Di Balik Gelar Juara, Cerita Ibu-Ibu Aisyiyah Ngaliyan Sisihkan Urusan Dapur Demi Latihan
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Menyisihkan sejenak urusan dapur dan tugas mengajar di sekolah bukan perkara mudah bagi seorang ibu rumah tangga. Di balik riuh sorak kemenangan yang memenuhi aula Gedung Ismail RS Roemani, tersimpan ketulusan hati para perempuan PCA Ngaliyan yang rela menyisihkan waktu demi menyatukan nada pada Sabtu (29/8/2026).
Lagu Mars Aisyiyah mengalun tegas sewaktu belasan ibu-ibu melangkah ke atas panggung utama. Suara mereka yang kompak dan penuh tenaga mendadak menyihir ratusan pasang mata hingga membuat suasana ruangan berubah haru.
Predikat Juara 1 akhirnya berhasil mereka genggam usai mengumpulkan total poin tertinggi sebesar 253 dari dewan juri. Pencapaian luar biasa ini terasa begitu manis lantaran mereka hanya menjalani enam kali sesi latihan mandiri di tengah kepungan rutinitas harian.
“Nilai-nilai dalam Mars Aisyiyah harus dihayati sehingga terbawa dalam penghayatan lagu. Kuncinya kompak, rileks, dan harus bahagia,” ungkap Dirigen Tim PCA Ngaliyan, Nanik Sariasih, M.Pd.
Menyisihkan Waktu Usai Mengajar
Selanjutnya, proses menyatukan belasan kepala menyimpan kisah perjuangan yang sangat menyentuh batin. Sebagian peserta sehari-hari mengabdi sebagai guru TK ABA, sementara sisanya merupakan ibu rumah tangga yang memiliki jadwal keluarga sangat padat.
Ibu-ibu hebat ini bergegas mendatangi tempat latihan pada siang hari tepat seusai mengajar anak-anak sekolah. Tanpa mengeluh, mereka rela merogoh kantong pribadi dan mengesampingkan rasa lelah demi membawa nama harum cabang tempat mereka mengabdi.
Pengurus lokasi memilih tempat latihan di titik tengah wilayah Ngaliyan agar perwakilan dari delapan ranting bisa berkumpul secara mudah. Ruang sederhana tersebut mendadak menjadi saksi bisu dari gelak tawa dan semangat berkorban para perempuan Aisyiyah.
“Teman-teman secara ikhlas mau berkorban waktu, tenaga, dan harta untuk Aisyiyah,” tutur Ketua PCA Ngaliyan, Wiwik Ruswanti, S.Pd.
Bukan Sekadar Pencapaian Angka
Sembari membawa pulang kebanggaan sebagai juara pertama, rombongan ibu-ibu ini berhasil membuktikan keutuhan rasa persaudaraan. Raihan skor 253 bukan sekadar penanda angka di atas kertas, melainkan buah dari keikhlasan niat berkhidmat bagi sesama.
Bagi para ibu, setiap lelah yang tersembunyi di balik senyuman merupakan bagian penting dari ibadah. Nada-nada indah yang mengalun merdu lahir dari kekuatan hati yang saling menopang satu sama lain.
Lalu, kisah inspiratif ibu Aisyiyah dari Ngaliyan ini menjadi pengingat hangat bahwa keterbatasan waktu tidak pernah menghentikan langkah orang-orang yang mau berjuang. Pengorbanan para perempuan ini sukses menyalakan cahaya keteladanan yang menggetarkan jiwa.
Pada akhirnya, panggung perlombaan tersebut menitipkan satu pesan moral yang sangat mendalam bagi siapa saja. Kemenangan sejati bukan saat sebuah nama dipanggil sebagai pemenang, melainkan ketika perjuangan sanggup menyatukan hati dalam kebaikan.