Kenali Bahaya Syirik Modern di Sekitar Kita dan Cara Sederhana Menjaga Tauhid
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Ambisi mengejar harta kerap membuat manusia tanpa sadar mengesampingkan ibadah kepada Allah. Fenomena ini merupakan bentuk nyata bahaya syirik modern yang mengancam keimanan masyarakat masa kini. Oleh karena itu, umat Islam perlu memahami cara menjaga tauhid agar tidak masuk ke dalam perangkap dosa tersebut.
Menyikapi ancaman itu, puluhan warga menghadiri Pengajian Muhammadiyah Ranting Bulu Lor pada Selasa malam (1/9/2026). Kegiatan ini berlangsung khidmat di Gedung SMP Muhammadiyah 5, Semarang. Jamaah yang hadir tampak antusias menyimak materi kajian untuk membentengi diri dari pengaruh buruk duniawi.
Peringatan dari Surah Az-Zumar
Mengawali tausiyahnya, Ustadz Gunarto Muchsin selaku Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, ia mengupas tuntas kandungan Surah Az-Zumar ayat 75. Ia melukiskan pemandangan megah tentang para malaikat yang tak henti bertasbih mengelilingi ‘Arsy. “Ayat ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa segala puji hanya milik Allah SWT, dan seluruh makhluk pasti kembali kepada-Nya,” ujar Ustadz Gunarto Muchsin.
Mendeteksi Bahaya Syirik Masa Kini
Menyambung pemaparan tersebut, kajian malam itu juga menyoroti kisah inspiratif seorang Badui. Badui tersebut bertanya secara langsung kepada Rasulullah SAW tentang bekal masuk surga. Menjawab kegelisahan itu, inti ajaran Islam sebenarnya sangat sederhana, yakni komitmen umat untuk tidak menduakan Sang Pencipta.
“Jangan musyrik. Ibadah hanya kepada Allah,” tegas Ustadz Gunarto mengingatkan jamaah.
Pesan singkat tersebut berfungsi sebagai alarm peringatan bagi warga yang hadir. Tanpa sadar, manusia masa kini sering menjadikan harta dan validasi media sosial sebagai ‘berhala’ baru. Kondisi inilah yang menuntut umat Islam untuk memiliki ciri orang bertakwa agar hati tetap bersih.
Cara Menjaga Tauhid Setiap Hari
Sebagai solusi praktis, jamaah harus disiplin menjalankan rukun agama setiap hari. Menegakkan salat lima waktu mewujudkan bentuk penyerahan diri seorang Muslim yang paripurna. “Salat adalah kewajiban utama umat Islam sekaligus sarana terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT,” tambah sang penceramah.
Seiring berjalannya waktu, majelis ilmu itu bertransformasi menjadi ruang muhasabah personal. Kehadiran Ketua PCM Semarang Utara malam itu juga menguatkan jalinan ukhuwah Islamiyah. Pada akhirnya, kehidupan dunia hanyalah tempat singgah sementara untuk mengumpulkan bekal menuju akhirat kelak.