ustaz Burhan Khoiruddin saat memaparkan materi penguatan tauhid sebagai tameng utama menjaga pergaulan anak dalam Pengajian Umum Ahad Pagi di Mushola At Tauhid Aira, Ngaliyan, Ahad (12/7).

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Ketakutan orang tua saat melepas buah hati merantau kini menemukan penawar mujarab. Sebab, rahasia menjaga pergaulan anak ternyata bukan melalui kekangan ketat dari jauh. Penjagaan terkuat justru lahir dari kesepakatan vertikal antara orang tua dan Sang Pencipta.

Ustaz Burhan Khoiruddin selaku wakil ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Semarang dan juga Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 12 mengungkap pesan mendalam ini dalam Pengajian Umum Ahad Pagi. Acara tersebut berlangsung khusyuk pada Ahad, 12 Juli 2026 di Mushola At Tauhid Aira, Komplek Permata Puri Ngaliyan. Tentu saja, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Bringin menyelenggarakan kegiatan ini untuk menjawab keresahan warga.

Ustaz Burhan hadir sebagai penceramah utama pagi itu. Wakil Ketua PDPM Kota Semarang ini membedah pusaran kekhawatiran terbesar para orang tua modern. Bahkan, ia langsung menyentak kesadaran jemaah dengan realitas ancaman pergaulan anak saat ini.

Ancaman Nyata Pergaulan Anak di Kampus

“Pergaulan mahasiswa yang tidak berpegangan iman, wis ngeri sekarang, Pak/Bu,” ucap Ustaz Burhan. Ia mengucapkan kalimat tersebut dengan nada tegas di hadapan para jemaah. Sorot matanya menunjukkan keseriusan penuh atas masalah pelik ini.

Kutipan tersebut sungguh bukan sekadar upaya menakut-nakuti jemaah. Pernyataan ini seketika menjadi alarm pengingat bagi setiap keluarga. Akibatnya, orang tua sadar bahwa ancaman pergaulan anak terus mengintai generasi muda. Oleh karena itu, ayah dan ibu wajib membekali mereka dengan fondasi iman.

Tauhid Terapan sebagai Tameng Utama

Banyak kalangan beranggapan bahwa transferan uang saku berlebih sudah memadai. Padahal, perlindungan pergaulan anak sejati tidak berfokus pada materi semata. Ustaz Burhan lalu membedah formula rahasia dari nasihat Rasulullah kepada Ibnu Abbas. Ia memaparkan konsep menjaga Allah secara nyata dalam kehidupan.

Konsep tauhid terapan ini mewajibkan orang tua menjaga hak Allah terlebih dahulu. Praktik nyatanya mencakup komitmen beribadah secara sungguh-sungguh di rumah. Selain itu, orang tua pantang menyekutukan Sang Pencipta dengan hal duniawi. Menariknya, komitmen ini otomatis memancarkan perlindungan hingga ke lokasi anak merantau.

Maka dari itu, ia mengajak para jemaah agar senantiasa bersandar pada Pemilik Kehidupan. Sikap berserah diri inilah yang langsung mengaktifkan sistem penjagaan terbaik. “Kulo nyuwun bantu kulo Ya Allah dalam membimbing lare niku,” tuturnya lirih. Kalimat itu mencontohkan doa tulus untuk menjaga pergaulan anak.

Warisan Spiritual Mengalahkan Deposito

Selanjutnya, kajian ini membongkar habis miskonsepsi massal dalam masyarakat kita. Mayoritas orang tua memeras keringat siang malam demi menumpuk harta. Mereka menganggap kekayaan sebagai satu-satunya jaminan bagi pergaulan anak kelak. Namun, kisah dari Surah Al-Kahfi sukses membalikkan cara pandang materialistik tersebut.

Ia menceritakan momen ketika Nabi Khidir memperbaiki rumah reyot milik anak yatim. Orang tua dari anak tersebut rupanya memiliki rekam jejak sangat saleh. Kesalehan inilah yang akhirnya mendatangkan penjagaan langsung dari Allah. Faktanya, warisan spiritual terbukti bekerja melintasi batas waktu dan ruang.

“Kita tinggali deposito sekian miliar, rumah, mobil, bisa habis dalam hitungan bulan, Pak. Kalau anaknya tidak tahu cara mengelolanya,” ucapnya memecah kesunyian. Lalu, ia segera menambahkan pesan penutup yang sangat menyejukkan hati. “Tapi dengan menjaga Allah, Allah yang akan menjaga keturunan kita kelak,” tegasnya.

Pada akhirnya, upaya menjaga pergaulan anak pantang berhenti pada batasan tembok rumah tangga. Gerakan moral ini harus mampu mengajak setiap komunitas di Kota Semarang untuk bersinergi. Kita perlu terus memperkuat fondasi tauhid di tengah pesatnya disrupsi zaman. Sejatinya, rintihan ikhlas di sepertiga malam selamanya menjelma menjadi benteng pelindung abadi.

Kontributor: MPI PDM Kota Semarang
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: