Meneladani Nabi Tak Hanya Lewat Doa, Ini Wujud Kesalehan Sosial dalam Islam
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Banyak umat merasa cukup beragama hanya dengan rajin menunaikan ibadah ritual. Padahal, wujud sejati kesalehan sosial dalam Islam justru menuntut kepedulian nyata terhadap sesama, bukan sekadar urusan doa pribadi.
Pesan tajam ini mengemuka dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid An Nur, Tanggul Mas, Semarang. Kajian yang berlangsung pada Selasa (1/9/2026) malam tersebut menghadirkan Ustadz Prof. Dr. H. Rozihan. Ratusan jamaah tampak hening meresapi materi yang menyentuh nurani ini.
Menggugat Ibadah Tanpa Empati Sosial
Penceramah membongkar fenomena keberagamaan modern yang sering luput dari esensi. Ia menegaskan bahwa ritual agama semestinya melahirkan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Jika shalat tidak memantik empati, praktik itu berisiko jatuh pada ciri pendusta agama Surat Al Maun.
Ibadah personal yang tulus harus membuahkan akhlak mulia dan keadilan. Terkait hal ini, Ustadz Rozihan memberikan teguran tegas bagi umat Islam.
“Keberagamaan tidak cukup hanya berhenti pada simbol dan ritual. Keseriusan seseorang dalam beragama juga tercermin dari kepeduliannya terhadap anak yatim dan orang miskin,” tegasnya.
Cara Nabi Muhammad Membela Kaum Rentan
Momentum Maulid ini juga membuka kembali lembaran sejarah kerasulan. Sang pembawa risalah tidak sekadar mengantarkan perintah ibadah dari langit. Lebih dari itu, ia meruntuhkan kasta sosial yang menindas kaum lemah pada zaman Jahiliyah.
Langkah konkret tersebut menjadi teladan abadi bagi umat manusia. Mengkaji sejarah masa lalu, kita menemukan beragam cara Nabi Muhammad membela orang miskin. Salah satunya tampak dari ketegasan sang rasul dalam menghapus praktik riba demi pemerataan kesejahteraan.
Tindakan nyata itu membuktikan bahwa agama harus hadir membebaskan manusia dari penderitaan. Menyambung konteks perjuangan tersebut, Ustadz Rozihan lantas mengaitkannya dengan pentingnya menjaga keikhlasan.
“Ketika memberikan sesuatu atau melakukan kebaikan, hendaknya tidak disertai dengan harapan mendapatkan balasan dari manusia,” ucap sang penceramah di hadapan jamaah.
Harta dan Pertanggungjawaban di Hadapan Tuhan
Menjelang akhir kajian, perbincangan beralih pada gaya hidup materialistis masa kini. Islam memang tidak pernah melarang umatnya untuk hidup mapan. Meski begitu, kecenderungan menumpuk kekayaan sering membuat manusia menjadi tamak dan kehilangan rasa peduli.
Oleh sebab itu, kesuksesan sejati tidak berpatokan pada tumpukan aset materiil semata. Ceramah Maulid Nabi yang menyentuh hati ini mengingatkan besarnya tanggung jawab sosial si kaya.
“Manusia boleh memiliki dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya, tetapi harus mampu mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah,” papar Ustadz Rozihan memecah keheningan malam.
Mengenang hari kelahiran rasul akhirnya menuntun umat pada satu kesimpulan besar. Praktik ibadah ritual hanyalah separuh jalan menuju keberhasilan agama. Mengamalkan kesalehan sosial dalam Islam lewat aksi nyata merupakan wujud cinta tertinggi kepada Sang Nabi.