Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Cara Menghindari Fanatisme Agama & Meraih Damai Lewat Islam Berkemajuan

29 Agustus 2026, 13:59 WIB • 3 menit baca
Drs H Danusiri MAg duduk di depan laptop memaparkan materi Islam Berkemajuan untuk meraih ketenangan batin dalam Islam.
Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Drs. H. Danusiri, M.Ag, menyampaikan gagasan Islam Berkemajuan sebagai solusi cara menghindari fanatisme beragama dalam Pengajian Tarjih di Mushola At Tauhid Aira, Ngaliyan, Semarang, Sabtu (29/8/2026).

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Banyak orang merasa lelah menghadapi perdebatan agama yang tiada henti di media sosial. Padahal, cara menghindari fanatisme dan meraih ketenangan batin dalam Islam bisa dicapai dengan mudah melalui pemahaman Islam berkemajuan. Pemahaman ini mengajak umat beragama tumbuh lebih dewasa dan senantiasa mencintai kedamaian. 

Gagasan segar tersebut mengemuka dalam Pengajian Tarjih bertema “Prinsip Islam Berkemajuan”. Acara rutin ini berlangsung sejuk di Mushola At Tauhid Aira, Komplek Permata Puri Ngaliyan, Semarang, pada Sabtu, 29 Agustus 2026 pagi. Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Drs. H. Danusiri, M.Ag, hadir langsung membedah persoalan ini di hadapan puluhan jemaah. 

Keluar dari Zona Kemunduran

Danusiri menyoroti fenomena umat yang kerap terjebak dalam kondisi pemikiran stagnan. Ia menyebut situasi kaku ini sebagai kondisi Islam berkemunduran.

Kondisi tersebut bukan berarti ajaran agamanya yang salah, melainkan cara pandang pemeluknya yang berhenti berkembang. Akibatnya, rutinitas keberagamaan hanya menjadi kewajiban formal tanpa menyumbang dampak sosial yang nyata. 

“Islam berkemunduran bukan berarti ajaran Islamnya mundur, melainkan cara beragama umat yang stagnan. Cirinya tekstual sempit, anti-ilmu, lemah etos amal, dan tidak mampu menjawab problem kemanusiaan secara kreatif,” tegas Danusiri. 

Ciri Agama Dewasa yang Membebaskan

Untuk mengatasi stagnasi itu, umat perlu segera naik kelas menuju praktik agama yang lebih matang. Ilmuwan agama Huston Smith membagi perilaku ini menjadi agama kekanak-kanakan dan agama dewasa.

Keberagamaan level dewasa otomatis mendorong perubahan karakter serta menghubungkan iman dengan etika publik. Sebaliknya, penganut agama kekanak-kanakan umumnya hanya mengejar simbol identitas belaka. 

Pemikiran dewasa ini nyatanya sangat sejalan dengan visi pencerahan yang konsisten diusung oleh Muhammadiyah. “Islam adalah agama yang mengandung nilai-nilai kemajuan untuk mewujudkan kehidupan manusia yang tercerahkan. Dakwah dan tajdid adalah jalan perubahan,” urai Danusiri saat membacakan rumusan resmi Risalah Islam Berkemajuan. 

Meraih Kedamaian Lewat Ilmu dan Amal

Praktik beragama yang tercerahkan selalu menuntut keterbukaan pemikiran seluruh umat. Jamaah dituntut mau terus belajar dari dinamika realitas serta sains tanpa mengorbankan fondasi akidah tauhid.

Selain itu, metode dakwah juga wajib mengedepankan cara-cara damai dan menolak segala bentuk kekerasan. Pada titik proses inilah keseimbangan harmonis antara kekuatan intuisi, panduan wahyu, serta ketajaman rasio menjadi sangat krusial. 

Sintesis karakter yang seimbang ini pada akhirnya membebaskan peradaban manusia dari kebodohan dan konflik. “Islam berkemajuan menolak keterbelakangan, penindasan, dan kerusakan. Sebaliknya, ia memupuk kedamaian, kemaslahatan, dan penghormatan terhadap martabat manusia,” pungkas akademisi tersebut mengakhiri pemaparannya. 

Pesan pencerahan dari Ngaliyan ini memberikan bahan refleksi yang sangat mendalam bagi kita semua. Berbekal refleksi tersebut, cara menghindari fanatisme ternyata bermula dari kemauan kita untuk belajar dan mengasah empati. Dengan menerapkan berbagai prinsip Islam berkemajuan, kita tidak hanya sukses meraih ketenangan batin dalam Islam, tetapi juga menghadirkan harmoni nyata bagi alam semesta.

Kontributor: MPI PDM Kota Semarang
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: